Kelompok pemberontak di timur laut India telah melakukan serangkaian pengeboman, pembunuhan dua polisi dan peledakan pipa minyak

Kelompok pemberontak di timur laut India telah melakukan serangkaian pengeboman, pembunuhan dua polisi dan peledakan pipa minyak, menurut polisi.

Gerilya dari United Liberation Front of Asom (ULFA) berada dibalik penyerangan Minggu yang terjadi empat hari sebelum Hari Republik, yang ingin diboikot oleh para pemberontak.

Gerilya melemparkan granat pada petugas keamanan di Guwahati, ibukota wilayah Assam, membunuh seorang polisi, dan memicu ledakan sekitar sembilan pipa migas yang mengakibatkan kebakaran dan gangguan pasokan untuk pengilangan.

ULFA berjuang untuk kemerdekaan tanah airnya di Assam. Mereka menyalahkan New Delhi karena mengambil sumber minyak wilayah itu tanpa membantu membangunnya.

India memperingati Hari Republik pada 26 Januari, atas kemerdekaannya pada tahun 1950 dengan parade di kota-kota kunci untuk menunjukkan ketangguahn militernya dan keragaman budayanya.

Pejabat senior Indian Oil Corp (IOC), pemilik pengilangan, mengatakan: ‘Pengilangan memiliki cadangan yang cukup untuk seminggu, tapi jika terjadi serangan lagi pada pipa ini akan mempengaruhi operasi kami.’

Serangan Pemberontak

Pemberontak membunuh polisi lain dalam pertempuran bersenjata di pusat Assam pada Minggu malam.

Menurut Khagen Sharma, inspektur jenderal polisi Assam kepada Reuters: ‘Penyerangan itu merupakan ulah ULFA. Pemulihan kembali telah dilakukan hingga beberapa area untuk memperketat keamanan dan menangkap para militan.’

Minggu lalu, Paresh Barua, komandan militer ULFA, mengatakan kelompok itu meminta sekitar $ 113 juta dari Oil and Natural Gas Corp (ONGC).

Katanya permintaan yang sama terhadap perusahaan minyak yang lain akan segera menyusul.

Tujuh wilayah di timur laut India menjadi pemukiman bagi lebih dari 200 etnik dan kelompok suku dan telah ditimpa setidaknya 24 pemberontakan.

Pada tahun 2004, setidaknya 22 orang, mayoritas anak-anak, dibunuh dan lusinan lainnya terluka dalam serangan bom dan granat selama perayaan hari kemerdekaan di wilayah itu, yang menurut pemerintah disebabkan oleh ULFA.

Sumber : english.aljazeera.net