Standard Competency adalah daftar kecakapan (skill) yang disusun secara standard berdasarkan tingkatan

kemampuan (jenjang karir) yang digunakan sebagai alat bantu evaluasi karyawan. Standard Competency

merupakan sistem yang baru. Untuk menerapkan sistem manajemen ini diperlukan pendekatan-pendekatan yang dapat

menjamin diterapkannya sistem ini secara menyeluruh kesetiap bagian. Akan tetapi melakukan suatu perubahan

tidaklah mudah. Untuk melakukan perubahan diperlukan cara yang tepat agar perubahan tersebut dapat berjalan
lancar dan diterima semua pihak.

Pengalaman aktual yang dialami saat pertama kali masuk kerja ke dunia industri adalah ketidakmampuan

beradaptasi dengan cepat terhadap kebutuhan dunia industri yang serba modern.

Kemudian muncul pertanyaan apakah dunia pendidikan kita sudah sesuai terhadap kebutuhan dunia industri?
Ketidak mampuan lulusan perguruan tinggi untuk cepat beradaptasi dengan industri modern ini berakibat pada tingkat

pengangguran lulusan sarjana pada perguruan tinggi di Indonesia dari waktu ke waktu semakin meningkat. Saat ini

tenaga kerja asing yang berasal dari lulusan perguruan tinggi luar negeri terus berdatangan ke Indonesia untuk

memasuki pasar tenaga kerja di Negara Indonesia.

Apakah bangsa Indonesia kemampuannya belum sebanding dengan bangsa lain yang sudah maju? Apakah

kurikulum pendidikan di Indonesia yang belum sesuai dengan tuntutan dunia industri? Atau apakah dunia pendidikan

tidak memiliki tenaga pengajar yang benar-benar mengerti dan tahu serta berpengalaman di lapangan industri? Apakah

hanya berteori kita dapat langsung bekerja di industri? Sejauh ini apakah di pemerintahan ada yang concern

mengevaluasi pada sistem pendidikan?

Seperti halnya di pendidikan, di industri juga terdiri dari berbagai macam bagian seperti: produksi, maintenance,

engineering, akunting, administrasi, kepersonaliaan, dan lain-lain. Masing-masing bagian menuntut kemampuan

karyawan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya. Kemudian apakah tidak muncul permasalahan setelah

mereka menguasai kemampuan tugas dan tanggung jawab pekerjaan mereka? Manusia diciptakan dengan segala
kelebihan sehingga mempunyai sifat cipta, rasa, dan karsa. Dengan sifat-sifat inilah manusia menginginkan pengakuan

terhadap dirinya.

Hampir setiap di awal tahun wajah-wajah kecewa terpancar pada wajah-wajah orang tempat kerja. Persoalannya

adalah penilaian prestasi yang kurang memuaskan. Merasa diperlakukan tidak adil dalam penilaian. Merasa mampu
melaksanakan tugas dan tanggung jawab dibandingkan dengan rekan kerja yang lain tetapi hasil penilaian prestasi tidak

baik. Belum lagi datangnya karyawan baru dari lulusan perguruan tinggi yang belum mempunyai pengalaman dan

kemampuan tetapi berada di atas level karyawan yang ada. Tidak jarang terjadi kesenjangan antara karyawan lama

dengan karyawan baru. Kemudian hal semacam ini menjadi topik pembicaraan di setiap kesempatan, seperti di

gang-gang kantor, di workshop, di ruang pertemuan, di meja kerja, di jalan-jalan, bahkan terbawa sampai ke rumah.
Hal tersebut paling sering dialami di beberapa perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Apakah perusahaan tersebut belum memiliki sistem penilaian yang objective? Apakah belum ada

parameter-parameter yang terbuka untuk penilaian? Apakah hanya cukup penilaian dengan pendekatan hubungan

kemanusian seperti ‘asal bapak senang’? Apakah penilaian cukup dengan pendekatan kemampuan intelegensi dan

kemampuan berbicara tanpa implementasi di lapangan? Apakah penilaian atas dasar suka dan tidak suka (like and

dislike)? Apakah penilaian berdasarkan banyaknya kesalahan yang dilakukan? Apakah penilaian dibandingkan dengan

output produksi? Atau penilaian dengan daftar antri sesuai urutan nomor registrasi atau nomor badge karyawan

sehingga yang senior lebih dahulu dari yang yunior?

Dibeberapa perusahaan telah ada solusi dengan membuat parameter-parameter penilaian prestasi kerja. Dengan

parameter ini kinerja setiap individu karyawan terevaluasi dengan baik. Di beberapa perusahaan terkenal dengan istilah

Standard Competency‘.

Standard Competency adalah daftar kecakapan (skill) yang disusun secara standard berdasarkan tingkatan

kemampuan (jenjang karir) yang digunakan sebagai alat bantu evaluasi karyawan. Standard Competency

merupakan sistem yang baru. Untuk menerapkan sistem manajemen ini diperlukan pendekatan-pendekatan yang dapat

menjamin diterapkannya sistem ini secara menyeluruh kesetiap bagian. Akan tetapi melakukan suatu perubahan

tidaklah mudah. Untuk melakukan perubahan diperlukan cara yang tepat agar perubahan tersebut dapat berjalan
lancar dan diterima semua pihak.

Berdasarkan pengalaman lapangan bukanlah hal yang mudah untuk menyusun Standard Competency.

Tuntutan kemampuan tidak hanya semata teori akan tetapi implementasi dan hasil nyata. Kesulitan-kesulitan-pun terjadi

untuk penyusunan Standard Competency pada bagian-bagian fungsional seperti: akunting, administrasi,

kepersonaliaan, security, beberapa bagian engineering, dan bagian lain. Pendekatan pertama yang paling mudah

adalah penyusunan Standard Competency untuk bagian Produksi, Maintenance, dan

Engineering.

Penjelasan lebih lengkap bisa dilihat dalam file berikut: