Select Page

Berikut adalah pembahasan Rangkuman Diskusi mengenai Lumpur Lapindo dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia yang telah berlangsung di Milis Migas Indonesia beberapa waktu lalu yang telah dirangkum oleh Bapak Harry Eddyarso.

Lumpur Lapindo – Discussion Summary

Oleh : Harry Eddyarso

Posting saya tanggal 28 September 2006: Tentang Seminar LUSI oleh IAGI (27 September 2006)

Dear all

Siang hari kemarin saya sempat menghadiri seminar kecil yang diadakan oleh IAGI di Hotel Sahid yang membahas tentang isu Lumpur panas Sidoarjo (LUSI).
Sebagai pembicaranya adalah Bapak Bambang Istadi (Lapindo Brantas), Bapak Eddy Sunardi (IAGI?) dan Bapak Rudi Rubiandini (ITB, yang juga sebagai team independent untuk investigasi bencana LUSI).

Sebagai pembicara I adalah Bapak Bambang Istadi yang presentasinya masih mirip dengan presentasi beliau sebelumnya di JW Marriott (dalam acara IATMI luncheon talk), namun kali ini dengan back up data dan referensi yang lebih lengkap. Secara general, isi presentasi tsb menurut saya agak ‘menggiring’ opini publik ke arah isu mud volcano sebagai fenomena alam yang menjadi pemicu bencana LUSI (yang ujung2nya ke arah ‘bencana alam’, setidaknya ini menurut pendapat pribadi saya, karena dihubung2kan dengan gempa dan rekahan2 baru akibat gempa). Praktis hampir tidak disinggung sama sekali korelasi antara teori mud volcano tsb dengan kegiatan pemboran sumur Banjar Panji 1 yang disinyalir sebagai sumber awal dari problema LUSI. Instead, lebih banyak ditampilkan fenomena2 sejenis yang terjadi di Bledug Kuwu dan di tempat2 di belahan dunia lain, dengan pendekatan geologis (dan geophysicist) nya.

Pak Eddy Sunardi sebagai pembicara II juga lebih banyak membahas topik2 temuan investigasinya dengan penjelasan yang lebih kurang sama (dari segi geologis nya aja – atau mungkin karena forumnya memang forum IAGI kali ya), ditambah dengan data2 ‘product’ lumpur berikut kandungan2nya serta menyinggung sedikit dampak sosial bagi masyarakat dan bagi lingkungan bila Lumpur tsb dibuang ke sungai Porong atau ke laut. Tapi tidak menyinggung secara detail korelasinya dengan operasi pengeboran sumur BP-1.

Nah, sebagai Pembicara III, Pak Rudi Rubiandini – menurut kesan saya – lebih komprehensif dalam menyampaikan temuan2 dan hasil analisanya, termasuk dari aspek geologi, aspek drilling dan juga aspek2 yang mungkin merupakan ‘benang merah’ yang menghubungkan keduanya. Dari aspek drilling, pada umumnya tidak berbeda isinya dengan posting2 saya terdahulu (seperti isu2 tekanan hidrostatis, well killing, stuck pipe, fracture gradient, casing design, dsb). Hanya dalam presentasi kemarin, Pak Rudi menyampaikan data dan analisanya jauh lebih lengkap dengan basic theory yang strong dan relevant, sehingga semakin terkesan lebih obyektif, lebih masuk akal dan lebih bisa diterima sebagai bahan pembelajaran bagi pelaku2 bisnis migas, khususnya drilling. Selain itu, Pak Rudi juga menjelaskan penyebab kegagalan snubbing unit (Opsi 1) karena gagal mendorong ke bawah pipa yang kejepit sangat lengket di dalam casing; juga kegagalan Opsi 2 (sidetracking melalui window cutting di casing) karena casing sudah collapse di point yang lebih tinggi dari perkiraan sehingga opsi cutting window di drop. Barulah akhirnya team focus pada opsi 3 (relief well). Dan semuanya itu beliau sampaikan dalam bentuk presentasi yang lugas, cerdas dan jelas. Saya puas banget deh dan gak penasaran lagi karena info2 yang saya cari2 selama ini sudah dapat jawabannya.

Dalam sesi tanya jawab, saya sempat tanyakan hal2 yang krusial sbb:

1. Pompa Lumpur:

Dengan debit 50,000m3 / hari, menurut perhitungan saya diperlukan 22 pompa besar dengan kapasitas > 10 barrel / menit (> 1500 HP), untuk bisa mengimbangi debit semburan lumpur yang dahsyat itu.

Pembahasan dari Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat dalam file berikut :

Share This