Pengeboran lepas pantai bisa dilakukan dengan 3 jenis ‘kendaraan’ atau drilling rig, tergantung pada kedalaman air di tempat tsb:

a. Untuk kedalaman 7 – 15 ft (laut dangkal) biasanya dipakai rig jenis ‘swamp barge’.

b. Untuk kedalaman 15 – 250 ft, biasanya digunakan jack-up rig (biasanya berkaki 3 atau 4, dan ada yang type independent legs dengan spud can di masing2 leg atau ada juga yang non-independent leg dengan type ‘mat foundation’ seperti fondasi telapak).

Tanya – Fendi Setiawan

Kepada Rekan2x milist

Mungkin juga bisa dijlskan detail explorasi khusus nya utk process drilling di off and onshore. dan walaupun saya skrng bekerja di Tambang.tetapi saya ingin skli mengetahui process ini mohon dunk bantuan teman2x yg tau ato memang sudah bgian actifitas nya sehari2x bisa share dsni.
Thanks

Tanggapan 1 – Harry Eddyarso

Rekan Fendi Yth,

Perihal ini pernah saya bahas di milis ini tertanggal 28 October 2006 (waktu itu yang nanya rekan Irvan). Oleh karena itu ada baiknya saya kirimkan kembali (maaf bagi rekan2 yang udah baca, mohon langsung di delete aja):

Note:

Saya masih ada beberapa bahasan menjawan beberapa pertanyaan di milis ini tentang drilling (termasuk casing drilling), namun masih berupa draft. Ntar kalo udah kelar (dan gak sibuk) akan saya kirim (siang ini aku terbang lagi ke batam) 🙂

My posting dated 28 October 2006:

As per your request, saya akan mencoba untuk menuliskan ikhtisarnya aja mengenai pengeboran lepas pantai.

A. Rig Selection and Positioning:

Pengeboran lepas pantai bisa dilakukan dengan 3 jenis ‘kendaraan’ atau drilling rig, tergantung pada kedalaman air di tempat tsb:

a. Untuk kedalaman 7 – 15 ft (laut dangkal) biasanya dipakai rig jenis ‘swamp barge’. Caranya yaitu dengan memobilisasi rig ke lokasi sumur, setelah itu rig ‘ditenggelamkan’ dengan cara mengisi ballast tanksnya dengan air. Setelah rig ‘duduk’ di dasar dan ‘spud can’ nya nancep di dasar laut, baru proses pengeboran bisa dimulai. Untuk mencegah rig terdesak arus laut yang kadang2 kuat, biasanya posisi rig distabilkan dulu dengan cara mengikatkan rig pada tiang2 pancang di sekitarnya, sebab apabila tidak stabil dan posisi rig tergeser oleh arus, hal ini bisa bikin problem yang serius, terutama sumur.

Pembahasan selengkapnya dari Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia bulan Maret 2007 ini dapat dilihat dalam file berikut :