Select Page

Militan suku meledakkan beberapa pipa gas di barat daya Pakistan kemarin dan menghentikan pasokan ke US dan Inggris, pemilik power plant untuk empat kali sebulan, menurut pejabat pemerintah setempat.

Militan suku meledakkan beberapa pipa gas di barat daya Pakistan kemarin dan menghentikan pasokan ke US dan Inggris, pemilik power plant untuk empat kali sebulan, menurut pejabat pemerintah setempat.

Satu ledakan merusak pipa dekat Kota Dera Murad Jamali di provinsi Balochistan, menghentikan pasokan ke power plant Uch yang berkapasitas 586-megawatt.

“Power plant tersebut harus ditutup,” menurut Abdul Samad Lasi, administrator senior di area. Dia tidak bisa mengatakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk perbaikan dan pejabat dari power plant tidak ada di tempat.

Dalam insiden lain, militan meledakkan pipa yang membawa gas dari 3 sumur di lapangan gas Loti di distrik lain Balochistan ke plant pemurnian terdekat, menurut Lasi.

Militan suku tersebut berjuang untuk otonomi dan keuntungan yang lebih dari ekplorsai migas di Balochistan. Penyerangan terhadap pipa merupakan bagian dari kampanyenya melawan peraturan pusat.

Shareholder utama di plant tersebut adalah International Power Plc, Inggris, dan perusahaan US, Tenaska Inc dan GE Capital. Plant tersebut menjual listrik ke Otoritas Pembangunan Tenaga dan Air yang dijalankan pemerintah Pakistan.

Balochistan telah mengalami kekerasan sejak Desember dan 21 orang meninggal pada akhir minggu, termasuk 13 dalam pengeboman bus.

Kekerasan telah memberi tantangan baru bagi usaha Presiden Pervez Musharraf untuk membawa kestabilan pada bangsa.

Pada hari Senin, gubernur Balochistan, Ovais Ahmad Ghani, menuduh warlord di negara tetangga, Afghanistan dan baron obet-obatan terlarang yang mempersenjatai militan suku tersebut dan saingan India yang mendanainya.

Juru bicara Menteri Luar Negeri Afghanistan, Navid Moez mengatakan pernyataan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. “Krisis di Baluchistan adalah masalah internal Pakistan dan tidak logis dihubungkan dengan Afghanistan,” katanya.

“Sebuah pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan tidak patut diperhatikan oleh kedua negara dalam perang melawan terorisme dan usaha keras kami untuk menjadi wilayah yang makmur.”

Sumber : www.thepeninsulaqatar.com

Share This