Select Page

Pilihan metode kontrak yang sekarang nge-trend adalah EPC / Turnkey. Disini hanya ada 1 kontraktor yang akan membuat pabrik botol tersebut. Kontraktor akan bertanggung jawab untuk membuat detail engineering, membeli equipment/material, membangun pabrik, sampai commissioningnya. Jadwal penyelesaian bisa lebih cepat, cukup 1 x tender, pekerjaan konstruksi bisa fast track – dimulai pada saat engineering design selesai say 30% atau 50%.

Tanya – Irfan Aditya

Dear rekans,

Buat teman2 di yg kerja di EPC mohon pencerahannya utk bbrp hal sbb:

1. apa saja scope kerja?

2. biasanya jenis kontrak seperti apa yg paling umum digunakan (turn key, ….?)

3. apakah isi dari sebuah proposal EPC (chapter apa saja yg terkandung di dalamnya)?

terima kasih sebelumnya.

Tanggapan 1 – Sketska Naratama

Pak Irfan,

Saya bisa coba bantu, akan tetapi pertanyaan nya umum sekali shg kesulitan bagi saya utk mendefenisikan nya.

EPC nya utk apa? Plant, equipment, packages?

Kontrak nya kontrak apa? EPCI, Services, Lumpsum Contract?

Tanggapan 2 – Primadra Aryadika

Kontrak EPC biasanya dibuat setelah ada kesepakatan harga antara pemilik project dan pelaksana. Adapun Scope kerjanya:

1.

Engineering. Biasanya pelaksana mengajukan detail desain kalkulasi, detail drawing, & MTO yang kemudian disetujui oleh pemilik project.

2.

Procurement. Spesifikasi dari barang yang akan dibeli harus dirinci dalam kontrak EPC sehingga barang yang telah dibeli sesuai dengan permintaan. Detail dari spec barang biasanya dijelaskan dalam sebuah bentuk exhibit.

3.

Construction. Setelah semua material on site, maka pekerjaan selanjutnya yaitu konstruksi / instalasi sampai barang yang dibeli tersebut bisa bekerja dengan baik (on stream)

Semua hak dan kewajiban dari pelaksana kontrak harus dirinci dalam bentuk exhibit sehingga tidak menimbulkan kebingungan dalam melaksanakan project. Idealnya dalam EPC, pemilik project hanya mengawasi dalam proses pelaksanaannya saja supaya jangan sampai melenceng dari apa yang telah direncanakan.

Proposalnya berisikan (Generaly):

* Masa berlaku perjanjian

* Pokok dan spesifikasi pekerjaan

* Persyaratan khusus (SHE, Man Power, Kewajiban kontraktor, pemeriksaan, pengujian, dll)

* Bahan dan peralatan

* Harga Perjanjian & Pembayaran

* Asuransi,

* Pembaharuan

* Bukti2 penagihan

Kalau isi kontraknya, hampir sama dengan isi kontrak biasa.

Tanggapan 3 – kristiawan

Mau menambahkan tentang kontrak EPC.

Secara ringkas, keputusan untuk membangun plant / pabrik dilakukan setelah melakukan feasibility study ( terutama proyek akan menguntungkan atau tidak ), selanjutnya dibuat spesifikasi dari plant yang dibutuhkan. Misalnya investor memutuskan untuk membuat pabrik botol minuman dengan kapasitas 1 juta botol / bulan.

Untuk membangun pabrik botolnya, investor punya pilihan metode kontrak :

– Pekerjaan engineering dan pekerjaan konstruksi diserahkan kepada 2 kontraktor yang berbeda. Metode ini sering disebut tradisional lump sum. Kelemahannya, waktu penyelesaian lama. Harus buat tender untuk kontrak engineering – tunggu design engineering selesai 100% – buat tender kontruksi – baru proyek konstruksi berjalan.
Investor baru punya ‘kepastian’ harga pembangunan pabrik pada saat sign kontrak konstruksi. Sebelum itu dia harap-harap cemas semoga total biaya pembangunan pabrik tidak meleset dari asumsi saat bikin economic feasibility study.
Kelemahan lain, kalau pabrik ternyata tidak bisa produksi 1 juta botol/bulan spt yang diminta, kontraktor kontruksi bisa lepas tanggung jawab jika kesalahan ternyata ada dibagian design.

– Pilihan metode kontrak lain yang sekarang nge-trend adalah EPC / Turnkey. Disini hanya ada 1 kontraktor yang akan membuat pabrik botol tersebut. Kontraktor akan bertanggung jawab untuk membuat detail engineering, membeli equipment/material, membangun pabrik, sampai commissioningnya.

Jadwal penyelesaian bisa lebih cepat, cukup 1 x tender, pekerjaan konstruksi bisa fast track – dimulai pada saat engineering design selesai say 30% atau 50%.
Kalau pabriknya ternyata tidak fit for the intended purpose ( = produksi 1 juta botol/bulan), investor tinggal jewer kontraktornya. No excuse.
Investor bisa dapat ‘kepastian’ biaya pabrik lebih cepat ( pada saat sign lump sum kontrak EPC) dan lebih pasti dalam memperkirakan kapan bisa start produksi. Selanjutnya investor bisa konsentrasi untuk memastikan bahwa biaya operasional dan income dari jualan botol akan sesuai dengan asumsi study-nya, berhitung kapan balik modal dan kapan mulai meraih untung.

Kira-kira demikian tinjauan EPC secara umum, tidak ada yang spesial karena kontrak ini hanya menggabungkan 2 jenis pekerjaan (engineering & construction) yang biasanya dipisah. Semoga membantu menjawab pertanyaan Pak Irfan item 1 & 2 dibawah.

Share This