Untuk PLTU batu bara kapasitas besar, dummy load tidak mungkin digunakan, karena bisa bayangkan berapa besar konduktor yang diperlukan dan berapa luas kolam fluida yang harus tersedia sedangkan Automatic Voltage Regulator digunakan untuk menjaga kestabilan dari tegangan yang dihasilkan generator, yang secara sederhana adalah dengan mengatur medan magnet, arus eksitasi dan panjang penampang penghantar.

Tanya – Errick

Rekan-rekan migas,

Untuk sebuah power plant khusus untuk melayani suatu plant (bukan untuk umum), khususnya PLTU berbahan bakar batu bara, ada sebuah sistem untuk mengalihkan beban yang hilang secara tiba-tiba ke dummy load (saya belum tahu istilah dalam bahasa Indonesia, mungkin bisa disebut beban bayangan). Misalnya, sebuah mesin di pabrik memakai daya 500 kW, namun karena ada masalah korsleting, secara tiba-tiba saklar (atau sekering) pasti akan memutuskan arus listrik. Agar turbin tidak overspeed (berputar berlebihan), dibutuhkan dalam waktu yang sangat singkat (sekitar 0,1 detik atau misalnya 1 detik) untuk mengalirkan arus listrik ke dummy load tersebut. Karakter boiler batu bara yang sangat lambat untuk mengurangi steam flow dan steam pressure yang dihasilkan, maka system ini dipakai.

Yang saya mau tanyakan adalah seperti apa dummy load untuk listrik dengan daya sebesar itu (mungkin bisa jadi 3 phase dan dengan voltase tinggi)?

Lalu konsepnya seperti apa, karena ada yang mengatakan memakai lempengan besi yang diberi jarak dengan diganjal insulator, kemudian dicelupkan ke air. Atau juga ada yang memakai Lampu dan lain sebagainya. Kira-kira konsep seperti apa yang terbaik dari segi Environtment, Health and Safety? Mungkin di milis migas ini ada pakar di ketenaga-listrikan bisa menjawab pertanyaan saya di atas.

Tanggapan 1 – Albert Marihot

Dear Mas Errick,

Untuk PLTU batu bara kapasitas besar, dummy load tidak mungkin digunakan, karena anda bisa bayangkan berapa besar konduktor yang diperlukan dan berapa luas kolam fluida yang harus tersedia sedangkan Automatic Voltage Regulator digunakan untuk menjaga kestabilan dari tegangan yang dihasilkan generator, yang secara sederhana adalah dengan mengatur medan magnet, arus eksitasi dan panjang penampang penghantar. Dalam kasus terjadi load rejection, maka untuk menghindari turbin overspeed, main steam akan dialirkan melalui high pressure bypass menuju condenser. Selanjutnya terserah kepada operator apakah akan me-shutdown pembangkit atau tetap mengoperasikannya untuk mensuplai listrik ke auxiliary system (house load), sehingga tidak perlu melakukan proses startup apabila load sudah terhubung. Sepengetahuan saya, istilah dummy load bukan digunakan untuk kasus load rejection ini, namun lebih untuk membuat electrical load stabil, sehingga electrical supply tidak banyak melakukan manuver kontrol dan untuk mencapai kondisi operasi optimum. Contoh dummy load yang environmental friendly adalah sistem Pump Storage pada PLTA. Selama beban jaringan rendah, maka listrik yang disuplai PLTA sebagian digunakan untuk menjalankan pompa untuk mengalirkan air ke reservoir yang permukaannya lebih tinggi. Saat beban puncak, maka air pada reservoir ini akan dialirkan kembali menuju turbin untuk membantu pembangkitan. Dengan sistem ini, load akan relatif stabil sepanjang saat, proses pengontrolan menjadi lebih sederhana dan sistem dioperasikan pada kondisi optimumnya.

Demikian, semoga membantu.

Tanggapan dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia lainnya: