Select Page

Transportation analysis pada off-shore structure sering dilakukan dgn bantuan sofware2 yg tersedia saat ini. Umumnya jacket atau topside structure dianggap memiliki pinned support pada barge yg menumpunya dgn sea-fastening untuk memastikan ikatan yg kuat antara barge dan module di atasnya. Bagaimana dengan bargenya itu sendiri? Tidak ada hardpoints atau support points yg menumpu barge tersebut. Hanya air yg menumpu barge tersebut.
Bagaimana melakukan stress analysis pada barge yg mengalami tow forces?

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Mei 2007 dapat dilihat dihalaman berikut.

Tanya – Alex Kajuputra

Rekan2 structure engineer,

Transportation analysis pada off-shore structure sering dilakukan dgn bantuan sofware2 yg tersedia saat ini. Umumnya jacket atau topside structure dianggap memiliki pinned support pada barge yg menumpunya dgn sea-fastening untuk memastikan ikatan yg kuat antara barge dan module di atasnya.

Bagaimana dengan bargenya itu sendiri? Tidak ada hardpoints atau support points yg menumpu barge tersebut. Hanya air yg menumpu barge tersebut.
Bagaimana melakukan stress analysis pada barge yg mengalami tow forces?

Kebetulan saya saat ini sedang mengerjakan sebuah concrete barge dengan banyak module2 structure di atasnya. Untuk module2 tersebut mgkn tidak sulit menganalisanya, tapi saya belum punya ide bagaimana menganalisa concrete barge tersebut.

Ukuran barge tersebut tidak sebesar barge yg biasa digunakan utk off-shore structure dan juga tidak akan di tow ke open sea….hanya daerah creek (sungai) saja.
Ukurannya 70ft(W)x170ft(L)x18ft(H)….atau 23mx56mx6m…sedangkan barge utk off-shore structure bisa berukuran 30mx90m.

Naval architect setahu saya hanya bisa melakukan marine intact dan damage stability utk barge tersebut dan tidak bisa melakukan structural analysis and design. Mungkin mereka hanya bisa memberikan input rotation angle utk roll, pitch, heave, etc.

Mungkin rekan2 ada yg bisa bantu kasih ide?

Tanggapan 1 – Indera Sadikin

Pak Alex,

Menarik sekali pertanyaannya. Saya pernah mendesign vessel dan punya pertanyaan yang sama dengan Anda. Karena gagal menemukan literatur mengenai naval structural analysis, akhirnya saya buat asumsi sendiri berdasarkan pengamatan di lapangan.

Untuk analisis kekuatan hull pada floating vessel, saya asumsikan:

1. Free Body Diagram adalah kesetimbangan antara berat struktur vs. hydrostatic pressure pada hull.

2. Worst case scenario untuk analisis terjadi saat panjang gelombang sama dengan panjang vessel. Dalam kondisi ini vessel mengalami sagging (melengkung ke bawah) dan hogging (melengkung ke atas). Artinya tekanan hydrostatic pada hull juga bervariasi sepanjang vessel. Pada saat sagging, swell ada di kedua ujung vessel. Sementara saat hogging, swell ada di tengah vessel.

3. Berikutnya kita butuh data ketinggian swell maksimum pada saat angin bertiup paling kencang di site yang bersangkutan. Agar sederhana saya asumsikan profil ombak mengikuti kurva sinus. Data swell ini kita gunakan untuk memodelkan distribusi hydrostatic pressure pada hull.
Caranya bisa pakai kalkulus sederhana sehingga didapat resultan gaya apung yang sama dengan berat struktur vessel.

Data dari naval architect juga bermanfaat karena kita juga perlu analisis kekuatan struktur di atas vessel terutama struktur yang tinggi seperti King Post dan Burner Boom. Contohnya data roll yang biasanya paling signifikan. Informasi yang paling penting adalah:

1. Sudut roll maksimum.

2. Periode roll (waktu yang dibutuhkan untuk satu siklus roll). Saat itu saya minta data langsung dari Barge Master yang hitung waktunya.

Saya asumsikan gerak angular roll vessel mengikuti fungsi sinus sebagai konsekuensi asumsi profil ombak dalam bentuk sinus. Pakai persamaan diferensial sederhana kita dapatkan percepatan angular maksimum. Percepatan angular inilah yang kita konversikan menjadi gaya pada top structure di atas vessel. Catatan: Asumsi profil gelombang dalam bentuk kurva sinus hanya untuk menyederhanakan analisis agar masih bisa dihitung manual dengan persamaan kalkulus sederhana. Mungkin rekan2 dari teknik perkapalan punya metode yang lebih tepat. Thanks.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia:

Share This