Select Page

Perusahaan pipa utama Kenya mengumumkan, Senin, merencanakan ekspansi regional, menargetkan negara-negara dalam darurat konflik.

Perusahaan pipa utama Kenya mengumumkan, Senin, merencanakan ekspansi regional, menargetkan negara-negara dalam darurat konflik.

Kenya Pipeline Company (KPC) menyatakan akan membuat pipa minyak ke 6 negara di wilayah Afrika Timur untuk memenuhi permintaan tinggi akan produk petroleum di wilayah Great Lakes.

‘Kami melihat bahwa permintaan akan produk petroleum akan lebih meningkat dalam waktu dekat karena meningkatnya aktivitas ekonomi di negara-negara tetangga dengan rata-rata pertumbuhan 5,8%,’ kata KPC Managing Director, George Okungu di Nairobi.

Katanya bangsa Afrika Timur akan membangun perpanjangan pipa minyak baru sebagai alternatif baru atas pipa minyak Sudan, sementara perpanjangan jalur ini mencapai Kigali di Rwanda, jalur terpisah ke Democratic Republic of the Congo (DRC), Burundi dan Uganda.

Okungu mengatakan perusahaan telah menyaksikan pertumbuhan yang tak terduga dalam operasi komersialnya karena permintaan yang sangat tinggi akan produk petroleum di wilayah ini.

KPC, monopoli pipa minyak milik negara dengan mandat tunggal untuk mentransportasikan ‘produk minyak-putih’ mengeluarkan hasil laporan keuangan perusahaan sebanyak 300 million US dollars sebagai dividen untuk tahun keuangan 2003/04-2005 kepada pemerintah, Senin.

Kenya mengekspor produk minyak kilangan ke 11 negara di wilayah Great Lakes tapi KPC tidak mampu untuk memompa lebih banyak bahan bakar dari Mombasa, dimana terdapat pengilangan minyak mentah tunggal negara berdasarkan pasokan transporter kedalam wilayah itu terbatas.

KPC telah merekam 300% peningkatan dalam kapasitas pemompaannya, naik dari 880.000 m3 menjadi 3,5 juta m3 dalam 2005, karena pertumbuhan ekonomi yang tak terduga akibat terciptanya kembali keamanan di Burundi dan keadaan yang cukup tenang di DRC.

Kenya berencana untuk membangun 1020 km piap minyak mentah yang terbentang dari Kapoeta di Sudan Selatan ke Pelabuhan Lamu sebagai tambahan dari penandatangan pakta pertukaran data eksplorasi minyak dengan Sudan.

Kenya mengimpor semua produk minyak yang dikonsumsi dalam negara dari Timur Tengah dan berusaha untuk mengimpor minyak dari Sudan di masa lalu yang tidak membuahkan hasil karena ketidakmampuan bangsa Afrika Timur untuk mengilang minyak mentah berat dari lapangan minyak Sudan Selatan.

Negara-negara Afrika Timur mengkonsumsi sekitar 3,5 juta ton peroduk minyak.

Impor produk ini dengan biaya rata-rata ekonomi di wilayah itu berjumlah total 1 miliar dollar; ini adalah total dari 25% semua impor internasional.

‘Produk-produk petroleum adalah masukan yang penting di semua sektor ekonomi sehingga efisiensi biayanya kritis untuk efisiensi ekonomi secara keseluruhan,’ kata Menteri Keuangan Amos Kimunya begitu ia menerima pembayaran dividen.

Sumber : english.people.com.cn

Share This