Raksasa minyak global Royal Dutch Shell mengatakan akan meningkatkan investasinya secara signifikan di sektor upstream Timur Tengah meyusul penandatanganan landmark business agreements di Abu Dhabi, Qatar, Oman dan Libya.

DUBAI — Raksasa minyak global Royal Dutch Shell mengatakan akan meningkatkan investasinya secara signifikan di sektor upstream Timur Tengah meyusul penandatanganan persetujuan bisnis landmark (landmark business agreements) di Abu Dhabi, Qatar, Oman dan Libya.

‘Selama lima tahun terakhir, Shell Upstream telah menginvestasikan $ 2 milyar di wilayah itu, dan akan ditingkatkan secara signifikan,’ kata Raoul Restucci, Executive Vice-President untuk Shell Exploration & Production di Timur Tengah dan CIS.

Pada bulan Februari, Shell menyatakan akan menginvestasikan $ 12 milyar di wilayah Teluk selama delapan tahun ke depan, sebagai tambahan dari $ 2.6 milyar yang telah diinvestasikannya selama lima tahun terakhir di berbagai proyek migas.

Ron van der Berg, CEO regional, eksplorasi dan produksi Shell, menyatakan investasi baru dibawah komitmen jangka panjang Shell terhadap wilayah tersebut.

‘Kami memiliki janji akan pembangunan kerjasama jangka panjang dengan pemerintah dan perusahaan minyaknya di wilayah ini. Kami sadar akan tanggung jawab kami kepada negara dan komunitas tempat kami beroperasi, dan kami berjanji akan memaksimalkan tenaga kerja, meningkatkan kemakmuran dan transfer teknologi dari semua proyek kami,’ katanya.

Menggarisbawahi posisi Shell di wilayah tersebut, Restucci, yang mengambil peran baru ini pada bulan Mei, mengatakan raksasa minyak ini menginvestasikan lebih dari $ 10 milyar di proyek upstreamnya di seluruh dunia pada tahun 2004, dan akan menandatangani MoU dengan perusahaan Mubadala Development yang berpusat di Abu Dhabi untuk mencari kesempatan kerjasama di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Dibawah MoU yang ditandatangani pada bulan Juni tahun ini, area kerjasama akan meliputi pembangunan ekonomi dari sumber hidrokarbon yang baru dan litbang solusi energi yang berkelanjutan secara ekonomis dan ramah lingkungan.

‘Tahun lalu telah terjadi peningkatan substantif dalam landmark business agreement kami. Sesungguhnya, Shell menanti proyek LNG dan chemical di Qatar (menambah proyek GTL Pearl berskala dunia yang sedang didirikan disana), yang terintegrasi dengan masalah gas di Libya dan pembaruan konsesi 40 tahun di Oman.’

Dalam sektor downstream, Shell telah melakukan ekspansi kerjasama regional melalui penandatangan MoU dengan Kuwait Petroleum International Limited dan peningkatan kerjasama panjang dengan Saudi Aramco, katanya dalam issu terakhir ‘Shell in the Middle East.’

Tahun lalu, Shell, yang menguasai 3% minyak dunia dan 3.5% gas alam dunia, mencatat pendapatan netto tertinggi dalam sejarah — $ 18.2 milyar, naik 48% dari tahun 2003 akibat peningkatan harga minyak dan gas alam, volume LNG yang lebih tinggi, sebagaimana marjin pengilangan yang lebih tinggi dan keuntungan perdagangan dalam produk minyak.

Volume dan marjin yang lebih tinggi dalam chemical juga ikut memberi kontribusi. Secara global, investasinya di tahun 2004 sebanyak $ 14.9 milyar meningkat dari $ 14.3 milyar, dan sebanyak $ 10 milyar diantaranya diperoleh dari bisnis upstream.

Menurut perkiraan Shell, akan diproduksi antara 3.5 dan 3.8 juta barrel of oil equivalent (boe) per hari pada tahun 2005-06, dan antara 3,8 dan 4 juta boe per hari pada 2009.

Restucci mengatakan peningkatan lebih lanjut yang dilakukan pada proyek gas tahun ini meliputi extensive seismic dan survey lain yang dilaksanakan di Saudi Arabia untuk perusahaan South Rub-Al Khali, sebuah kerjasama joint venture antara Shell/Saudi Aramco/Total untuk LNG Persia di Iran, dan kerjasama dengan perusahaan Tharwa Petroleum, yeng menyediakan akses konsesi di Gurun Barat Mesir.

‘Di Syria, kami terus berinvestasi secara joint venture dengan perusahaan Al Furat Petroleum, dan di Mesir akmi mendirikan komersialitas untuk konsesi Laut Dalam Mediterania Timur Laut.’

Persetujuan dengan Libya NOC untuk kerjasama strategis jangka panjang dalam industri migas upstream. Persetujuan ini bisa mengarah pada pembangunan proyek ekspor LNG dan upstream yang terintegrasi di Libya.

Di Mesir, dimana Shell bekerjasama dengan perusahaan Badr El Din Petroleum, yang mempunyai saham di beberapa bisnis distribusi gas dan juga memiliki jaringan 56 petrol retail di seluruh negeri.

Bidang minyak juga telah melaksanakan dua proyek — studi feasibility pada reservoir dan master plan gas — untuk Kementrian Perminyakan Iraq. Menekankan bahwa Timur Tengah merupakan area pertumbuhan kunci bagi Shell, Restucci mengatakan operasi disini akan memberi keuntungan bagi strategi produksi dan eksplorasi gobal Shell.

‘Elemen kunci strategi global ini adalah streamline dan meningkatkan portofolio melalui divestasi dan akuisisi, untuk meningkatkan investasi dan untuk terus meningkatkan unjuk kerja dan penempatan strategis, untuk Shell dan semua rekan kami,’ katanya.

‘Shell mengambil pandangan jangka panjang di Timur Tengah, dan kami terus belajar dari sejarah dan dari pengalaman yang sangat berharga dengan semuarekan kami di wilayah ini,’ katanya lebih menegaskan.

Grup Shell, yang bergabung pada bulan Juli menjadi Royal Dutch Shell pl, akan memastikan potensi pertumbuhan dengan mencari atau mengakses volume materi hidrokarbon. Hal ini juga berarti mengambil sumber baru, dengan metode yang tidak konvensional, dan mengembangkan proyek gas yang lebih terintegrasi dengan produksi dan eksplorasi, dan gas dan tenaga bekerja sebagai satu kesatuan.

‘Kami akan terus membawa pengalaman operasi global kami, teknologi ekstensif, dan kemampuan untuk mengirim proyek terintegrasi bersakala besar untuk berekerja lebih efektif dengan pemerintah setempat dan perusahaan minyak nasional,’ kata Restucci.(YS)

Sumber : www.khaleejtimes.com