Select Page

Dengan harga minyak setinggi US $ 70 per barrel kemarin, pencarian bahan bakar alternatif kian memanas. Minggu lalu, ilmuwan mengumumkan hal yang mungkin menjadi akhir masalah minyak : memroduksi bahan bakar diesel dari batubara, gas alam, dan materi organik.

Dengan harga minyak setinggi US $ 70 per barrel kemarin, pencarian bahan bakar alternatif kian memanas. Minggu lalu, ilmuwan mengumumkan hal yang mungkin menjadi akhir masalah minyak : memroduksi bahan bakar diesel dari batubara, gas alam, dan materi organik.

Dilaporkan dalam isu terbaru Journal Science, para peneliti mengatakan mereka telah menciptakan cara untuk merombak atom karbon yang diperoleh dari sumber bahan bakar murah seperti batubara untuk membentuk kombinasi yang diinginkan, seperti gas etana dan bahan bakar diesel.

Dalam studinya, para ilmuwan mengacak pembuatan hidrokarbon—komponen organik yang ditemukan dalam bahan bakar fosil—menggunakan dua proses kimia, satu yang memperoleh Penghargaan Nobel bidang kimia tahun lalu; KAZINFORM mengutip Sean Markey untuk National Geographic News.

Reaksi ini menghasilkan gas etana dan bahan bakar diesel.

Diesel sintetik ‘jauh lebih bersih bila dibakar dibandingkan diesel konvensional, bahkan lebih bersih daripada gasolin,’ kata ahli kimia Rutgers University, Alan Goldman.

Goldman dalam proses ini dibantu oleh Maurice Brookhart, seorang profesor kimia dari University of North Carolina di Chapel Hill.

‘Ini adalah sebuah ide yang sangat cerdas,’ Robert Bergman, seorang ahli kimia dari University of California, Berkeley, mengatakan pada Science.

‘Saya kira ini tidak akan jadi proses industrial di masa mendatang. Tapi secara konseptual, ini penting.’

Nazi Jerman

Teknologi ini mungkin suatu hari memeras lebih banyak bahan bakar diesel dan gas etana dari produk samping hidrokarbon yang diproduksi oleh pengilangan minyak.

Tapi potensi terbesar kimia baru ini mungkin sebagai tindak lanjut untuk teknologi berumur 80-tahun yang dikenal dengan sintesis Fischer Trospch (FT).

Diciptakan oleh ilmuwan Jerman, Franz Fischer dan Hans Tropsch tahun 1920-an, sintesis FT mengkonversi karbon dari batubara, gas alam, atau kayu menjadi hidrokarbon, termasuk gas seperti propana dan bahan bakar diesel.

Nazi Jerman menggunakan teknik ini selama PD II untuk membuat bahan bakar sintetik dari batubara, menghasilkan 124.000 barrel per hari tahun 1944.

Hari ini Afrika Selatan yang miskin minyak menggunakan sintesis FT untuk mendistilasi sebagian besar diesel dari deposit batubaranya yang luas.

Bagaimanapun, salah satu kekurangan proses ini adalah output yang disebut hidrokarbon ukuran sedang—molekul dengan 4 hingga 8 atom karbon—yang bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Hidrokarbon terdiri dari atom-atom hidrogen dan karbon. Jumlah atom karbon (dimanapun dari 1 hingga, katakanlah 99) menentukan apakah hidrokarbon tersebut berupa gas, cairan, ataupun padatan dan apakah memiliki berat yang tepat untuk dibakar sebagai bahan bakar.

Goldman mengatakan metode barunya bisa mengkonversi produk samping bernilai rendah dari proses FT menjadi bahan bakar bernilai tinggi.

Katanya, sebagai contoh, bahwa 2 hidrokarbon ukuran sedang dengan 6 atom karbon masing-masing bisa diuraikan dan disusun kembali menjadi 2 molekul karbon (gas etana) dan 10 molekul karbon (bahan bakar diesel).

Ahli kimia berfikir bahwa terobosan baru ini bisa mengantarkan US menuju kemandirian energi.

‘US, sebagai contoh, memiliki 40 kali energi dalam batubara daripada minyak, dan kami pernah lebih dari itu daripada dalam oil shale,’ kata Goldman.

‘Maka, saya kira kimia Fischer-Tropsch merupakan kunci kemandirian energi US, China, [dan] India.’

Kunci untuk Kemandirian Energi?

Di US, gubernur Pennsylvania dan Montana, keduanya wilayah kaya batubara, telah memuji teknologi FT sebagai sumber bahan bakar diesel yang tumbuh di masa mendatang.

September lalu, gubernur Pennsylvania, Edward Rendell mengatakan pemerintah wilayahnya akan membeli bahan bakar dari pabrik FT yang direncanakan di wilayah itu dan dirancang untuk mengkonversi limbah batubara dari operasi pertambangan menjadi diesel rendah sulfur.

Gubernur Montana, Brian Schweitzer telah mengungkapkan rencana ini dengan ambisius. Ia yakin batubara Montana sebanyak 120 milyar ton (109 milyar metrik ton) bisa memasok gas, diesel, dan bahan bakar jet yang diperlukan untuk 40 tahun mendatang.

Karena pabrik FT cukup mahal dalam pembangunan dan perawatannya (pabrik level entry jatuh dalam rentang 1,5 milyar US dollar), biaya yang lebih tinggi dari bahan bakar sintetik FT telah membuat mereka terlalu mahal untuk pasar US di masa lalu.

‘Ketika minyak $ 20 per barrel, hal tersebut tidak digolongkan ekonomis,’ kata Goldman, ahli kimia Rutgers University.

Tapi harga minyak saat ini menyentuh skala sebagai pembantu untuk bahan bakar alternatif.

‘Harapan kami adalah apa yang kami temukan ini akan mengarah pada sesuatu yang sedikit lebih ekonomis [dan] efisien,’ kata Goldman.

Dampak Lingkungan

Satu isu yang menjengkelkan adalah dampak lingkungan dari bahan bakar sintetik berbasis batubara.

Menurut US Environmental Protection Agency, penggunaan bahan bakar FT lebih bersih daripada produk yang diperoleh dari petroleum, memroduksi partikulat yang lebih sedikit dan Nitrogen Oksida yang lebih aman.

Tapi ketika bahan bakar FT dibakar, maka akan mengeluarkan CO2 dan gas rumah kaca lainnya.

Menurut US Department of Energy’s National Renewable Energy Laboratory, bahan bakar sintetik berbasis batubara bisa menghasilkan 2 kali emisi gas rumah kaca dibanding bahan bakar berbasis petroleum.

Para ahli mengatakan satu alternatif adalah penggunaan carbon collector yang berasal dari kotoran hewan, tumbuhan, dan materi organik lain, yang memerangkap karbon dari atmosfer.

Source : www.inform.kz

Share This