Select Page

Preventive maintenance adalah tindakan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala sesuai dengan anjuran pada instruction manual atau pengalaman si crew maintenance terhadap equipment ybs. Misalnya, penggantian oli yang dilakukan setiap 6 bulan atau penggantian grease setiap 8000 running hours, penggantian bucket gas turbine setiap 12000 running hours dst-nya. Sedangkan Predictive maintenance adalah salah satu metode pemeliharaan yang didasarkan pada kondisi equipment yang sedang dicheck. Predictive maintenance membutuhkan bantuan alat-alat presisi seperti Vibration Analyzer, Oil Analysis, Ultrasonic, dll. Dengan memakai Vibration Analyzer, kita misalnya bisa mengetahui gejala kerusakan pada bearing, looseness, unbalance pada kondisi yang paling dini, sehingga kita bisa melakukan persiapan untuk shutdwon dengan lebih terencana. Pembelian atau pembuatan spare parts, manpower, tools dapat dipersiapkan lebih awal sehingga kalaupun kita melakukan shutdwon akan membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih sedikit.

Tanya – nuklindana.darma

Dear milist-ers

Saya mohon pencerahan ttg:

1.perbedaan preventive vs predictive maintenance kalo bisa disertai contoh aplikasinya diindustri spt apa?

2.Konsep BCP –> business continous plan?!

Thanks a lot…

Tanggapan 1 – Yeri Kurniawan

Pak Nuklidana,

Saya coba bantu dikit.

Preventive maintenance adalah tindakan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala sesuai dengan anjuran pada instruction manual atau pengalaman si crew maintenance terhadap equipment ybs. Misalnya, penggantian oli yang dilakukan setiap 6 bulan atau penggantian grease setiap 8000 running hours, penggantian bucket gas turbine setiap 12000 running hours dst-nya.

Predictive maintenance adalah salah satu metode pemeliharaan yang didasarkan pada kondisi equipment yang sedang dicheck. Predictive maintenance membutuhkan bantuan alat-alat presisi seperti Vibration Analyzer, Oil Analysis, Ultrasonic, dll. Dengan memakai Vibration Analyzer, kita misalnya bisa mengetahui gejala kerusakan pada bearing, looseness, unbalance pada kondisi yang paling dini, sehingga kita bisa melakukan persiapan untuk shutdwon dengan lebih terencana. Pembelian atau pembuatan spare parts, manpower, tools dapat dipersiapkan lebih awal sehingga kalaupun kita melakukan shutdwon akan membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih sedikit.

Mengenai Business continous plan mungkin yang lain bisa membantu.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia:

Share This