Select Page

Susunan kimiawi batuan dari satu daerah di kedalaman tertentu bisa berbeda-beda dengan tempat2 yang lain. Bahkan di lobang yang sama, mud properties dari hole section yang atas dengan hole section di bawahnya bias berbeda karena perbedaan kimiawi batuan tsb, selain formation pressure dan temperaturenya juga bisa berbeda. Semakin tinggi temperature dan tekanan di hole section tertentu, semakin ketat pula pengawasan mud properties yang diperlukan (mud cost / bbl nya pun biasanya akan semakin mahal). Dalam operasi drilling, mud properties ini akan di cek terus secara kontinu, at least 2x sehari untuk me-maintain mud properties yang diinginkan. Lumpur yang sudah dipersiapkan dengan cantik akan berubah propertiesnya karena adanya kontaminasi dengan masuknya material2 serta fluida2 lain yang berasal dari lubang yang sedang dibor.

Tanya – roni tang

Tanya – Bapak2/Ibu2,

Bapak2/ibu2, saya ingin menanyakan masalah test pada propertis(formula) dari fluids(new mud)/lumpur baru yang digunakan pada saat akan melakukan pengeboran.
Apakah ada standard yang mengatur berapa besaran %LGS,%HGS,ASG,O/W Ratio,Salinity,Electrical Stability,YP,PV,Excess Lime, Density,Viscosity,HP-HT,Gel Strenght dll. atau besaran tersebut tergantung dari formasi lubang. Atau tiap2 company mempunyai standard tersendiri.atau mungkin ada di API atau standard lain..Mohon pencerahan dan penjelasannya.

Terima Kasih

Tanggapan 1 – Ridwan Hardiawan

Bapak Roni,

Sepengetahuan saya, tidak pernah ada standar yang menyebutkan angka2 besaran untuk parameter lumpur. Begitu pula di antara company2, tidak ada standar masing2 company yang menyebutkan angka spesifik untuk parameter2 yang anda sebutkan. Semuanya benar bergantung pada kondisi sumurnya masing2 dan metode pengeboran yang direncanakan, sumur yang hanya berbeda puluhan meter saja bisa berbeda requirement lumpurnya. Umumnya nilai2 uji lab digunakan untuk pembanding antara satu Lumpur dengan lumpur lainnya.

Di dalam perencanaan lumpur untuk satu sumur tentunya didapatkan dari data lumpur/ data drilling yang didapat dari hasil pemboransumur-sumur tetangga/ sumur yang dekat. Apakah harus pakai densitas tinggi/ atau rendah untuk menahan tekanan formasi dan juga menghindari loss circulation?, viskositas tinggi atau rendah untuk hole cleaning purpose dan bit hydraulic?, apa harus pakai filtration loss agent?, apa harus pakai swelling inhibitor? apa lebih cocok oil base mud atau water base mud? bagaimana performanya di tekanan rendah dan tinggi?dsb. Maka dari itu sumur2 ekspolrasi selalu lebih mahal karena lumpurnya bisa berkali2 berganti, perencanaannya selalu lebih sulit daripada sumur yang sudah punya data dari tetangga sebelumnya. Tambahan lainnya, lumpur akan diuji setiap hari dalam proses pengeboran karena angka2 parameternya akan terus berubah2 seiring masuknya kontaminan2 dari dalam sumur, nilai2 seperti LGS, HGS, Electrical stability, salinity, excess lime lebih informatif ketika pengeboran sedang berlangsung (pada saat pengujian awal biasanya tidak berarti apa2), nantinya nilai2 ini di plot setiap hari untuk melihat trendnya, nantinya mud engineer akan memutuskan jika nilai2 ini berubah drastis makan harus bagaimana, seperti mengganti ukuran shaker screen, atau menambah additif lainnya.

Demikianlah yang saya tahu, jadi menjawab pertanyaan Pak Roni, adakah standar yang menentukan besaran untuk parameter lumpur? Jawabannya adalah tidak ada. Mungkin ada yang lain yang bisa menambahkan atau mengkoreksi?

Tanggapan selanjutnya :

Share This