Select Page

Istilah ‘Wet Blasting’ biasanya mengacu pada abrasive blasting yang disertai air untuk menekan (me-reduce) percikan api akibat benturan grit dengan metal pada saat proses blasting berlangsung. Manfaat lain dari wet blasting adalah berkurangnya tingkat polusi debu (dust & debris) karena terbawa oleh air yang menyertai abrasive material.

Tanya – Firman Susilo Hidayat /p>

Hari ini saya baru dapat informasi tentang Wet Blasting, mungkin ada rekan2 migas sekalian yang tahu tentang wet blasting, apa bedanya dengan Grit Blasting (dry blasting), bagaimana standarnya wet blas dibanding gritblast (standar SA nya) dan lebih ekonomis mana pakai wet blast dibanding dengan grit blast?

Atas infonya saya ucapkan terima kasih.

Tanggapan 1 – Dwi A.S. Utomo

Saya coba jawab ya.

Istilah ‘Wet Blasting’ biasanya mengacu pada abrasive blasting yang disertai air untuk menekan (me-reduce) percikan api akibat benturan grit dengan metal pada saat proses blasting berlangsung. Manfaat lain dari wet blasting adalah berkurangnya tingkat polusi debu (dust & debris) karena terbawa oleh air yang menyertai abrasive material.
Wet blasting ini banyak digunakan dalam operasi blasting/painting di areal proses atau in service piping dimana total shutdown biasanya tidak dapat dilakukan. Atau area dimana fire/dust restrictions sangat tinggi (daerah proses, daerah yg berdekatan dengan instrumen yang peka debu, dll).

Wet blasting sendiri sebenarnya ada beberapa jenis/praktek. Yang banyak dilakukan di Indonesia adalah mencampurkan air di ujung blasting hose/blasting nozzle, untuk kemudian air dialirkan selama blasting berlangsung. Jadi air akan ikut terbawa oleh semburan grit, dan proses tercampurnya abrasive material dan air berlangsung di depan blasting nozzle.

Slurry blasting, adalah proses wet blasting dimana air dimasukkan ke dalam aliran abrasive material, jadi pencampuran air dengan abrasive materialnya terjadi dibelakang blasting nozzle.

Baik pancampuran sebelum/sesudah blasting nozzle memiliki alat khusus (water ring/water injector) agar pencampuran air efektif, dengan debit air yang cukup untuk menekan spark dan debu tadi. Namun demikian sering terjadi di lapangan, operator/kontraktor mengakali ‘wet abrasive blasting’ dengan mengikatkan selang air ke blasting hose, kemudian mengalirkan air selama proses blasting berlangsung. Menurut saya cara ini sebenarnya kurang efektif untuk menekan dust dan spark, namun demikianlah kenyataan yang terjadi di lapangan.

Mengenai standardnya, sebenarnya mirip2 saja antara wet blasting maupun dry blasting, Sa 1 – 2 – 2 1/2 – 3 (SSPC-SP 7, SP-6, SP-10, SP 5, atau NACE No.4, No.3, No. 2, No.1). Namun akibat penggunaan air pada proses blasting, secara visual akan terlihat ‘shade’ yang agak berbeda dari hasil dry abrasive blasting yang biasanya. Selain itu juga akan timbul flash rust, yaitu noda kekuningan (sebenarnya sih ini produk oksidasi juga) yang timbul akibat basahnya bare metal. Level flash rust ini (light, medium, dan heavy) dan kecepatan ‘muncul’ nya juga bervariasi, tergantung kualitas air yang digunakan, rust inhibitor yang digunakan dalam campuran air, juga tergantung kondisi awal besi baja yang di-blasting. Sebagai informasi, SSPC dan NACE sudah mempublikasikan referensi visual khusus untuk menentukan tingkat kebersihan dan level flash rust yang timbul pada wet abrasive blasting, yaitu SSPC-VIS 5 dan NACE VIS 9.

Masalah ekonomis, jika dihitung secara head to head, tentu saja lebih ekonomis dry abrasive blasting. Namun demikian semakin banyak client yang mensyaratkan penggunaan wet blasting, terutama untuk pekerjaan blasting/painting di offshore/process area, dengan pertimbangan faktor safety dan dan pencemaran lingkungan yang lebih terkendali.

Demikian sedikit informasi mengenai wet blasting dari saya, semoga bermanfaat.
Silakan rekan-rekan yang lain mengoreksi jika ada yang salah.

Share This