Select Page

Rangkuman Mailing List Migas Indonesia tentang Pipeline untuk bulan Oktober 2005 ini membahas tentang penggunaan las yang lebih sering daripada ulir dalam hal penyambungan pipeline.

Mengapa pada semua sambungan pipeline dibuat dengan Las ? Mengapa tidak memakai ulir (drat) saja ? Pertimbangannya apa sehingga harus menggunakan Las?

Ada beberapa alasan mengapa installasi pipeline tidak menggunakan sambungan ulir tapi las.

  1. Sambungan las tentunya lebih kuat dari pada sambungan ulir, karena kekuatan las minimal sama dengan logam induk, sehingga rentan terhadap leaking.
  2. Pada proses installasi pipeline pasti ada proses tie-in (misal tie-in pipeline antara deep water section dengan shallow water section). Proses tie-in akan sangat susah dilakukan kalau dengan sambungan ulir.
  3. Sambungan dengan ulir akan susah diperbaiki jika terjadi kebocoran. Terpaksa pipa akan dipotong (dengan las) dan disambung (tie-in) lagi tentunya juga dengan las karena seperti pada point 2, proses tie-in akan susah jika menggunakan sambungan ulir.

Bisa dibayangkan kalau yang menggunakan ulir itu pipa >6′, akan besar sekali pipe wrench-nya. Lalu bagaimana cara mengengkolnya, kunci pipanya saja sudah berat sekali. Apalagi kalau pipanya 20′, 42′, atau lebih besar lagi. Belum lagi masalah ‘alignment’ (agar waktu memutar pipanya tidak terlalu berat), maka ulir harus dipasang lurus sumbu-sumbunya. Hal ini juga menjadi kesulitan tersendiri saat pemasangan, karena pipa (pipeline) dipasangnya 99.999% dalam keadaan terlentang.

Kalau pipa-pipa untuk drilling, memang diulir, karena waktu memasangnya berdiri, dan ini relatif lebih mudah menyenterkan sumbunya. Pun, semakin diputar semakin kencang (tight) sambungan ulirnya.

Selain itu juga karena koneksi piping dengan ulir hanya untuk tekanan yang rendah dan juga hanya untuk cairan yang non-hazardous. Kalau untuk tekanan tinggi dan hazardous-liquid harus pakai welding. Hal ini disebabkan NPT connection rentan terhadap kebocoran bila high-pressure. Baik Welding piping dan NPT piping harus mengacu pada ISO & ASTM.

Sedikit jawaban yang memuaskan, diperoleh dari buku Subsea Pipeline Engineering karangan Andrew Palmer. Kutipan dari buku itu, alasan utamanya adalah konservatisme dari pipeline engineer. Risk dari korosi dan sensitivitas dari ada ribuan joint dalam satu pipeline.

Kalau welded connection sendiri, kita bisa tes integrity begitu welding selesai sedangkan untuk drat connection, tes secara langsungnya belum diketahui.

Dari segi installasi, drat connection cenderung untuk menerima gaya axial, sedangkan waktu kita me-lay, maka bending akan menjadi gaya yang utama.

Yang pasti, ada beberapa project pipeline yang telah menggunakan sistem drat ini, misalnya project BP Harding.

Share This