Indonesia telah memerintahkan proyek perpipaan gas alam yang menghubungkan Kalimantan Timur dan Jawa harus diumumkan ke tender publik.

Indonesia telah memerintahkan proyek perpipaan gas alam yang menghubungkan Kalimantan Timur dan Jawa harus diumumkan ke tender publik dan bukan dilakukan lembaga pemerintah yang didukung lembaga perminyakan China.

Perintah dari Aburizal Bakrie, Menko bidang ekonomi, mengatakan tender akan dilaksanakan oleh Downstream Oil and Gas Regulatory Agency (BPH Migas) dibawah pengawasan Kepala BPH Migas, Tubagus Haryono.

Menteri Energi, Purnomo Yugiantoro, mengatakan kementrian juga akan memberikan rekomendasi berdasarkan studi kelayakan perpipaan. Studi yang dilaksanakan oleh BPH Migas, diharapkan selesai pada akhir tahun ini.

Perintah Bakrie tampaknya kebalikan dari pemerintah sebelumnya yang dibuat dengan distributor gas PT Perusahaan Gas Negara (PGN), yang berencana untuk mengambil proyek ini dengan bekerja sama dengan China National Offshore Oil Corp. (CNOOC).

Pada akhir Agustus, segera setelah rencana perpipaan diumumkan, PGN menandatangani MoU dengan CNOOC disaksikan oleh wakil presiden Jusuf Kalla untuk membangun perpipaan tersebut. PGN mengatakan rekannya siap untuk mendanai proyek senilai $ 1,2 milyar tersebut.

Telah terjadi perdebatan yang panas di Indonesia selama dua bulan terakhir tentang apakah proyek akan ditenderkan atau diberikan langsung ke PGN.

Kritik juga telah memaksa pemerintah untuk memikirkan kembali apakah perpipaan merupakan jalan terbaik untuk membawa gas dari lapangan yang tua di Kalimantan ke Jawa. Terminal LNG terbukti merupakan pilihan yang lebih baik, katanya, karena jika gas alam di Kalimantan habis, terminal tetap dapat menerima pasokan dari area lain.

Terminal penerimaan juga sesuai dengan proyek PT Perusahaan Listrik Negara, yang berencana untuk membangun terminal LNG di Jawa Barat dengan start up mulai 2009.

Indonesia mengumumkan rencana Agustus untuk membangun perpipaan sejauh 1.200 km dari lapangan gas alam di Kalimantan Timur ke Jawa dengan biaya $ 1,2 milyar (OGJ Online, Aug. 24, 2005).(YS)

Sumber : ogj.pennnet.com