Rangkuman Diskusi Ekonomi Migas dalam Mailing List Migas Indonesia bulan September 2006 diisi dengan pembahasan mengenai etana dari gas alam yang digunakan sebagai bahan baku ethylene cracker.

Rangkuman Diskusi Ekonomi Migas dalam Mailing List Migas Indonesia bulan September 2006 diisi dengan pembahasan mengenai etana dari gas alam yang digunakan sebagai bahan baku ethylene cracker.

Untuk kasus di UAE, etana mulai dimanfaatkan sebagai raw material untuk ethylene cracker sejak tahun 2000. Dan kapasitasnya adalah ~ 600 kTa etilen. Pemanfaatan etana sebagai raw material industri ini secara ekonomi jauh lebih menguntungkan, kerena menimbulkan efek pengali yang cukup besar. Dengan dibangunnya industri ethylene cracker dan dipadukan dengan polyolefin (Polyethylene, polypropyle) secara berantai akan menggerakkan roda ekonomi sektor lain : kontraktor, spare part, sales untuk produk, menyerap tenaga kerja dll.

Apakah untuk kasus Bontang misalnya (dengan kandungan etana ~ 6% ?), tidak cukup ekonomis untuk memanfaatkan ini sebagai raw material industry ethylene cracker? Atau mungkin pernah dilakukan studi kelayakan, tapi hasilnya tidak layak?

Diskusi selengkapnya dapat disimak dalam file berikut: