Select Page

Mengatasi bencana lumpur ini memang bisa dari dua cara, yaitu menutup sumbernya, yang kedua mengelola lumpur yang sudah, sedang dan bakalan keluar.

Menutup sumbernya bisa dengan dua cara juga yaitu dari bawah permukaan dengan sumur juga usulan Rusia yang mboh seperti apa caranya [wong katanya rahasia pabrik], dan dari atas permukaan termasuk dengan ditableg besi dan atau beton.

Berikut pembahasan diskusi yang telah berlangsung di Mailing List Migas Indonesia bulan Desember 2006:

Rovicky Dwi Putrohari

‘Pakdhe, bagaimana kabarnya relief well ?

+ 🙁 ‘Au ah lapp !!’

– ‘Looh kan Pakdhe bilang harus terus dijalankan, kan katanya bisa dipakai untuk menambah data’

+ 🙁 ‘Au ah lapp !!’

Mengatasi bencana lumpur ini memang bisa dari dua cara, yaitu menutup sumbernya, yang kedua mengelola lumpur yang sudah, sedang dan bakalan keluar. Menutup sumbernya bisa dengan dua cara juga yaitu dari bawah permukaan dengan sumur juga usulan Rusia yang mboh seperti apa caranya [wong katanya rahasia pabrik], dan dari atas permukaan termasuk dengan ditableg besi dan atau beton.

– ‘Ada cara satulagi, Pakdhe. Dicemplungi kambing congek’

+ ‘Hust !’

Daripada suudzon (berprasangka buruk) karena tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana, mari kita lihat bagaimana penanganan di atas saja ya.

Mungkin karena kejadian di lain tempat merupakan gejala lama yang sudah dimulai ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Kebetulan saja ada sumur yg sedang mengebor disebelahnya yang dengan mudah dipakai sebagai alasan penyebab keluarnya lumpur panas.

Tapi skali lagi penyebabnya diobrolkan lagi nanti, karena yang lebih penting sekarang penanganan bencana ini.

Rangkuman Diskusi selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut:

Share This