Select Page

Selama ekspedisi di pantai Amerika Selatan, sebuah tim internasional ilmuwan kelautan menemukan bahwa gas

etana dan propana sangat melimpah, dan sedang dihasilkan oleh mikroorganisme dalam sedimen yang terkubur.

Selama ekspedisi di pantai Amerika Selatan, sebuah tim internasional ilmuwan kelautan menemukan bahwa gas

etana dan propana sangat melimpah, dan sedang dihasilkan oleh mikroorganisme dalam sedimen yang terkubur. Prof.

Kai-Uwe Hinrichs (Research Center Ocean Margins, University of Bremen), co-author Prof. John Hayes (Woods Hole

Oceanographic Institution), dan koleganya melaporkan penemuan baru produksi gas dalam sebuah paper di edisi

online Proceedings of the National Academy of Sciences of the U.S.A. (PNAS). Penemuan ini menyebutkan bahwa

mikroba yang terkubur jauh di dalam, ekosistem luas dibawah dasar laut melakukan proses tak dikenal, yang sangat

relevan untuk pemahaman siklus elemen global dan kemampuan metabolis biosfer mikrobial bumi.

‘Penemuan ini terjadi secara kebetulan,’ menurut Hinrichs. Dalam vessel pemboran untuk penelitian JOIDES

Resolution, ahli geokimia, saat ini di University of Bremen tapi juga di Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI),

menganalisa gas-gas dalam sedimen yang terkubur hingga 400 m di Equatorial Pacific, Peru. ‘Kami ditimbuni sampel:

hampir ribuan sampel, hingga sedimen berumur 40 juta-tahun, kami menganalisa kandungan gasnya.’ Walaupun

bekerja hingga 14 jam, para ilmuwan yang segera memiliki simpanan sampel tak teranalisa, beruntung. ‘Ketika kami

melihat kedalam sampel, kami mengetahui bahwa konsentrasi etana dan propana diperkirakan tinggi,’ Hinrichs

menambahkan. Segera para ilmuwan menyadari bahwa gas-gas ini bukanlah artifak atau kontaminan, yang tampaknya

mereka telah terpisah dari sedimen.

Para peneliti mulai membayangkan bagaimana cara untuk memperhitungkan kehadiran gas ini. Biasanya, etana dan

propana dikenal sebagai produk tipikal pembentukan bahan bakar fosil pada temperarur dan tekanan yang tinggi, tanpa

keterlibatan langsung dari mikroba. Dalam artikel PNAS, tim ini berpendapat bahwa mikroba memainkan peranan

kunci dalam pembentukan hidrokarbon.

‘Sedimen yang mengandung materi organik (sisa fosil tumbuhan dan binatang laut),’ Hinrichs menjelaskan. ‘Materi

ini, bahan kunci dalam siklus karbon, adalah makanan utama yang digunakan oleh biosfer di kedalaman. Selama

dekomposisi oleh mikroba, asetat–bentuk ionik dari asam asetat–terbentuk. Kami pikir bakteri menggunakan hidrogen

untuk merubah asetat menjadi etana. Tambahan karbon anorganik dan hidrogen memberikan rute untuk menjadi

propana.’

Dengan dukungan hipotesisnya untuk asal biologis gas-gas, para peneliti menunjukkan beberapa petunjuk: ‘Pertama,

lokasi pengambilan sampel jauh dari reservoir minyak dan gas alam, sehingga sumber ini bisa dieliminasi,’ kata Hinrichs.

‘Selain itu, melimpahnya isotop-isotop karbon stabil yang berbeda dari gas-gas yang dibentuk pada temperatur tinggi,’

menambahkan co-author John Hayes, seorang ahli geokimia di Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI).

Co-author Wolfgang Bach, ahli geokimia dan profesor di Bremer Research Center menyebutkan, ‘Kami juga mampu

mendemonstrasikan bahwa dalam kondisi yang berlaku di kedalaman, proses ini bisa menghasilkan energi yang cukup

untuk pertumbuhan komunitas bakteri.’

Paper ini mengarah pada beberapa pertanyaan baru yang yang akan ditujukan untuk pekerjaan di masa yang akan

datang. Dalam proyek PhD saat ini, dalam Organic Geochemistry Group di Research Center Ocean Margins, eksperimen

yang sedang dilakukan adalah untuk menempatkan lokasi sedimen dimana gas-gas bersembunyi. ‘Ruang antar lapisan

mineral lempung adalah kandidat terbaik saat ini,’ kata Hinrichs. Eksperimen lainnya yang saat ini sedang dirancang

untuk menemukan lebih banyak hal mengenai bagaimana gas-gas dibentuk. Ia menambahkan, ‘Satu tujuan penting saat

ini adalah untuk mempelajari proses ini dalam kondisi yang terkendali di laboratorium untuk menguji atau menggali

mekanisme tersebut.’ Hinrichs tahu bahwa tidak akan mudah untuk mensimulasikan proses-proses dari biosfer, tapi ahli

geokimia mengharapkan bisa mengidentifkasi dan mereplikasi kondisi yang diperlukan untuk menstimulasi mikroba

agar menghasilkan banyak pembawa energi ini.

Sumber : www.sciencedaily.com

Share This