Select Page

Rangkuman Mailing List Migas Indonesia tentang Ekonomi Migas untuk bulan Oktober 2005 ini membahas tentang kenaikan harga BBM yang diakibatkan oleh tekanan perusahaan minyak multinasional.

Dengan banyaknya SPBU asing yang akan dibangun di negeri ini, benarkah memacu naiknya harga BBM?

Harga produk asing yang lebih murah tentunya akan mendorong pembeli untuk membeli produk non Pertamina. Apalagi untuk kalangan misalnya mahasiswa, mereka tentu akan memilih produk yang lebih murah, tentunya dengan kualitas yang sama atau hampir sama

Negara kita memang anggota OPEC yang notabene adalah Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak, tapi semenjak jadi Net Importer maka sepertinya sudah tidak cukup layak lagi untuk menjadi Anggota OPEC. Namun OPEC tidak bisa begitu saja mengeluarkan anggotanya, karena dulunya Indonesia memang sempat booming dengan produksi minyaknya, sehingga negara kita masih tercatat dalam keanggotaan OPEC dan selama ini pun Indonesia belum pernah melebihi kuota produksi yang yang dilimitasi oleh OPEC.

Jadi mungkin lebih realistis bila perbandingan harga BBM sekarang dibandingkan dengan negara-negara yang mengimpor minyak, bukan negara pengekspor minyak lagi.

Naiknya harga BBM kita tidak lain adalah tekanan dari perusahaan minyak multinasional (melalui IMF, World Bank, dll) yang ingin masuk ke pasar hilir indonesia (menjual eceran minyaknya di indonesia, membuat SPBU).

Dengan harga ‘subsidi’ dari Pertamina, perusahaan multinasional ini tidak akan bisa bersaing. Dengan dihilangkannya subsidi, harga BBM mereka akan bisa bersaing dengan harga Pertamina, mungkin lebih mahal sedikit.

Teori di atas akan terbukti benar bila nanti dalam waktu beberapa bulan lagi akan ada SPBU-SPBU non Pertamina di Indonesia… dengan harga eceran BBM mirip harga pemerintah…

Kenaikan tarif BBM, khususnya premium dan solar bisa saja dimaklumi oleh masyarakat. Catatan khusus untuk minyak tanah, yang konsumen terbesarnya adalah kalangan menengah kebawah.

Mengapa? Satu, karena dengan subsidi itu artinya pemerintah harus mencari uang untuk membayar subsidi. Dua, dengan masuknya pemain asing/swasta, memunculkan persaingan antara pertamina dengan swasta (lokal/asing). Jadi, dengan persaingan ini, PERTAMINA akan di buat menjadi ‘lincah’ bermain. Kalau tidak, bisa ‘habis’ digilas oleh pemain swasta. Bisa jadi, harga bensin lebih murah, atau paling tidak, meteran SPBUnya tidak ‘ngaco‘. Tiga, negara-negara lain yang income per capita nya kurang lebih sama dengan Indonesia, harga BBMnya juga mahal. Kalau mereka bisa hidup dengan BBM mahal, kenapa kita tidak?

Satu catatan khusus adalah, mengapa harga minyak tanah, yang dari dulu tidak pernah diusik, malah mengalami kenaikan paling gila-gilaan. Ini, nampaknya harus dijustifikasi oleh pemerintah. Sebab, konsumen terbesar minyak tanah, adalah kalangan domestik, dan bukan industri, sehingga, pemberian subsidi (yang besar) atas minyak tanah (seharusnya) masih dapat dimengerti.

Memang direncanakan pasar BBM akan dibuka sehingga tidak lagi dimonopoli utk Pertamina. Tapi jangan diartikan bahwa situasi ini akan merugikan Pertamina, karena selama melakukan PSO untuk menyediakan BBM bagi seluruh rakyat dengan harga murah, Pertamina sudah ‘cukup menderita’.

Sangat baik bila ada persaingan pemasok BBM di negara ini, sehingga PERTAMINA yang selama ini merasa juara di negaranya sendiri akan belajar bersaing secara sehat dengan pemasok-pemasok tersebut. Dan sebenarnya PERTAMINA itu sehat apabila diisi dengan orang-orang yang kompeten dan disiplin serta berakhlak baik.

Perencanaan dibukanya pasar BBM sebenarnya bukanlah ancaman, namun nasionalisme kita harus dikuatkan, agar produk lokal bisa minimal dikonsumsi oleh orang kita. Adakah sekolah-sekolah, kampus-kampus menanamkan kecintaan terhadap produk dalam negeri?

Sehingga kelak bila muncul BBM yang berlabel selain PERTAMINA, tinggal kita luruskan saja setir mobil kita dan kita belokkan ke tempat pengisian BBM yang berlebel PERTAMINA.

Tugas ini tidak hanya dibebankan ke masyarakat sebagai pengguna produk Pertamina, tetapi juga harus dilakukan oleh Pertamina. Nasionalisme yang dibangun tidak harus sempit. Pertamina harus tertantang membenahi lini produknya, menancapkan image yang kuat, bahwa produk Pertamina memiliki nilai yang lebih. Bukan hanya harga murah, tapi kualitas haruslah prima.

Tentu, para pengguna kendaraan bermotor ingin dapat BBM bermutu tinggi dengan harga yang pantas. Tidak ada lagi kasus kecurangan meteran, nilai OCTANE/CETANE dibawah standard, kandungan partikel melebihi ambang, atau kadar air yang kelewat tinggi. Pertamina, haruslah bekerja keras memantau lini salesnya.

Agar, nasionalisme yang terbentuk, tidaklah SEMPIT. Dan, Pertamina bisa menjadi GLOBAL PLAYER yang mumpuni.

Selama ini PERTAMINA bagaikan kuda yang sangat tambun, akibatnya tidak bisa berpacu dengan gesit. Mudah-mudahan cambuk yang berupa persaingan sehat akan membuat PERTAMINA dapat berlari kencang dan gesit. Bagaikan raksaksa tidur (ketiduran), mudah-mudahan matanya udah terbelalak melihat perkembangan industri yang semakin pesat…

Semoga BPH MIGAS bisa menjadi regulator yang bijak dan sehat dalam mengatur pembukaan industri hilir ini, bukan hanya di sektor BBM tapi juga gas bumi.

Perlu diingat bahwa calon pelaku usaha sektor hilir bukan saja perusahaan asing namun banyak juga perusahaan lokal. Untuk itu, tetap ada persaingan usaha dari pemain dalam negeri. Dengan demikian masing2 akan berkompetisi memberikan layanan yang terbaik kepada Konsumen. Tunggu saja tanggal mainnya.

Kalau ingin mengukur seberapa kompetitif Pertamina nanti, mungkin kita bisa prediksikan dari performanya menjual oli… Iklan di tv banyak didominasi oli lain (Top-1, Castrol, Syntium, dll). Di dunia per-olian indonesia pertamina juga sudah diproteksi oleh pemerintah dengan larangan beredarnya produk oli non-sintetik dari perusahaan kompetitor pertamina.. Seharusnya pertamina sudah merajai dunia per-olian di negeri ini. Tapi nyatanya?…

Share This