Tindakan korektif adalah sesuatu yang sangat penting sebagai sebuah mekanisme yang harus dilakukan untuk kesuksesan operasional dan pengendalian sebuah perusahaan/organisasi modern. Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System) baik yang menyandarkan diri kepada standard ISO 9001maupun yang non ISO 9000 selalu menekan kan perlu nya Tindakan Korektif dan bahkan mempersyaratkan agar sebuah prosedur tertulis harus ada untuk panduan, protokol dan menspesifikan Tindakan Korektif ini pada prosedur tersebut.

Dirman Artib

(Tulisan ini akan bersambung dalam beberapa Part)

*Pendahuluan:*

Tindakan korektif adalah sesuatu yang sangat penting sebagai sebuah mekanisme yang harus dilakukan untuk kesuksesan operasional dan pengendalian sebuah perusahaan/organisasi modern. Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System) baik yang menyandarkan diri kepada standard ISO 9001maupun yang non ISO 9000 selalu menekan kan perlu nya Tindakan Korektif dan bahkan mempersyaratkan agar sebuah prosedur tertulis harus ada untuk panduan, protokol dan menspesifikan Tindakan Korektif ini pada prosedur tersebut.

Tindakan korektif selalu dipicu oleh ketidaksesuain (nonconformity).
Tindakan Korektif dan Nonconformity harus menjadi masukan ‘input’ bagi Management Review sebagai sebuah proses untuk adanya Peningkatan yang Berkelanjutan (Continual Improvement) dari sebuah Sistem Manajemen Mutu.

Jadi interrelasi/interraksi prosesnya adalah :

Nonconformity —> Corrective Action —-> Management Review —–> Improvement

Dari pengalaman saya sendiri, dan informasi yang lahir dari pertanyaan para teman-teman/para sohib baik lewat japri, obrolan di warung kopi bermerek Amerika (dan Warkop pinggir jalan, juga kok pren 🙂 ), saya menangkap kesan banyaknya kendala dalam menerapkan Tindakan Korektif dalam sebuah organisasi. Penyebabnya juga secara umum dan khusus sangat bervariasi, mulai dari aspek SDM, metode/ketidakjelasan definisi, ketidaktersediaan tool/alat bantu, budaya perusahaan, office politic, dll.

Dampak dan keparahan pun juga bermacam-macam, mulai dari level ketidak konsisten an implementasi, mandek/tak jalan-jalan,kehilangan arah, bahkan sampai level frustrasi ‘ah, persyaratan ini tak bisa diterapkan pada aktivitas EPCI of oil & gas’.

*Apa itu Tindakan Korektif dan Ketidaksesuain?*

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia Bulan April 2007 dapat dilihat dalam file berikut :