Indonesia diharapkan mengurangi ekspor LNG sebesar 10% karena terjadi penurunan produksi di lapangan gas di Kalimantan dan Aceh.

Indonesia diharapkan mengurangi ekspor LNG sebesar 10% karena terjadi penurunan produksi di lapangan gas yang tua di Kalimantan dan Aceh, menurut Eddy Purwanto, deputi pemasaran dan keuangan untuk Upstream Oil and Gas Regulatory Agency (BP Migas).

Hal ini merupakan yang kedua dalam tahun ini dimana ASEAN mengumumkan penurunan pengiriman. Februari lalu, reputasi Indonesia sebagai pemasok LNG yang dapat diandalkan menjadi petanyaan karena adanya gangguan dalam pemasokan, walaupun sedang mencari cara untuk meningkatkan produksinya (OGJ, Feb. 14, 2005, p. 29).

‘Para pelanggan meminta lebih banyak pengiriman, tapi kami tidak mampu memenuhinya,’ kata Purwanto pada 22 Oktober. ‘Kami melihat penurunan yang cukup signifikan (dalam pasokan gas), sementara cadangan yang baru ditemukan tidak sebesar yang diharapkan sebelumnya.’

Katanya Indonesia mungkin hanya bisa menawarkan LNG sebanyak 6 juta ton/tahun — setengah dari kontrak — ke Jepang setelah kontraknya habis pada tahun 2010.

Sementara, kata Purwanto, pembeli di Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang telah menyepakati untuk menurunkan pasokan dari plant Bontang di Kalimantan Timur sebanyak 30 pengiriman — sama dengan 1,8 juta ton LNG — dari 370 pengiriman yang dipesan.

Dia juga mengatakan Indonesia mencari ‘penyesuaian’ atas sembilan pengiriman — dengan total 580.000 ton LNG — dari 75 pengiriman yang diminta dari plant di Arun, Nanggroe Aceh Darussalam.

Bahkan dengan volume yang menurun, kata Purwanto, Indonesia mungkin kekurangan 5-8 pengiriman untuk memenuhi pesanan yang tersisa.

Arun dipasok oleh ExxonMobil Oil Indonesia, yang mengoperasikan lapangan gas di Aceh. PT Badak NGL di Bontang menerima gas dari Unocal Corp., Vico, dan Total SA.

Pemerintah telah berusaha untuk menurunkan atau menjadwalkan kembali ekspor LNG, khususnya karena pabrik pupuk di Aceh telah terpaksa shut down karena kekurangan gas alam.(YS)

Sumber : ogj.pennnet.com