Concrete gravity platform banyak dipakai di perairan laut utara semacam Norway, UK, Denmark, Belanda dan negara2 di kutub utara. Konstruksinya memang sesuai untuk kedalaman tidak melebihi 350m. Struktur beton yg digunakan juga relative tahan terhadap korosi. CGP terbesar berada di Norway, dipasang pada kedalaman 217m, dengan berat topside modules 52,000 ton memiliki kapasitas penyimpanan 2jt bbl.

Tanya – didik.setya

Bpk/Ibu Milist Migas Yth,

Saya sedikit mempelajari tentang Gravity Platform, yaitu jenis Platform yang biasa dipakai di laut dalam dengan kondisi perairan yang ganas, korosi tinggi, dan biasa dipakai pula di lautan es seperti di Laut Utara (Norwegia) ataupun lautan dekat kutub (mohon koreksinya jika ada kesalahan).

Yang jadi pertanyaan saya apakah ekonomis jika Gravity Platform ini di pakai diperairan Indonesia Bagian Timur, yang notabene kedalaman lautnya yang mencapai 1000 meter (di Lapangan West Seno) dengan kondisi lingkungan yang cukup ganas juga dibanding menggunakan TLP (Tension Leg Platform), seperti yang telah di Install di Lapangan West Seno? Toh pun bentuk fisik dari Gravity Platform dapat dimanfaatkan sebagai storage (tempat menyimpan minyak) di bagian dalamnya karena bentuknya yang besar, biasanya berbentuk lingkaran dan cukup luas —–>> di Norwegia bahkan ada yang luasnya mencapai/sama dengan lapangan sepak bola??. Jadi mungkin tidak diperlukan lagi tanker sebagai storage.

Alasan yang kedua, kondisi geografis di Indonesia yang memungkinkan dapat menyediakan semen dalam jumlah yang berlebih?? Tapi mungkin sayang karena harga semen di negeri ini masih2 sangat mahal?? —–>> mohon koreksinya…

Atau penerapan dari teknologi ini masih dianggap mahal jika dipakai di perairan Indonesia

Mohon pencerahannya…

Berikut tanggapan dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia: