Select Page

Membandingkan dua PSC term antara Indonesia dan Malaysia sangatlah menarik. Kedua negara ini bertetangga, serumpun, dan lebih banyak memiliki kemiripan dibandingkan perbedaannya. Bahkan salah seorang Profesor Malaysia yang bertemu dengan saya menyatakan bahwa Indonesia dan Malaysia ini masyarakatnya satu tapi negaranya dua. Bebrapa kali bertikai tapi negaranya yg bertikai dan pertikaian ini tidak di’restui’ rakyat masing, …. mungkin saja.

Sumber : http://rovicky.wordpress.com/2006/03/08/membandingkan-dua-psc-term-antara-indonesia-dan-malaysia/

Membandingkan dua PSC term antara Indonesia dan Malaysia sangatlah menarik. Kedua negara ini bertetangga, serumpun, dan lebih banyak memiliki kemiripan dibandingkan perbedaannya. Bahkan salah seorang Profesor Malaysia yang bertemu dengan saya menyatakan bahwa Indonesia dan Malaysia ini masyarakatnya satu tapi negaranya dua. Bebrapa kali bertikai tapi negaranya yg bertikai dan pertikaian ini tidak di’restui’ rakyat masing, …. mungkin saja.

Nah kalau kembali ke tahun 1970-an, waktu itu Indonesia memiliki Pertamina yg sudah cukup maju sistem pemanggilan investor perminyakannya. Sistem PSC sudah ada. Cikal bakal Pertamina sendiri sudah ada sejak 1960, dahulu dengan Permina dan Pertamin. Tahun 1970-an itu Malaysia mengirimkan staf-staf Petronas terbaiknya untuk ‘belajar’ di Pertamina. Namun saat ini yg terjadi justru sang murid sudah lebih maju dan lebih bagus dari sang guru.

Nah kali ini akan kita lihat, apa yg dipelajari Petronas dari kita dan ganti kita lihat apakah dapat dimanfaatkan di Indonesia. Banyak sekali bahan yg dapat dipelajari namun hanya salah satu yg disorot disini yaitu investasi migas di malaysia yaitu sistem bagi hasilnya – PSC (Production Sharing Contract).

Membandingkan sistem PSC seringkali banyak yg hanya melihat ‘equity-split’, sistem cost recovery, lamanya kontrak dsb. Namun yg lebih penting adalah bagaimana sistem tersebut menjadikan pemanfaatan sumberdaya alam tersebut menjadi efektif dan efisien. Atau lebih mudahnya memberikan keuntungan lebih banyak kepada si tuan rumah (host country). Apa tolok ukur efektif ? tentunya yang mudah adalah produksi yg meningkat. Dan tolok ukur efisien bisa saja dilihat dari manfaat yang dapat diperoleh oleh negara (host country).

Pembahasan selengkapnya :

Share This