Select Page

Biaya produksi untuk teknologi terbarukan lebih tinggi dibandingkan energi konvensional. Hal ini secara signifikan bisa mengurungkan investasi dalam teknologi dan produksi energi terbarukan.

Penulis : Aranee Jaiimsin

Mendukung energi terbarukan dan teknologi relevan melalui pasar di area terpencil dimana jalur transmisi listrik tidak terpasang, akan lebih produktif daripada memfokuskan pada proyek berskala nasional, menurut para ahli.

Tetapi, biaya produksi untuk teknologi terbarukan lebih tinggi dibandingkan energi konvensional. Hal ini, secara signifikan, bisa mengurungkan investasi dalam teknologi dan produksi energi terbarukan, kata Chumnong Sorapipatana, kepala energi di Joint Graduate School of Energy and Environment, King Mongkut’s University of Technology di Thon Buri.

Meskipun demikian, energi terbarukan bisa jadi merupakan jawaban atas meningkatnya permintaan listrik di area seperti provinsi kepulauan dan pegunungan, katanya.

Biomassa dan tenaga panas matahari adalah dua jenis energi terbarukan yang paling sesuai untuk Thailand, kata Mr Chumnong.

Katanya, banyak pabrik pemrosesan makanan dan pembuatan gula menghasilkan volume biomassa yang cukup untuk membangkitkan energi untuk keperluan sendiri atau untuk dijual ke Electricity Generating Authority of Thailand (Egat).

‘Saat ini, harga energi biomassa kompetitif jika para produsen mampu membeli bahan bakunya,’ katanya.

Walaupun harga terjangkau, tenaga panas matahari yang dirancang untuk memanaskan air di lokasi bercuaca cerah belumlah popular, karena investasi awal dalam teknologi ini relatif tinggi, dan memakan waktu lama untuk kembalinya modal. Lebih jauh lagi, teknologi ini memerlukan perawatan regular, kata Mr Chumnong.

Ia merekomendasikan tenaga panas matahari untuk hotel-hotel, rumah-rumah sakit dan pabrik manufaktur di area terpencil.

Katanya pemerintah harus lebih mendorong sektor swasta untuk berinvestasi dalam produksi energi terbarukan. Ia menambahkan bahwa ketika pembangunan teknologi dalam bidang ini mencapai titik jenuh, bisa terlambat bagi negara untuk mengikuti tren konservasi energi internasional.

Dana bantuan lunak dan clean development mechanism (CDM) adalah dua alat untuk mendorong investasi di area ini, kataya.

‘Investasi dalam produksi energi terbarukan memang mahal, tapi dalam jangka panjang, bisa mengurangi ketergantungan akan impor minyak … dan menyelamatkan pasokan energi kita,’ kata Mr Chumnong.

Universitas bergabung dengan CMP Media (Thailand) Co untuk mempersiapkan tahap-tahap Entech Pollutec Asia and Renewable Energy Asia 2006 di Bitec dari Kamis hingga Sabtu. Sekitar 200 pemasok teknologi energi terbarukan dan para ahli lainnya akan hadir.

Sumber : www.bangkokpost.com

Share This