Rencana memperpanjang pipa minyak dari Eldoret ke Kampala untuk mengirimkan produk kilang petroleum tidak akan dimulai Agustus ini.

Rencana memperpanjang pipa minyak dari Eldoret ke Kampala untuk mengirimkan produk kilang petroleum tidak akan dimulai Agustus ini.

Hal ini terjadi setelah para anggota di komite keuangan parlemen Uganda mendesak meminta penjelasan atas tidak dilibatkannya parlemen dalam penandatanganan kesepakatan multi-juta antara Uganda dan Kenya.

‘Sangat disayangkan kesepakatan senilai lebih dari $ 120 (sekitar Shs 200 miliar) ini ditandatangani tanpa adanya keterlibatan parlemen,’ kata Henry Banyenzaki, MP Rubanda wilayah barat.

Berbicara selama pertemuan komite keuangan pada 18 Juli, Banyenzaki mengatakan jalan keluar dalam proses penawaran untuk tidak melibatkan para anggota parlemen Uganda dalam penandatanganan awal perjanjian tersebut.

‘Yang bertanggung jawab, seharusnya datang dan menjelaskan kepada parlemen, kalau tidak, proyek pipa minyak Kenya-Uganda jatuh dibawah jurisdiksi parlemen dan subjek untuk persetujuan kami,’ Banyenzaki mengatakan pada komite.

Konstruksi 320-km pipa minyak, yang harus beroperasi akhir 2007, harus dimulai Agustus tahun ini. Tapi, berbagai kendala dari kedua negara telah menghalangi proses.

Menurut rangkuman proyek perpanjangan pipa minyak Kenya-Uganda, pemerintah Uganda dan Kenya menandatangani sebuah nota kesepahaman tahun 1995, yang membentuk joint coordinating commission (JCC) untuk mengkoordinasi proyek ini.

Tapi, serangkaian penundaan hukum menunda proyek ini, yang terakhir gagal karena Petronet East Africa Consortium – terdiri dari Petronet dan Ya Rona Investments (Afrika Selatan), Brett Group (Kenya-Uganda) dan China Civil Engineering (China) menolakeliminasi dari tahap evaluasi teknis tender.

MP mengobservasi bahwa keluhan publik Kenya, meninjau dan menarik pengeluaran dewan pemberitahuan suspensi setelah petisi dari East African Petronet Consortium, salah satu penawar, sebagai akibat kesalahan yang ditunjukkan dalam ketidaktelibatan MPs dari proses.

‘Kami tidak terkejut melihat proyek perpanjangan pipa minyak sulit dilakukan. Ini adalah kesalahan dalam proses procurement dan harus diselidiki untuk meluruskannya,’ kata James Kakooza, MP wilayah Kabula, distrik Lyantonde.

Regulasi Procurement

Kakooza mengatakan pada para anggota komite bahwa dibawah regulasi procurement di kedua negara Uganda dan Kenya, sekali petisi diajukan atas sebuah proyek, maka akan ditunda hingga masalah selesai.

Tapi, katanya, pemerintah Uganda bertanggung jawab atas jalan keluar dalam proses penawaran dan penundaannya.

‘Faktanya parlemen tidak peduli akan kesepakatan pipa minyak berarti proyek tidak diperintah oleh hukum manapun dan disubjekkan untuk penyalahgunaan,’ kata Banyenzaki.

William Nsubuga (wilayah Buvuma), ketua komite keuangan, menjanjikan para anggota akan diundang untuk penjelasan tentang semuanya.

Proyek terdiri dari konstruksi pipa sebagai perpanjangan atas yang telah ada, ke Uganda untuk melayani pasar Uganda dan sekitarnya.

Proyek ini mengikuti pemasangan 8-inch diameter, 320 km pipa dari Eldoret ke Kampala dengan kapasitas tahunan mencapai 1.200.000 m3.

Proyek ini sedang dipromosikan sebagai rekanan negeri-swasta dengan investasi swasta berperan sebagai pemimpin. Kedua pemerintah memiliki masing-masing 24,5% ekuitas proyek berbasis modal dan sektor swasta adalah mayoritas pemegang saham, paling tidak 51% ekuitas.

Sumber : naturalresources.andnetwork.com