Select Page

Sertifikasi atas suatu instrumen baru bisa dikeluarkan setelah dilakukan test terhadap banyak kriteria instrumen ybs. Sesuai dengan klasifikasi sertifikasinya, ditambah dengan persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Jadi dengan perkataan lain, semua instrumen yang sudah mendapatkan sertifikasi, telah dilakukan semua test dan dinyatakan lulus. Misalnya untuk sertifikasi IS pada instrumen, berarti instrumen tersebut sudah IS, dan tidak perlu melakukan test ulang di lapangan. Itulah gunanya sertifikasi, dimana pengetesan dilakukan oleh otoritas pihak ketiga yang mengeluarkan sertifikat.

Tanya – Yoga

Setelah membaca apa yang bapak-bapak sekalian diskusikan, sepertinya pada industri MIGAS belum ada standard sertifikasinya ?. Maaf kalau saya salah. Kalau memang demikian siapa authority yang memperbolehkan suatu plant/system diijinkan beroperasi ?.

Dalam industri pesawat terbang semua system/komponent sudah mempunyai standar/sertifikasi, apalagi untuk system yang mempunyai safety effect yang tinggi (hazardous dan catastrophic). Sertifikasi tiap-tiap part/system biasanya dilakukan oleh vendor (tentunya kita bisa mem-verifikasi/validasi ), sedangkan sertifikasi pesawat dilakukan oleh pembuat pesawat tersebut.

Mengenai pengetasan lapangan/integrasi dari sistem-sistem, tentunya tidak bisa semua dilakukan. Apabila safety effect adalah major kebawah bisa dilakukan pengetesan sekaligus untuk verifikasi/validasi analisa dari Functional Hazard Analysis. Saya sependapat dengan P. Waskita, apabila dilakukan pengetesan untuk area Hazardous ke atas, bisa dibayangkan akibatnya.

Kalau yang dimaksud pengetesan per komponen, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan atau requirement yang kita tentukan. Pada waktu membeli komponen tentunya ada hal yang harus dipenuhi oleh vendor. Biasanya tertuang dalam SCD.

Tanggapan 1 – Waskita Indrasutanta

Pak Yoga, sertifikasi di industri migas sudah ada sih. Inilah yang sedang didiskusikan.

Tanggapan 2 – Waluya Priatna

Pak Yoga, Sucofindo JKT sudah bisa melakukan sertifikasi alat-alat electrical & instrument.

Tanggapan 3 – Waskita Indrasutanta

Sertifikasi atas suatu instrumen baru bisa dikeluarkan setelah dilakukan test terhadap banyak kriteria instrumen ybs. Sesuai dengan klasifikasi sertifikasinya, ditambah dengan persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Jadi dengan perkataan lain, semua instrumen yang sudah mendapatkan sertifikasi, telah dilakukan semua test dan dinyatakan lulus. Misalnya untuk sertifikasi IS pada instrumen, berarti instrumen tersebut sudah IS, dan tidak perlu melakukan test ulang di lapangan. Itulah gunanya sertifikasi, dimana pengetesan dilakukan oleh otoritas pihak ketiga yang mengeluarkan sertifikat. Kita bayangkan apabila suatu device yang mempunyai spesifikasi ‘burst pressure’ misalnya 100 Bar dan sudah ada sertifikasinya bahwa memang betul ‘burst pressure’ adalah 100 Bar, kita tidak perlu lagi melakukan ‘burst pressure’ test pada semua device yang akan kita pasang. Melakukan ‘burst pressure’ test adalah memberikan tekanan sampai terjadi ‘burst’ (artinya sampai pecah, crack atau dengan perkataan lain sampai rusak). Kalau kita test lagi dilapangan untuk mengetahui burst pressure
rating sebenarnya, berarti kita harus merusakkan semua device yang akan kita pasang dan berarti tidak
ada yang bisa dipasang. Apalagi untuk IS, apakah kita mau melakukan test yang ber-risiko terjadinya api
di lapangan yang hazardous ?.

Apabila terjadi kecelakaan (terjadi kebakaran) meskipun semua instrumen dan instalasi kita adalah IS,
maka kita akan harus meminta pihak inspeksi otoritas melakukan audit IS di-instalasi kita untuk criteria
IS yang ditentukan. Pihak otoritas pemberi sertifikat bertanggung jawab atas sertifikasi yang dikeluarkan.
Apabila kedapatan bahwa kesalahan ada dipihak pabrikan/vendor/kontraktor yang tidak memenuhi semua persyaratan serftifikasi, maka pabrikan/vendor/kontraktor ybs. harus bertanggung jawab.

Mungkin yang dimaksud contoh-contoh dibawah adalah dimana sertifikasi baru dilakukan setelah pengetesan dilapangan. Dan beberapa contoh seperti PSV, PRV, Setpoint Alarm, dsb. adalah kalibrasi dan pengetesan bahwa device sudah di-set sesuai rancang bangun (desain).

Selengkapnya :

Share This