China, produsen dan konsumen batubara terbesar, berencana untuk menghabiskan sekitar 40 miliar yuan (US$ 5 miliar) tahun 2020 untuk mengeksplorasi cadangan batubara di seluruh wilayahnya.

China, produsen dan konsumen batubara terbesar, berencana untuk menghabiskan sekitar 40 miliar yuan (US$ 5 miliar) tahun 2020 untuk mengeksplorasi cadangan batubara di seluruh wilayahnya, menurut seorang pejabat tinggi energi.

Negara ini bertujuan untuk memperoleh sekitar 170 miliar ton cadangan batubara, Xu Dingming, kepala biro energi dibawah National Development and Reform Commission (NDRC), mengatakan.

‘Dana akan digunakan antara 2003 dan 2020 untuk meningkatkan cadangan batubara nasional,’ kata Xu, tapi ia menolak untuk mengungkapkan berapa banyak yang telah dihabiskan negara hingga saat ini.

Gerakan ini mencerminkan usaha hebat bangsa untuk memperoleh sumber energi yang cukup dalam mendorong ekonominya yang tumbuh pesat, yang tumbuh 10,3% dalam kuartal pertama.

China sejauh ini memiliki cadangan batubara komersial recoverable sebanyak 288 miliar ton, dengan total perkiraan cadangan batubara 5,5 triliun ton, menurut Zhang Yuzhuo, wakil presiden perusahaan batubara terbesar China, Shenhua Group.

‘Perusahaan enggan berinvestasi dalam eksplorasi karena tingginya resiko, sehingga kami (pemerintah) harus meningkatkan usaha untuk mencari cadangan lebih banyak lagi,’ kata Xu.

Negara tahun lalu menghasilkan 2,19 miliar ton batubara, dengan peningkatan 24% dalam produksi batubara tahunan dibanding lima tahun lalu, kata Xu dalam sebuah laporannya.

Huang Teng, seorang analis batubara senior yang sebelumnya bekerja di produsen batubara terbesar kedua negara, China Coal, mengatakan bahwa tidak akan sulit untuk menemukan cadangan batubara dengan skala itu di China.

‘Kami akan menemukan lebih banyak batubara di wilayah barat seperti Xinjiang, Shaanxi, Gangsu, Qinghai dan bahkan Tibet,’ kata Huang.

Huang menyarankan negara agar mendirikan pembiayaan industri untuk membantu perusahaan untuk menemukan lebih banyak cadangan batubara di negara itu.

Seorang analis senior dengan bank milik negara mengungkapkan bahwa negara sedang merancang regulasi untuk memperkenalkan pembiayaan industri di China untuk membiayai proyek-proyek besar yang berhubungan dengan energi.

Satu pembiayaan untuk investasi industri yang berbasis di Kotamadya Tianjin, China Utara telah mendapatkan persetujuan pemerintah, dan yang lainnya di Provinsi Shanxi masih dalam pipa, menurut sumber.

Dalam penawaran untuk memenuhi permintaan yang meningkat, negara juga berkomitmen penuh terhadap sumber alternatif seperti hidro, angin dan gas alam, kata Xu.

Walaupun banyak kecaman terhadap pembangunan bendungan untuk membangkitkan listrik sepanjang sungai, Xu tetap yakin bahwa tenaga hidro akan menjadi sebuah sumber energi besar untuk memenuhi permintaan China yang meningkat.

Negara juga berencana untuk membangun fasilitas tenaga hidro dengan kapasitas total sekitar 246 GW (gigawatts) tahun 2020, sekitar setengah dari kapasitas terpasang tahun lalu, Zhang Guobao, wakil menteri NDRC, mengatakan sebelumnya.

‘Sekitar 70% dari cadangan hidro di barat belum dilengkapi, dan kamu harus mencoba mengisi kekosongan,’ kata Xu.

Ketika ditanya apakah pemerintah telah memasang menunda rencana besar untuk mengimpor LNG (liquefied natural gas) saat harga minyak mentah global melambung tinggi, Xu mengatakan China masih mendorong impor LNG dalam ‘susunan yang teratur.’

Zhai Guangming, seorang ahli senior dari produsen minyak terbesar, PetroChina, mengatakan bulan lalu bahwa China akan dapat menghasilkan 150 miliar m3 (bcm) gas alam tahun 2020, dan impor bisa mencapai 90 bcm, hampir setengah dari yang diharapkan dari sumber LNG.

Seperti untuk tenaga angin, Xu mengatakan negara mengharapkan memiliki fasilitas tenaga angin on-grid 2.000 MW (megawatts) akhir tahun ini, naik dari tahun lalu 1.260 MW.

Sumber : english.people.com.cn