Select Page

Sistem transportasi gas dengan LNG maupun CNG memiliki metode pemilihan yang khusus untuk mencapai tingkat keekonomiannya, tergantung pada jumlah gas yang akan ditransportasikan, jarak tempuh, dan jumlah cadangan gas dari field.

Tanya – Indra Prasetyo

Rekans,

Saya sedang memikirkan kemungkinan mentransportasikan gas dari field/station ke sales point dengan mengubah gas tsb menjadi LNG kemudian di-trucking dan setelah tiba di tempat tujuan LNG tadi di regasifikasi lagi. Ada yg tahu atau punya pengalaman mengenai hal tsb diatas?

Yang kedua, mengenai CNG, ada yg tahu atau punya pengalaman dalam mentransportasikan gas dalam bentuk CNG?

Kalau diantara rekans ada yg tahu, punya pengalaman atau punya literatur/referensi//hasil study mengenai hal tsb diatas, mohon bisa di-share dengan saya.
Terima kasih.

Tanggapan 1 – priminst@dnet.net.id

Indra,

sekitar 2 tahun yang lalu ada teman di MPS/BP Migas menginformasikan ke saya tentang teknologi micro cell untuk pembuatan LNG yang masih dalam tahap pilot plant. Dengan teknologi ini kita bisa punya mini LNG plan dengan kapasitas sekecil 5 MMscfd (sampai sekitar 50- 100 MMscfd) yang di ‘mount’ diatas truk sehingga bisa dibawa ke sales point.

Teknologi ini dikembangkan di Curtin university, Perth, kontaknya Prof. Robert Amin. Saya tidak tahu sudah sampai tahap mana sekarang.

Mungkin Indra bisa cari kintak denga dia atau browse ke web nya Curtin.

Tanggapan 2 – Hasanuddin

Benar kalo ada pepatah bilang, dimana ada gula di situ ada semut. Dalam case ini, ‘GULA’ adalah industri terutama power plant/CCGT, sedangkan rombongan ‘SEMUT’-nya adalah industri transportasi gas (baca: pipeline dan LNG). Coba kita amati, konsumsi gas (terutama LNG) benar2 melonjak dengan drastis ketika demand akan MW listrik melonjak begitu besar.

Jadi, dalam konteks ini saya melihatnya lebih kepada factor kompetisi tentang bagaimana cara mendistribusikan gas yang paling efektif?? Apakah harus pake pipeline ataukah gas mesti di-LNG-kan dulu??? Siapa yang lebih competitive (ekonomis, safety, supply reliability dan mungkin juga political factor) tentu itu yang lebih layak dipilih. Pipeline-kah???

Atau LNG-kah???

Mungkin perlu ditelaah lebih jauh ttg factor2 seperti jarak field ke sales point, seberapa gede gas quantity-nya, kesiapan infrastruktur (plant untuk mengkonversi GTL dan regasifikasinya), referensi safety stories dari plant2 sejenis (baik pipeline maupun LNG dan regasification plant), dll.

Masing2 punya kelebihan dan juga kekurangan. Perkembangan teknologi keduanya udah sangat pesat. LNG sekarang ini processing train-nya sudah bener2 large size, equipment-nya inovatif dan selalu ada improvement, yang pada hakikatnya bisa secara significant mereduce cost. Pipeline demikian juga. Berkembang sangat pesat dari segi line diameter, kemampuan beroperasi pada high pressure dan layability pada ultra deepwater adalah contoh bahwa pipeline juga sangat kompetitif sebagaimana LNG.

Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia untuk selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut :

Share This