Select Page

Satu masalah yang dihadapi industri minyak adalah minyak mineral yang diekstrak menjadi lebih berat dan lebih kotor.

Satu masalah yang dihadapi industri minyak adalah minyak mineral yang diekstrak menjadi lebih berat dan lebih kotor. Ini digambarkan, contohnya, dalam kandungan aromatik yang lebih tinggi (misalnya timbal menghasilkan emisi selama pembakaran dalam mesin diesel) dan sulfur (yang menyebabkan hujan asam). Dalam waktu yang sama, batas global tertinggi untuk kandungan aromatik dan sulfur dalam bahan bakar meningkat dengan cepat.

Mahasiswa PhD Delft, Xander Dupain telah menelitii metode yang menghasilkan petrol yang lebih bersih menggunakan metode ‘perengkahan menggunakan katalis (catalytic cracking)’. Catalytic cracking, dengan kapasitas pemrosesan dunia melebihi 500 juta ton minyak per tahun, merupakan salah satu proses penting yang diterapkan dalam pengilangan minyak modern dan metode utama untuk membuat petrol dari minyak. Selain itu, ini merupakan cara yang penting dalam memproduksi campuran diesel dan produk berguna seperti propena dan butena. Kerugian dari catalytic cracking adalah seringnya diperlukan proses lanjutan yang mahal (hydrotreatment) untuk membuat petrol dan diesel cukup bersih dan membawakannya dengan spesifikasi yang penting.

Inti dari metode Dupain adalah menggabungkan catalytic cracking dengan proses sintesis Fischer-Tropsch. Proses kimia ini ditemukan pada 1920-an oleh para peneliti Jerman, Franz Fischer dan Hans Tropsch dan selanjutnya dikembangkan di Jerman selama Perangh Dunia II untuk produksi bahan bakar sintetis dari batubara. Karena harga minyak relatif murah dalam periode setelah PD II, metode ini tidak lagi menjadi trend, kecuali di Afrika Selatan — yang dikenai embargo internasional — hal ini diterapkan oleh perusahaan Sasol untuk memenuhi permintaan bahan bakar. Dalam beberapa tahun ini, seiring dengan melonjaknya harga minyak, proses ini telah bangkit kembali: dengan aktivitas Shell di Malaysia dan Qatar, contohnya. Saat ini terutama sedang diterapkan untuk memperoleh minyak diesel sintetis yang relatif lebih bersih dari gas alam dan untuk membuat seragkaian produk lainnya yang mengandung konsentrasi sulfur, nitrogen dan aromatik yang sangat rendah. Dupain yakin ini akan menarik secara lingkungan maupun ekonomi untuk merengkahkan bagian yang cukup ‘berat’ (lilin/waxes) menggunakan katalis yang diciptakan oleh proses sintesis Fischer-Tropsch. Saat ini perengkahan ini masih menggunakan hydrocracking yang mahal yang hanya memfokuskan pada produksi diesel dan juga melibatkan konsumsi hidrogen yang tinggi.

Produk Catalytic cracking dari sintesis Fischer-Tropsch menghasilkan petrol yang bersih dan berkualitas tinggi. Selain itu, memungkinkan untuk memproduksi minyak diesel yang bagus sebagai produk samping — dan proses juga menghasilkan propena dan butena yang relatif banyak. Hal ini membawa Dupain untuk memikirkan bahwa gabungan instalasi Fischer-Tropsch dengan catalytic cracker juga bisa menarik dalam hal ekonomi. Akhirnya, propena merupakan bahan baku yang penting untuk industri plastik. Permintaan akan propena akan meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Sumber : www.sciencedaily.com

Share This