Select Page

Tim ilmuwan internasional akan mengeskplorasi dasar laut dekat Papua New Guinea di Samudera Pasifik bagian barat bulan ini dengan kendaraan otonomi dan dioperasikan dari jarak jauh, menyelidiki lubang (vent) hidrotermal aktif dan tak aktif dan formasi cadangan mineral yang mengandung tembaga, emas, dan mineral bernilai komersial lainnya.

Tim ilmuwan internasional akan mengeskplorasi dasar laut dekat Papua New Guinea di Samudera Pasifik bagian barat bulan ini dengan kendaraan otonomi dan dioperasikan dari jarak jauh, menyelidiki lubang (vent) hidrotermal aktif dan tak aktif dan formasi cadangan mineral yang mengandung tembaga, emas, dan mineral bernilai komersial lainnya.

Penjelajahan ini adalah ekspedisi bersama antara Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) dan Nautilus Minerals Inc. of Vancouver, British Columbia, sebuah perusahaan eksplorasi tambang yang memegang lease eksplorasi di Laut Bismarck dalam perairan teritorial Papua New Guinea. Nautilus adalah perusahaan pertama yang mengeksplorasi secara komersial dasar laut untuk cadangan sulfida besar yang bernilai ekonomis, dan tertarik dalam memahami ukuran dan kandungan mineral sistem sulfida besar di dasar laut.

Ekspedisi bersama ini meliputi 32-hari program penelitian WHOI yang didanai oleh US National Science Foundation ke lokasi Pacmanus vent di Basin Eastern Manus. Kendaraan kendali jarak jauh Jason akan digunakan untuk survey dan memetakan area vent sekitar lubang Ocean Drilling Program yang dibor tahun 2000. Nautilus akan mendanai tambahan program 10 hari untuk mengeksplorasi dan mengambil sampel prospek sulfida Vienna Woods di Manus Ridge, barat laut area studi Pacmanus.

Ahli geofisika Maurice Tivey dari WHOI akan mengepalai ekspedisi 42-hari, yang dimulai 21 Juli dari Rabaul, Papua New Guinea, diatas vessel penelitian Melville, yang dioperasikan oleh Scripps Institution of Oceanography. Tivey dan ahli geokimia Wolfgang Bach dari University of Bremen (sebelumnya di WHOI) dan Jeff Seewald dan Meg Tivey dari WHOI akan memetakan, mengumpulkan sampel dan mengambil gambar resolusi tinggi dari dasar laut di beberapa lokasi di dalam perairan teritorial Papua New Guinea. Penjelajahan ini akan berakhir 1 September di Suva, Fiji.

Tivey dan co-investigator-nya tertarik dalam geokimia dan struktur dasar laut dan formasi cadangan mineral di sepanjang mid-ocean dan sistem back-arc ridge, dimana crust samudera baru dibentuk. Tim akan menggunakan kendaraan kendali jarak jauh Jason dan Autonomous Benthic Explorer (ABE), keduanya dibuat dan dioperasikan oleh WHOI dan veteran dari banyak ekspedisi ke lokasi lubang hidrotermal di seluruh dunia.

Dua area akan dieksplorasi, satu di Basin Manus Timur di Laut Bismarck yang dikenal sebagai lokasi Pacmanus vent dan lainnya Vienna Woods, sebuah area sulfida besar di Manus Ridge, sebuah mid-ocean ridge kecil yang menyebar ke barat laut lokasi Pacmanus. Lokasi Pacmanus berada di 1.700 m perairan (sekitar 4.500 kaki), sementara Vienna Woods di 2.500 m (sekitar 8.000 kaki).

“Ada perbedaan dalam komposisi hosts rock di kedua area, begitu juga perbedaan dalam tata geologis dan tektonis,” Tivey, ilmuwan di WHOI Geology and Geophysics Department, mengatakan. Di Basin Manus Timur di Pacmanus vents, host rocks yang terkandung adalah felsik atau kaya silika dibanding dengan tipikal mid-ocean ridge basalt yang ditemukan di lokasi Vienna Woods, kontras dalam geokimia host rock.

“Telah disarankan bahwa perbedaan dalam kimia host rock tercermin dalam komposisi cadagan sulfida dan sulfide chimneys, dengan cadangan di batuan kaya silika menjadi lebih kaya dalam emas dan logam mulia lainnya,” kata Tivey. “Bagaimanapun, ada faktor-faktor lainnya yang bisa memengaruhi fluida vent dan komposisi cadangan sulfida. Contohnya, beberapa fluida hidrotermal dari back-arc sites yang muncul memiliki tanda indikatif sumber kamar magma, dengan fluida magmatik yang mungkin memengaruhi sistem hidrotermal.”

Program penelitian ini dirancang untuk menentukan faktor-faktor apa saja yang mungkin memengaruhi kimia cadangan vent, kata Tivey. Juga untuk mengambil sampel cadangan dan mengumpulkan host rock segar ataupun yang telah berubah, peneliti akan mengumpulkan fluida vent menggunakan gas-tight samplers untuk memelajari kemungkinan pengaruh magmatic volatiles dan komposisi host rock. Mereka juga akan memetakan dasar laut, dan dibawahnya menggunakan teknik geofisika, untuk melihat lebih baik sejarah geologi dan struktur lokasi.

Tivey dan ilmuwan lainnya serta mahasiswa dari WHOI akan bergabung dengan rekan-rekannya dari Towson University, University of South Florida, Bridgewater State College and the U.S. Geological Survey, University of Bremen in Germany, Seoul University in South Korea, the Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) of Australia, Geological Survey of Papua New Guinea, University of Papua New Guinea, dan Nautilus Minerals.

Ekspedisi ini didanai oleh National Science Foundation, Nautilus Minerals Inc., WHOI dan agensi penelitian respektif dari partisipan.

Sumber : www.sciencedaily.com

Share This