Select Page

Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Aso, pada 29 Mei memaksa Presiden Chamber of Commerce and Industry, Rusia, Yevgeny Primakov untuk mempercepat pembicaraan awal mengenai konstruksi pipa minyak mentah East Siberia-Pacific Ocean (ESPO).

Penulis : Eric Watkins

Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Aso, pada 29 Mei memaksa Presiden Chamber of Commerce and Industry, Rusia, Yevgeny Primakov untuk mempercepat pembicaraan awal mengenai konstruksi pipa minyak mentah East Siberia-Pacific Ocean (ESPO).

Di Tokyo dalam konferensi investasi ekonomi Rusia, Primakov mengatakan Rusia bermaksud untuk bekerja sama dengan Jepang dalam proyek pipa sepanjang 4.130 km dari Taishet di Siberia Timur ke terminal ekspor di Samudera Pasifik.

Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, November lalu menandatangani sebuah perjanjian di Tokyo yang menyatakan Rusia akan mengekspor ‘sejumlah tertentu minyak’ ke Jepang dan negara-negara lainnya dari pantai Pasifik, mulai 2008. Tapi, China juga telah melakukan lobby kepada Rusia untuk membangun pipa dengan rute yang berbeda untuk menjaga kestabilan pasokan minyak.

Pada 24 Mei, bank yang dikontrol negara Rusia, Sberbank memberikan pinjaman 6-tahun, sebanyak 65 miliar rouble ($ 2,4 miliar) kepada monopoli pipa negara Rusia, Transneft untuk konstruksi bagian pertama pipa ESPO, yang bertujuan untuk mentransportasikan 30 juta ton/tahun minyak.

Pada 28 April, Transneft mulai membangun fase awal pipa dari Taishet ke Skovorodino, dekat perbatasan dengan China. Tapi, Rusia belum menetapkan jadwal untuk memulai konstruksi pipa diluar Skovorodino, mengatakan lapangan minyak baru perlu dibangun untuk membuat perpanjangan ini dapat berjalan secara komersial.

Bulan Maret, Putin meminta Jepang untuk bantuan finansial dalam membangun lapangan minyak yang akan memasok pipa. Permintaan ini ditujukan kepada Akira Nishino, wakil menteri senior Jepang untuk ekonomi, perdagangan, dan industri, dan kepada pejabat pemerintahan Jepang lainnya yang mengunjungi Moscow untuk menghadiri sebuah pertemuan menteri energi Group of Eight yang diselenggarakan 17 Maret.

Nishino mengatakan, Jepang mempertimbangkan memberi bantuan finansial pada proyek tersebut, yang dipandang sebagai sumber baru untuk pasokan minyak. Tapi, protes lingkungan di Jepang, yang mempengaruhi kemampuan Tokyo untuk mendanai proyek, belum terselesaikan.

Perhatian Lingkungan

Pada 2 Mei, Japan Wildlife Conservation Society dan Friends of the Earth mengatakan, Jepang seharusnya mempertimbangkan kembali kerja sama dengan proyek ini, karena konstruksi terminal ekspor minyak di Teluk Perevoznaya akan membahayakan macan tutul Amur.

Kelompok ini memberikan permintaan dan tandatangan untuk meminta pemerintah Jepang agar tidak memberi bantuan resmi atau bentuk bantuan lainnya untuk proyek tersebut.

Mereka mengatakan suaka margasatwa tertua Rusia terletak dekat Teluk Perevoznaya di tepi barat Sungai Amur, dimana terminal minyak ESPO direncanakan.

Banyak spesies yang terancam punah hidup di dalam dan luar suaka, termasuk macan tutul, yang populasinya di area diyakini hanya sebanyak 35 ekor. Membangun terminal akan benar-benar merusak ekologi di wilayah itu, menurut kelompok tersebut.

Bagaimanapun, mereka mengatakan dampak konstruksi bisa dimitigasi sepenuhnya dengan memindahkan site 10 km ke arah timur, ke area dekat Teluk Nakhodka. Atas permintaan kelompok ini, Agency for Natural Resources and Energy telah mengatakan pemerintah telah menempatkan pentingnya masalah lingkungan ini.

Sementara itu, di Rusia pada 30 Mei, Supreme Court membenarkan sebuah resolusi oleh pemerintah Rusia dalam konstruksi pipa ESPO. Court menolak seruan dari beberapa organisasi lingkungan Rusia yang mengklaim konstruksi akan merusak lingkungan di sekitar Danau Baikal.

Minggu lalu, pemerintah Rusia mengatakan pipa ESPO akan dikonstruksi bulan Desember 2008 walaupun menambah panjang pipa sebanyak 1.920 km karena pertimbangan lingkungan.

Sumber : www.ogj.com

Share This