Minyak sangat berarti dalam membawa harapan dan uang untuk kota nelayan yang sepi di Kamerun itu, tapi penduduk Kribi berkata mereka tidak merasakannya.

Minyak sangat berarti dalam membawa harapan dan uang untuk kota nelayan yang sepi di Kamerun itu, tapi penduduk Kribi berkata mereka tidak merasakannya.

Ujung pipa sepanjang 1.070-km (665-mil) yang membawa minyak dari Chad ke Kamerun, Kribi, penuh dengan harapan bahwa kekayaan akan datang dari $ 4 milyar venture — salah satu proyek infrastruktur terbesar Afrika.

Selain itu, nelayan Kribi mengatakan terumbu karang telah dihancurkan selama konstruksi fasilitas offshore tiga tahun lalu dan telah membahayakan kehidupannya. Keluhan terus terdengar dari masyarakat yang tinggal sepanjang rute pipa Doba.

‘Orang-orang ini hanya peduli pada pipa mereka saja dan uang yang akan mereka peroleh, mereka hanya sedikit peduli pada kami,’ kata Agathe Mbedi, penjual ikan di pasar Kribi.

‘Mereka menghancurkan terumbu karang tempat ikan berkembang biak. Mereka berjanji akan menggantinya, tapi tidak melakukan apapun. Kami sekarang hanya mendapat sedikit penghasilan, anak-anak kami putus sekolah dan kami terancam kelaparan.’

Bank Dunia, yang mendanai venture tersebut, membantu membuat unprecedented safeguards untuk menangani perolehan pipa, yang dioperasikan oleh konsorsium yang dipimpin AS dan menjanjikan pendapatan sebanyak $ 500 juta untuk Kamerun.

Venture, yang dipimpin oleh Exxon Mobil Corp. , telah dilihat oleh beberapa aktifis HAM sebagai uji kasus apakah petrodolar dapat menyelesaikan masalah kemiskinan di Afrika daripada konflik bahan bakar dan korupsi.

Tapi kritik telah terjadi. Ahli kampanye HAM lokal mengatakan kekayaan baru hanya memperkaya perusahaan asing dan elit politik di salah satu wilayah termiskin dunia ini.

‘Gambaran Keputusasaan’

Beberapa negara sepanjang pantai Afrika Barat berharap menemukan minyak dan uang dalam permintaan dunia akan sumber minyak mentah sebagai tambahan Timur Tengah.

AS mengharapkan 1/4 dari impor minyaknya dalam satu dekade berasal dari Afrika Barat, meningkat dari 14%.

Tapi menggilas kemiskinan di produsen minyak seperti Nigeria dan Equatorial Guinea menunjukkan bahwa petrodolar sering tidak menyebabkan perubahan hidup masyarakat lokal ke arah yang lebih baik — dan pengalaman Kribi menunjukkan bahwa minyak bahkan memperburuk kehidupan.

Oscar Ada menunjuk kolam selebar 7-meter di kebunnya di desa Ekabita-Mendum dekat Yaounde.

‘Awalnya kami tidak mempunyai danau disini,’ katanya. ‘Tapi (perusahaan transportasi Minyak Kamerun) COTCO datang dan membangun pipa dan membiarkan gunung tak berpohon sehingga menyebabkan air hujan langsung mengalir ke halaman saya.’

Katanya nyamuk yang terus merajalela menyebabkan keluarganya tidak bisa tidur tenang dan air merusak 50 pohon kakao miliknya.

Yang dulunya tumbuh tanaman hijau, kini tinggal tanaman layu coklat-keabuan. Buah kakao mengering atau membusuk.

Pipa ini mulai mengalirkan minyak tahun 2003. Produksi rata-rata sekitar 180.000 barel minyak mentah perhari pada pertengahan 2005, menurut situs proyek tersebut.

Organisasi HAM dan lingkungan Kamerun mengatakan telah mendokumentasikan sekitar 400 kasus dimana masyarakat yang terkena dampak dari proyek tersebut belum memperoleh kompensasi yang mencukupi.

Amnesty International telah mengatakan pipa tersebut telah mengesampingkan keselamatan manusia yang tinggal disekitarnya.

Tanaman kakao suami Celestine Mbouma rusak ketika pipa itu dibangun, menurunkan produksi dari 20 kantong menjadi tiga pertahun. Mbouma, seorang ibu dari 12 orang anak, khawatir tidak akan bisa menyekolahkan anak-anaknya.

‘Saya bertekad melakukan apapun untuk memastikan anak-anak saya mendapat pendidikan yang baik … Tapi … sekarang, saya tidak tahu apakah mereka harus meninggalkan sekolah … Tolong, bilang pada mereka untuk melakukan sesuatu atau kami semua akan mati,’ katanya.

Di desa Mbouma, sumber air yang hancur ketika pembangunan pipa belum diganti. Penduduk mengatakan airnya terkontaminasi dan orang-orang jatuh sakit, sementara butuh 8 km (5 mil) untuk memperoleh air bersih.

‘Masyarakat telah membayar dengan harga yang mahal karena pipa lewat di dekat rumah dan kebunnya,’ kata Korinna Horta, ekonom lingkungan senior di organisasi non-pemerintah AS, Environmental Defense.

‘Apa yang saya lihat merupakan gambaran keputusasaan dan ketidakadilan yang amat sangat telah dirasakan masyarakat lokal.’

Menginginkan Kompensasi

Bissabidang, petani berumur 69 tahun dari wilayah Makoure di bagian selatan Kamerun, mengatakan ia hanya menerima 350.000 CFA francs ($ 630) untuk tanaman eboninya yang tumbang — yang dinilai oleh badan kehutanan lokal sebesar 8,5 juta CFA ($ 15,000).

‘Karena kompensasi ini, keluarga saya telah menderita akibat proyek pipa ini untuk beberapa tahun mendatang.’

COTCO telah menjanjikan kompensasi untuk terumbu karang Kribi yang rusak tapi nelayan di pantai Bwambe mengatakan hanya 70 jaring yang disediakan untuk 2.000 nelayan. Mereka harus pergi lebih jauh sekarang sementara kano kecil dan jaring-jaringnya tidak dapat menahan gelombang besar.

Di Chad, pemerintah telah merencanakan merubah peraturan yang dimaksudkan untuk menjaga keuntungan minyak untuk generasi mendatang, walaupun keberatan dari Bank Dunia telah mengancam untuk menarik investasi dan menahan pinjaman untuk Chad.

Samuel Nguifoo, kepala Centre for Environment and Development Kamerun, mengatakan pipa tersebut telah membuktikan kegagalan.

‘Daripada keuntungan dan kepuasan, proyek pipa Chad-Kamerun telah membawa air mata daripada senyuman,’ katanya.(YS)

Sumber : www.alertnet.org