PT PLN (persero) diminta menghitung biaya pokok penjualan (BPP) listrik sebelum menaikkan tarif dasar listrik (TDL).

PT PLN (persero) diminta menghitung biaya pokok penjualan (BPP) listrik sebelum menaikkan tarif dasar listrik (TDL). Alasannya, tahun depan PLN mulai menggunakan bahan bakar non-BBM sehingga harga listrik bisa lebih murah.

Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro sebelum mengikuti rapat tertutup dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/10/2005).

‘PLN kasih tahu saya dulu sebagai menteri. Soalnya tahun depan akan masuk bahan baku non-BBM sehingga menurunkan BPP. Kalau memang nggak turun, berapa hitung-hitungannya mesti jelas semua,’ tegas Purnomo.

Bahan bakar non-BBM yang akan mulai dipakai PLN tahun depan adalah batubara dan gas. ‘Tahun depan sudah masuk batubara di Cilacap dan Tanjung Jati B, Lalu di Cilegon bahan bakunya gas. Ini tentu akan mengurangi BPP. Nah itu harus dihitung dulu,’ ujar Purnomo.

Ia menilai, tidak mudah bagi PLN begitu saja menaikkan TDL karena banyak pertimbangan, antara lain beragamnya jenis pelanggan. ‘Karena di PLN juga ada pelanggan I3, I4 yang harganya cukup tinggi. Begitu juga ada pelanggan rumah tangga yang di atas 450 KVA ini, juga mesti dihitung,’ kata Purnomo.

Mengenai subsidi listrik sebesar Rp 17 triliun yang diusulkan PLN, Purnomo mengaku hingga kini masih belum diputuskan, ‘Kita kan masih hitung-hitungan, apakah dari Rp 17 triliun itu, berapa subsidi yang dibutuhkan, dan berapa yang harus diberikan untuk pemerintah, dan apakah semua ditanggung pemerintah,’ tutur Purnomo.

Sumber : www.detikfinance.com