Kuwait menunggu pemerintah Irak untuk menandatangani kontrak gas, detail teknis dan perdagangan yang telah disepakati sebelumnya, menurut Undersecretary of Energy, Eisa Al-Oun, Minggu.

Kuwait menunggu pemerintah Irak untuk menandatangani kontrak gas, detail teknis dan perdagangan yang telah disepakati sebelumnya, menurut Undersecretary of Energy, Eisa Al-Oun, Minggu.

Al-Oun mengatakan penundaan dalam penandatanganan kontrak ini karena keadaan Irak dengan formasi pemerintah yang belum lengkap.

Undersecretary menyebutkan bahwa dana proyek KD 8 juta untuk tahap pertama dan KD 230 juta lainnya dalam tahap ke-dua. Proyek ini meliputi impor hingga 38 juta kaki3 gas Irak pada tahap pertama dan 200 juta untuk tahap ke-dua.

Sementara itu, undersecretary menyebutkan proyek gas Qatar ditunda, dan Kuwait Petroleum Corporation mempertimbangkan kelayakan impor melalui kapal uap.

Dalam situasi bahan bakar yang memburuk di Irak dan kemungkinan Kuwait memasok pasar Irak dengan tambahan kuantitas bahan bakar, undersecretary mengatakan ‘kami saat ini memasok Irak dengan volume petrol dan diesel yang besar, sekitar 3 juta liter per hari untuk membantu masalah besar krisis bahan bakar.

‘Kami tidak mempunyai maksud untuk memasok lebih dari produksi dan kapasitas ekspor kami,’ undersecretary menambahkan, menyebutkan bahwa negara harus menghormati kontrak yang ada, baik dengan pihak lokal maupun eksternal.

Al-Oun menekankan kesungguhan dalam kerja sama dengan Irak dan mengingat KPC sebelumnya telah menetapkan titik pengiriman baru ke fasilitas ekspor untuk Irak.

Mengenai harga minyak dunia, undersecretary mengatakan Kuwait, sebagai pemasok utama dan rekanan dalam pasar minyak, memikirkan stabilitas harga. Mengenai pembicaraan pengalihan ke bahan bakar alternatif, katanya hal ini masih jauh.

‘Ada penelitian dan ekperimentasi seksama di Barat, tapi jika usaha untuk menemukan bahan bakar alternatif berhasil, tetap masih ada pasar yang sehat untuk minyak karena adanya permintaan yang besar saat ini.’ Dalam proyek kilang baru di US, undersecretary mengatakan kendala utama adalah menemukan lokasi terbaik karena US memiliki regulasi yang keras mengenai lingkungan. Sekali lokasi ditentukan, proyek dimulai dan bola sekarang dengan Amerika, katanya.

Undersecretary mengatakan Kuwait serius dengan proyek ini, dengan tujuan mengamankan pasokan yang lebih baik dalam pasar minyak dunia.

Mengenai masalah Kementrian Energi, undersecretary mengatakan rencana dan strategi yang mempengaruhi progress berlangsung lambat disebabkan birokrasi pemerintah.

Untuk memecahkan masalah birokasi ini, kementrian berusaha untuk mengekang dan menambah fleksibilitas untuk membantu progress.

Kementrian memperoleh pencapaian yang baik dalam finalisasi dan update rencana regulasi pemeliharaan sumber petroleum, update sebelumnya adalah tahun 1989.

Kementrian saat ini mengimplementasikan tahap empat dan tahap final regulasi proyek, dan tahap ini akan selesai sekitar satu setengah tahun untuk drafting prosedur lapangan, strategi implementasi fine-tuning, dan drafting format yang akan digunakan oleh tim inspeksi.

Kesimpulannya, undersecretary mengatakan bahwa perusahaan yang menangani tahap ke-empat, sama dengan yang meng-update sistem dan regulasi inspeksi dan pengendalian. Ia menambahkan bahwa tahap baru akan memenuhi pertukaran elektronik dan pemrosesan dokumen.

Sumber : www.kuna.net.kw