Rangkuman Mailing List Migas Indonesia tentang Energi Alternatif bulan Oktober 2005 ini membahas tentang Energy Saver.

Banyak alat disebut-sebut sebagai penghemat energi namun kenyataanya hanya ‘mengakali’ cara kerja meteran. Benarkan demikian?

Metering yang dipasang PLN pada pelanggan (selain rumah tangga) adalah KVARh dan KWHr dimana untuk KWHr sendiri terdiri atas LWBP (Luar Waktu Beban Puncak) dan WBP (Waktu Beban Puncak jam 18.00-22.00).

Sebagai mana kita tahu sumber listrik AC mengeluarkan energi dalam bentuk aktif (dinyatakan dalam KW) dan reaktif (dinyatakan dalam KVAR), dimana kedua energi diatas membentuk daya total yang disebut daya nyata (dinyatakan dlm KVA). Daya nyata ini merupakan penjumlahan vektor KW dan KVAR.

Formula KVA = sqrt (KW^2+KVAR^2) dimana KW=Tegangan Volt x Arus Ampere x faktor daya Cos phi x V3 (untuk 3 phase), sedang faktor daya cos phi merupakan perbandingan KW dengan KVA.

Sebuah instalasi listrik akan optimum baik dari segi teknis maupun ekonomis bila faktor daya mendekati 1. Sebagai tambahan PLN akan mendenda kita bila faktor daya rata-rata bulanan kurang dari 0.85, yang akan terjadi bila total KVARh > 0.62 x KWHr.

Untuk memperbaiki faktor daya maka salah satunya dipakailah kapasitor. Cara yang paling sederhana adalah dengan memakai capasitor bank sebagai kompensasi energi reaktif.

Dari hal tersebut diatas, maka kita bisa berhemat dalam biaya dan sekaligus menghemat energi.

Namun, pertanyaannya adalah apakah benar alat-alat tersebut bisa menghemat pengeluaran bulanan bagi pemakai rumah tangga?

Setiap pengguna daya pada meteran listrik mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga memerlukan design yang berbeda.

Uji gampangnya adalah: dengan menggunakan lampu TL 40watt dan dengan memakai ampere meter serta Power Saver (PS) disedikan stopcontact untuk menguji pemakaian setelah dan sebelum.

Pada saat pemakaian 2 lampu TL 40 watt, ampere meter menunjukan lebih dari 1.5 ampere, dan setelah pemasangan PS terjadi penurunan arus yang kurang dari 1 ampere.

Logisnya adalah: 2 lampu TL dengan daya 40 watt seharusnya adalah 80 watt

Kalau menurut brosurnya adalah: dengan lampu TL (menggunakan kumparan) terjadi Induksi sehingga ampere meter menambah induksi tersebut, dan setelah pemakainan PS induksi tersebut dikembalikan/minimalkan sehingga apa yang terpakai itulah yang terbaca.

Selelah dibuktikan memang benar bahwa terjadi penyusutan pembayaran sekitar 40% dari biasaya selama pemasangan tepat yaitu PS dipasang didepan setelah meteran sehingga seluruh Induksi dalam rumah tangga bisa diserap oleh PS tersebut.

Teknologi ini sebenarnya telah dikembangkan oleh Jerman dan biasanya dipakai didalam industri, karena memang industri banyak menyumbankan induksi pada pemakaiannya.

Dalam banyak kasus industri yang telah menggunakan (dengan design yang berbeda dari setiap industri karena penggunaan alat tsb) dan terjadi penghematan 40 – 60 % untuk pembacaan meter listrik. Dan hal ini berkembang untuk pemakaian rumah tangga. Prinsipnya Kita membayar apa yang kita pakai…