Kalangan industri menilai keputusan PT Perusahaan Gas Negara yang tetap menaikkan harga gas menunjukkan perusahaan negara itu tidak peka.

Kalangan industri menilai keputusan PT Perusahaan Gas Negara yang tetap menaikkan harga gas menunjukkan perusahaan negara itu tidak peka. Kenaikan harga jual gas sebesar 15 persen per 15 Oktober itu dikhawatirkan semakin menambah proporsi biaya tinggi bagi pelaku industri.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaja di Jakarta, Sabtu (15/10). ‘├é┬ŁKeputusan menaikkan harga gas itu menunjukkan PGN arogan. PGN tidak peduli dengan kondisi industri dan kebijakan pemerintah agar industri tidak melakukan PHK saat beban industri semakin berat,’ katanya.

Industri keramik merupakan konsumen gas terbanyak selain industri lampu, baja, dan gelas. Terhitung tanggal 15 Oktober kemarin, PGN sebagai penyalur gas menaikkan harga jual dari 3,7 dollar AS menjadi 4,5 dollar AS per MMBTU. Kenaikan tahap pertama itu akan diikuti dengan kenaikan tahap kedua yang akan dilakukan pada 1 Januari 2006.

Padahal, Departemen Perindustrian telah meminta agar kenaikan tersebut ditunda dulu. Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wahyudi mengungkapkan, pihaknya akan mendesak PT PGN untuk menunda kenaikan harga jual gas kepada industri keramik.

Pengusaha keramik bukan tidak menginginkan harga gas naik kalau memang diperlukan. Namun, kenaikannya tidak harus dilakukan sekarang ini, katanya.

Produksi keramik lantai dan dinding pascakenaikan harga bahan bakar minyak dan gas alam, jelas akan mengimbas. Pada harga jual produk keramik, yang pasti akan naik 10-20 persen.

Hadyanta Atya Kanta, Chief Operating Officer PT Platinum Ceramics Industry, mengatakan, kontribusi biaya energi dalam proses pembuatan keramik sebesar 30 persen dari total biaya produksi. Kenaikan harga gas akan menaikkan harga dasar keramik sebesar 15 persen.

Perbaiki kinerja

Menurut Achmad Widjaja, saat ini industri mulai mengurangi kapasitas produksi karena memasuki hari raya. Saat Lebaran, praktis perusahaan tutup dan kegiatan produksi dihentikan sekitar dua minggu. Akan tetapi, kenaikan pada 15 Oktober 2005, saat kegiatan produksi akan berhenti karena Lebaran, justru membebani pengusaha, katanya.

Industri keramik akan terbebani biaya minimum kontrak suplai gas yang harus dicapai. Kalangan industri menilai, sebelum menaikkan harga jual gas, PGN harus memperbaiki layanannya terlebih dahulu. Dalam pertemuan antara pengusaha dan PGN yang difasilitasi Departemen Perindustrian awal bulan ini, pengusaha meminta PGN untuk menjamin pasokan gas, menjaga kualitas tekanan gas stabil di atas 2 bar, dan tidak menaikkan biaya pengangkutan (toll fee) yang termasuk dalam komponen harga jual gas.

Pasokan tekanan gas yang tidak stabil mengakibatkan mesin industri jebol dan rusak. Selain itu, dalam proses pembuatan keramik, ketidakstabilan tekanan akan membuat keramik yang dihasilkan tidak maksimal.

Jamin pasokan

Menanggapi keluhan industri, Sekretaris Perusahaan PT PGN Widyatmiko Bapang mengatakan, sebagai perusahaan yang menjembatani produsen gas dengan pengguna gas, PGN harus menjaga keseimbangan pasar.

Saat ini posisinya, suplai dari produsen gas belum memadai, sedangkan permintaan yang ada belum terpenuhi dan kami perkirakan terus meningkat tajam. Kenaikan harga secara wajar perlu dilakukan untuk memacu peningkatan suplai dari para kontraktor penghasil gas, ujarnya.

Apabila harga jual gas tidak dinaikkan, produsen gas semakin enggan menambah suplai di dalam negeri. Itulah tugas PGN, kami harus terus-menerus mengupayakan tambahan suplai untuk kepentingan pelanggan di masa depan, katanya.

Sumber : www.kompas.com