Beberapa pertimbangan fluida ditempatkan di shell atau di tube :

1. Potensi fouling, jika salah satu fluida memiliki potensi fouling/scaling (misalnya karena punya komponen pengotor) maka sebaiknya ditempatkan di tube. Karena tube lebih mudah dibersihkan/dirawat dengan mudah.

2. Kebutuhan jenis material, jika suatu fluida memerlukan peralatan dengan jenis material khusus (misalnya harus alloy yang mahal) maka sebaiknya fluida itu di dalam tube. Karena material tube itu tersedia dalam berbagai variasi, sedangkan material shell biasanya cuma carbon steel.

3. Jenis fasa, jika dalam heat exchanger tersebut ada perubahan fasa maka sebaiknya…

Dirangkum Oleh : KBK Proses

Ahmed Syarif – Jurusan Teknik Gas & Petrokimia UI

Saya mahasiswa teknik kimia. Saya masih bingung tentang penentuan fluida yang dialirkan pada shell jika menggunakan heat exchanger jenis shell and tube. Bisa minta penjelasannya tentang penentuan kriteria dari dua jenis fluida yang akan ditransferkan panasnya dalam heat exchanger jenis tersebut. Yang mana yang akan dialirkan di shell dan yang mana yang akan dialirkan di tube.

Terimakasih atas tanggapannya.

Muchlis Nugroho – Rekayasa Engineering

Beberapa pertimbangan fluida ditempatkan di shell atau di tube :

1. Potensi fouling, jika salah satu fluida memiliki potensi fouling/scaling (misalnya karena punya komponen pengotor) maka sebaiknya ditempatkan di tube. Karena tube lebih mudah dibersihkan/dirawat dengan mudah.

2. Kebutuhan jenis material, jika suatu fluida memerlukan peralatan dengan jenis material khusus (misalnya harus alloy yang mahal) maka sebaiknya fluida itu di dalam tube. Karena material tube itu tersedia dalam berbagai variasi, sedangkan material shell biasanya cuma carbon steel.

3. Jenis fasa, jika dalam heat exchanger tersebut ada perubahan fasa maka sebaiknya fluida yang berubah fasa tersebut berada di shell (misalnya evaporator chiller dan surface condenser). Karena kalau di tube ada resiko hammering. Walaupun ada juga fluida yang berubah fasa berada di tube dengan arrangement khusus tentunya (misalnya HP boiler, dan air cooled condenser) karena pertimbangan perawatan, material, dsb.

Jadi pada intinya desain alat itu secara umum harus melalui pertimbangan maintainability, operability, reliability, constructability, safety, dan economy.

Tapi ada cara lain yang lebih mudah (tapi kalau mahasiswa mungkin malah susah) untuk menentukan fluida itu berada di shell atau di tube adalah dengan mencari tahu heat exchanger sejenis yang sudah pernah dibuat dan beroperasi bagaimana arrangementnya, dan bagaimana performancenya. Short cut saja lah.

Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Januari 2007 selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: