Select Page

Rangkuman Diskusi Sipil dalam Mailing List Migas Indonesia bulan September 2006 diisi dengan artikel mengenai sistem komposit dalam teknik sipil.

Rangkuman Diskusi Sipil dalam Mailing List Migas Indonesia bulan September 2006 diisi dengan artikel mengenai sistem komposit dalam teknik sipil.

Material komposit adalah material solid yang mengandung dua atau lebih bagian atau bentuk yg secara makroskopik dapat dibedakan dan memiliki sifat yang tidak dapat dicapai oleh masing-masing bagian tersebut secara individu atau dengan cara penjumlahan sederhana.. Dengan kata lain, dengan bergabungnya beberapa bagian dalam suatu sistem komposit, maka akan terbentuk sifat baru yang tidak terdapat pada masing-masing dari bagian tersebut.

Penggunaan material komposit telah dikenal selama ribuan tahun pada alam sekitar kita. Pada jaman mesir kuno, jerami digunakan pada dinding untuk meningkatkan performa struktur. Kayu merupakan komposit alami yang sering digunakan selama ini. Para pekerja kuno telah mengenal istilah komposit dengan menggunakan ter untuk mengikat alang-alang untuk membuat kapal komposit 7000 tahun yang lalu.

Perkembangan dari material komposit tidak terbatas hanya pada material bangunan dan hal ini dapat dilihat pada abad pertengahan. Di Asia tengah, busur dibuat dari otot binatang, getah kayu dan benang sutera dengan bahan perekat sebagai pengikat. Hasil dari komposit yang berlapis-lapis (laminated) mimiliki daktilitas dan kekerasan (hardness) dari unsur pokoknya namun kekuatan merupakan efek sinergi dari gabungan sifat material.

Beton, material yang digunakan oleh seluruh dunia dan juga material berbasis semen lainnya juga merupakan suatu komposit. Perilaku dan sifat dari beton dapat dimengerti dan direncanakan, diprediksi dengan lebih baik bila dilihat sebagai komposit dan begitu pula dengan beton bertulang.

Material komposit akan bersinergi bila memiliki sebuah ‘sistem’ yang mempersatukan material-material untuk mencapai sebuah sifat material baru tertentu.
Seperti yang dikatakan oleh Aristotle pada 350SM ‘The Whole is more than just the sum of components’. Aristotle berkeyakinan bahwa skema konseptual secara keseluruhan dari alam perlu untuk dipersatukan dan tidak dapat ditinjau dari segi komponen yang terpisah-pisah. Hal ini yang penting untuk diperhatikan dalam perencanaan struktur oleh seorang engineer.

Share This