Select Page

Ada 3 type membrane yg umumnya digunakan utk RO: cellulose acetate, polyamide, dan thin film composite polyamide membrane. Kerusakan membrane bisa disebabkan karena kerusakan fisik spt hydraulic shockmaupun karena deteriorasi membrane itu sendiri.

Tanya – us mar

Mohon pencerahan mengenai Reverse Osmosis untuk pembuatan fresh water dari air laut. Khususnya mengenai process maintain agar life time membran bisa lebih tahan lama dan awet.

Tanggapan 1 – YudaTomo

Pak us mar,

Apakah sudah pakai RO atau masih penjajakan?

Di tempat saya, kita punya sea water RO & brackish water RO, dengan cap 150 m3/hr, semuanya beroperasi dengan cukup efficient dan cost effective. Treatment tidak terlalu complicated, control juga mudah (banyak yg beranggapan bahwa treatment RO complicated dan rentan thd gangguan, ternyata tidak kok). Life time membrane kita sudah mencapai 4 tahun dan performance-nya masih OK (ideal life time sea water RO membrane ~ 4 tahun).

Ada 3 type membrane yg umumnya digunakan utk RO: cellulose acetate, polyamide, dan thin film composite polyamide membrane. Kerusakan membrane bisa disebabkan karena kerusakan fisik spt hydraulic shockmaupun karena deteriorasi membrane itu sendiri.

Priming yg kurang sempurna pada saat start up sehingga masih ada udara terjebak di system, umumnya menyebabkan kerusakan fisik pada O-ring connection, adaptor, glue line, outer casing bahkan pada kasus yg parah sampai merobek membrane.

Pada saat start up, juga perlu dihindari adanya kenaikan tekanan feed (inlet) water yg terlalu drastic. Umumnya, pada inlet RO, dipasang motorized valve yg akan membuka perlahan/ bertahap saat start up, sehingga pressure shock bisa diminimalkan.

Deteriorasi membrane pada dasarnya disebabkan 2 hal: hydrolysis dan fouling.

Hydrolisis terkait pada susceptibility membrane pada pH. Cellulose acetate membrane akan mulai ter-hydrolisis pada pH > 8. Polyamide membrane tahan thd pH sampai 11. Selain itu residual chlorine juga bias menyebabkan irreversible damage pada membrane. Pada system RO di mana raw waternya menggunakan air yg sudah di-chlorinasi, umumnya digunakan sodium bisulfite/ metabisulfite yg sudah diberi katalis utk menghilangkan residual chlorine ini, sebelum feed water masuk ke membrane. Typical limit utk chlorine adalah 0.1 mg/L utk polyamide membrane dan 1 ppm utk cellulose acetate.

Fouling juga menentukan life time membrane. Irreversible fouling bias terjadi akibat akumulasi partikel2 pengotor di permukaan membrane yg tidak dapat dihilangkan dengan metode physical maupun chemical (cleaning). Dua factor utama penyebab irreversible fouling adalah partikel2 pengotor dengan ukuran < 5 micron dan organic matter yg terlarut.

Reversible fouling umumnya disebabkan karena akumulasi senyawa2 inorganic spt oksida2 besi, aluminium, dan silica yg menyebabkan scaling & deposition di permukaan membrane. Utk mengurangi potensi scaling ini, raw water pH bisa di-control (diturunkan) sehingga kelarutan bahan2 spt CaCO3, CaSO4, Mg(OH)2, dll tidak terlewati. Selain menyebabkan irreversible fouling, organic matter baik colloidal maupun yg awalnya terlarut juga bisa menyebabkan reversible fouling. Biological fouling yg timbul karena tumbuhnya slime di permukaan membrane juga dapat terjadi.Utk mengontrol biological fouling ini, selain dengan chlorinasi, injeksi biocide (biasanya berbasis DBN PA) secara intermittent (misalnya tiap minggu) juga sangat membantu.

Tanggapan selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut :

Share This