Thailand dan Kamboja telah gagal memecahkan ketidaksepakatan mengenai syarat-syarat pembagian produksi dari klaim teritorial yang berpotongan di Teluk Thailand.

Thailand dan Kamboja telah gagal memecahkan ketidaksepakatan mengenai syarat-syarat pembagian produksi dari klaim teritorial yang berpotongan di Teluk Thailand.

Masalah ini berada dalam prioritas tinggi dalam agenda pertemuan 10 Agustus di Phnom Penh antara PM Thailand Thaksin Shinawatra dan Hun Sen dari Kamboja.

Masalah ini menjadi landasan kedua negara dari pembangunan sumber energi dari area 30.000 km2 di bagian yang lebih tinggi dari teluk, yang diyakini menjadi gas-prone.

Tahun 2001, kedua negara sepakat mengadopsi Joint Development Area (JDA), sebuah skema yang diterima oleh Thailand dan Malaysia, untuk membangun minyak dan gas dalam zona sengketa tanpa menentukan perbatasan maritim yang tepat.

Model awal yang dinegosiasikan oleh kedua pihak adalah pembagian 50:50 sumber dari bagian tengah JDA, dengan rasio pembagian yang berbeda di area bersisian, tergantung pada dekatnya klaim teritorial mereka.

Penguasa Phnom Penh menekan rasio pembagian 60-40, menurut pejabat Thailand. Di bagian paling selatan Teluk Thailand, produksi dari Thailand-Malaysia JDA terbagi dengan seimbang.

Bangkok telah menginginkan untuk mengambil gas dari Cambodia-Thailand JDA unutk memenuhi permintaan bahan bakarnya yang meningkat, khususnya untuk pembangkitan tenaga listrik.

Sumber : www.ogj.com