Select Page

Salju dan temperatur rendah pada hari Kamis memperburuk penderitaan di Georgia.

Salju dan temperatur rendah pada hari Kamis memperburuk penderitaan di Georgia, dimana jutaan orang tanpa tenaga (power) dan kekurangan gas alam memaksa mereka memotong kayu untuk memperoleh panas.

Dengan bangsa Gunung Caucasus yang menderita krisis energi bertahun-tahun, Presiden Mikhail Saakashvili membatalkan perjalanannya ke Forum Ekonomi Dunia di Swis untuk mencoba meredakan keresahan yang menyebabkan penduduk harus antri untuk mengisi kerosene canister sebagai pemanas portable.

Saakashvili mengatakan Iran telah menyetujui untuk memasok gas ke Georgia via Azerbaijan.

‘Iran siap untuk pengiriman gas darurat ke Georgia dalam beberap hari ini,’ katanya dalam pertemuan kenegaraan.

Beberapa orang membawa perhiasan dan yang lainnya membawa barang berharga untuk digadaikan agar bisa membeli heater dan kerosin, yang harganya telah meningkat tajam. Yang lain terlihat menebang pohon dan memotong dahan untuk dijadikan bahan bakar.

‘Situasi disini sangat mengerikan,’ menurut Georgy Kiknadze, pengemudi taxi berumur 60 tahun. ‘Harga kerosin dan kayu bakar mahal sekali, dan kami harus mencari cara keluar dari krisis ini. Biaya hidup juga meningkat. Apa yang bisa saya lakukan?’

Pecahan Soviet, dan perang saudara beberapa tahun pada awal 1990-an, membuat infrastruktur energi Georgia sangat tua, dan memaksa untuk mengandalkan generator dan kayu-pemanas berbahan bakar gas dan kompor.

Pada akhir minggu, ledakan pipa gas utama yang terdapat di wilayah perbatasan Rusia, North Ossetia, menghentikan pasokan ke berbagai wilayah Georgia. Pemerintah Rusia menyalahkan ledakan itu pada penyabotase.

Penderitaan memburuk awal Kamis ketike cuaca ganas di barat Georgia memutuskan jalur tenaga yang berasal dari stasiun hidroelektrik Inguri ke wilayah timur, menyebabkan sekitar 3 juta orang berada dalam kegelapan, menurut Deputi Menteri Energi, Alexander Khetaguri.

Lalu, unit tenaga gas stasiun tenaga Tbilisi power station ditutup karena malafungsi, menyebabkan sebagian besar dari 1,5 juta penduduk Tbilisi mencuri untuk pilihan pemanasan karena turun salju lebat dan temperatur siang hari turun hingga 17,6 derajat.

‘Situasi disini sangat sulit, tanpa adanya gas ataupun listrik. Temperatur di sekolah sangat rendah sehingga anak-anak harus pulang,’ menurut Tamara Beruchashvili, seorang guru berumur 35-tahun.

Harga kerosin melonjak 25%, hingga sekutar $ 1,50 per quart — dimana rata-rata gaji per bulan adalah $ 25 dan pensiun tahunan sekitar $ 22.

Saakashvili telah mengeluhkan tentang lambatnya perbaikan pipa Rusia dan menduga Rusia sengaja berdalih untuk menghukum negara itu karena kebijakan pro-Barat-nya beberapa tahun ini.

‘Ini adalah usaha untuk menggulirkan kembali perubahan demokratik di negara ini,’ katanya.

Para pejabat Rusia telah menyangkal pernyataan itu.

Pada hari Kamis, Saakashvili mengatakan pada Associated Press Television News bahwa perilaku Rusia telah menimbulkan berbagai pertanyaan akan niatnya itu.

‘Kami berhubungan dengan keadaan yang sangat meragukan, dengan tindak lanjut yang buruk,’ katanya.

‘Dunia harus bangun atas ancaman ini, karena kemarin adalah Ukraina, hari ini lebih buruk lagi di Georgia. Besok, bisa negara Eropa manapun yang bergantung pada pemasok yang tidak bisa ditebak dan tidak bertanggung jawab ini,’ katanya.

Awal bulan ini, Rusia menggandakan harga ekspor gas untuk Georgia dan Armenia. Juga mengumumkan kenaikan yang drastis untuk Ukraina — pecahan Republik Soviet yang pemerintahnya menjadi pro-Barat.

Azerbaijan telah memberikan pasokan listrik dan gas ke Georgia, tapi telah menghentikan pasokannya beberapa hari lalu karena alasan teknis.

Sumber : www.cnn.com

Share This