Mengisi pertambangan dengan residu pembakaran batubara merupakan cara yang viable untuk membuang material ini, ditempatkan sedemikian rupa sehingga bisa menghindari pengaruh akan kesehatan dan lingkungan.

Mengisi pertambangan dengan residu pembakaran batubara merupakan cara yang viable untuk membuang material ini, ditempatkan sedemikian rupa sehingga bisa menghindari pengaruh akan kesehatan dan lingkungan, menurut laporan kongres baru National Research Council dari National Academies. Residu yang tertinggal setelah batubara dibakar untuk membangkitkan tenaga – sering disebut abu batubara – terdiri dari materi batubara tak terbakar (noncombustible coal matter) dan material yang terperangkap oleh alat pengendali polusi. Standar federal yang bisa dilakukan adalah petunjuk penempatan abu batubara di pertambangan untuk memperkecil resiko kesehatan dan lingkungan, menurut laporan.

Pembakaran batubara di US meninggalkan residu yang cukup untuk mengisi 1 juta mobil batubara railroad tiap tahun, dan volume terus tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan energi dan meningkatnya pengukuran kendali polusi. Sebagian besar abu ini dibuang ke landfill dan surface impoundment, tapi terus digunakan dalam reklamasi pertambangan. Lagipula, sekitar 38% residu saat ini digunakan untuk membuat semen, wall board, dan produk lainnya. Laporan ini terus mendorong penggunaan residu dalam aplikasi industri sebagai cara untuk menurunkan jumlah pembuangan yang diperlukan.

‘Karena jumlah residu pembakaran batubara banyak dan terus meningkat, kita harus terus melakukan penggunaan produktif,’ menurut Perry Hagenstein, ketua komite penulis laporan dan presiden Institute for Forest Analysis, Planning, and Policy, Wayland, Mass. ‘Ketika penggunaan tidak laik lagi, mengembalikan residu ke pertambangan sebagai bagian reklamasi menyediakan alternatif landfill dan surface impoundments, walaupun potensi resiko kesehatan dan lingkungan harus diwaspadai.’

Mengembalikan residu pembakaran batubara ke pertambangan memiliki keuntungan tertentu, kata komite. Contohnya, residu menyediakan pengisi untuk usaha reklamasi tambang yang mengembalikan kondisi kegunaan lahan, dan mengemballikan residu ini ke pertambangan mengurangi kebutuhan landfill baru. Residu juga bisa menetralkan drainase pertambangan yang asam, mengurangi potensi kontaminan dari pertambangan yang masuk ke lingkungan.

Sedikit diketahui tentang potensi minefilling untuk kerugian dampak air tanah dan air permukaan, khususnya dalam periode yang lama. Karena informasi dari tempat minefilling terbatas, komite menilai potensi resiko dengan memeriksa data efek lingkungan yang merugikan dari surface impoundment dan landfill. Data mengindikasikan kerugian dampak lingkungan bisa terjadi ketika abu batubara berisi bahan kimia beracun yang mengalami kontak dengan air atau ketika residu tidak tertutup dengan baik. Laporan ini merekomendasikan minefills yang dirancang sedemikian rupa sehingga pergerakan air yang melalui residu diminimasi.

Untuk membantu memahami resiko dan batas potensi efek yang merugikan, komite merekomendasikan karakteristik residu pembakaran batubara sebelum dikembalikan ke pertambangan. Ini akan meliputi pemahaman komposisi residu dan pengujian potensi bahan kimia berbahaya yang lepas ke lingkungan dalam kondisi yang memungkinkan dalam pertambangan target, khususnya yang berkaitan dengan level pH yang beragam. Pertambangan juga harus dikarakterisasi dengan baik, yang meliputi membangun pemahaman yang jelas akan pola alir air tanah.

Laporan ini juga merekomendasikan program yang lebih robust untuk mengawasi pertambangan dimana residu batubara ditempatkan. Saat ini pengawasan meliputi pengujian air dalam sumur yang ditempatkan disekitar tambang. Tapi, jumlah dan penempatan sumur-sumur umumnya tidak cukup, menurut komite. Maka disarankan mengambil beberapa faktor – seperti laju alir air tanah dan perkiraan resiko kontaminasi – untuk menempatkan sumur-sumur dengan cara yang menghasilkan data awal akan potensi kontaminasi air.

Dibawah Surface Mining Control and Reclamation Act, negara-negara bagian umumnya bertanggung jawab untuk mengatur manajemen residu pembakaran batubara selama reklamasi tambang. Sementara untuk menutup residu di pertambangan, SMCRA tidak mengatur secara spesifik prakteknya, mengakibatkan beberapa negara bagian mengatakan kekurangan tenaga untuk regulasi yang lebih eksplisit. Laporan mengatakan pembangunan standar federal yang bisa dilaksanakan akan memberi otoritas pada negara bagian, sementara memungkinkan fleksibilitas yang cukup untuk mengadaptasi permintaan kondisi lokal. Hanya melalui standar yang bisa diselenggarakan dapat meminimasi level perlindungan yang dijamin secara nasional, menurut komite.

Sumber : www.sciencedaily.com