Harga minyak steady dibawah $US 66 per barrel hari ini setelah cuaca hangat di US dan kenaikan cadangan bahan bakar membalikkan kenaikan yang disebabkan ancaman ekspor Nigeria.

Harga minyak steady dibawah $US 66 per barrel hari ini setelah cuaca hangat di US dan kenaikan cadangan bahan bakar membalikkan kenaikan yang disebabkan ancaman ekspor Nigeria.

Minyak mentah US naik $US 7c menjadi $US 65.80 per barrel dalam perdagangan elektronik.

Minyak mendekati nilai tertinggi dalam empat bulan, $ 66.93 per barrel, setelah penurunan hampir $US 9 dalam tiga minggu, tapi ditutup $US 58c lebih rendah.

London Brent diperdagangkan hingga $US 28c pada $64.47 per barrel.

Dealer mengambil keuntungan dengan adanya data inventori minyak mingguan US menunjukkan kenaikan pasokan bahan bakar, untuk saat ini kekecewaan atas perhatian geopolitik yang telah mendorong pasar untuk naik hingga $US 70.85 per barrel. Inventori heating oil US dan distilat lain minggu lalu naik 2,3 juta barrels karena penurunan permintaan, menurut poll analis Reuters.

Cadangan gasolin naik 1,9 juta barrels, dengan cadangan minyak mentah turun 400.000 barrels.

Energy Information Administration akan mengeluarkan survey cadangan bahan bakar US pada 1530 GMT.

Cadangan heating fuel, sudah diatas level rata-rata, telah naik karena cuaca hangat menurunkan permintaan.

Tapi temperatur sejuk yang dinikmati US sejak Natal akan berakhir pada bulan Februari, dan akan menjadi lebih dingin, berdasarkan prakiraan cuaca terakhir MDA EarthSat.

Cadangan yang besar dan cuaca hangat meredakan berita ancaman pemberontak Nigeria yang akan menyerang semua perusahaan asing.

‘Dalam pandangan kami, resiko geopolitik menentukan pasar minyak saat ini,’ menurut Francisco Blanch, ahli strategi komoditas di Merrill Lynch.

‘Seharusnya pertentangan nuklir Iran atau kekhawatiran di Nigeria menyebabkan gangguan pasokan minyak mentah, kami yakin spekulasi bisa meningkat, memberi tekanan akan … harga.’

Gerakan pemberontak Movement for the Emancipation of the Niger Delta telah memaksa Royal Dutch Shell untuk menghentikan produksi 226.000 barrels per hari, sekitar 10% output nasional dari eksportir terbesar kedelapan dunia itu.

Dan katanya telah memperluas serangannya ke Agip dan Total. Tapi, kedua perusahaan itu menyangkalnya.

Perhatian akan output Nigeria telah membingungkan pasar yang sudah waspada akan Iran, yang bertentangan dangan Barat atas program nuklirnya telah meningkatkan pertanyaan akan keamanan pasokan.

Kekuatan Uni Eropa dan US diharapkan mendorong Teheran untuk dilaporkan ke DK PBB.

Sanksi blanket, seperti embargo minyak, telah terpikirkan, tapi Iran telah menggunakan pengaruh minyaknya.

Dalam kekhawatiran, dealers menghibur diri dengan berita bahwa pipa ekspor Iraq ke Turkey – yang telah ditutup karena sabotase sejak invasi US – telah mengalirkan kembali minyak sekitar 200.000 bpd.

Sumber : www.sundaytimes.news.com.au