1. Apakah pipa mud return line (orang di lapangan biasa menyebut flowline) mempunyai panjang ,ID pipa,OD pipa, kemiringan pipa (sebelum masuk shale shaker) dibakukan oleh API atau lembaga lain (seperti DNV)? Jika ada, mohon dikutipkan pada halaman berapa dan judul API-RP berapa. Jika tidak ada, berapakah umumnya panjang, ID, OD dari pipa tersebut?

2. Berapakah umumnya luasan area untuk suatu daerah pengeboran di onshore? Apakah ada standar yang mengatur juga? Jika tidak, umumnya berapa luas? Hal tersebut diperlukan untuk perkiraan jangkauan
komunikasi data lokal (informasi akuisisi data dari sumur) antara mud logging unit, rig pengeboran dan
client office.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia atas pertanyaan tersebut diatas yang terangkum dalam Diskusi Mailing List Migas Indonesia ini dapat dilihat pada halaman berikut.

Tanya – nugrohowibisono

Saya membutuhkan informasi-informasi dari pertanyaan saya dibawah ini. Saya membutuhkannya untuk bahan penelitian tugas akhir saya mengenai mud logging system (metering dan akuisisi data). Mudah-mudahan bapak ibu sekalian bisa membantu untuk memberikan pencerahan.

1. Apakah pipa mud return line (orang di lapangan biasa menyebut flowline) mempunyai panjang ,ID pipa,OD pipa, kemiringan pipa (sebelum masuk shale shaker) dibakukan oleh API atau lembaga lain (seperti DNV)? Jika ada, mohon dikutipkan pada halaman berapa dan judul API-RP berapa. Jika tidak ada, berapakah umumnya panjang, ID, OD dari pipa tersebut?

2. Berapakah umumnya luasan area untuk suatu daerah pengeboran di onshore? Apakah ada standar yang mengatur juga? Jika tidak, umumnya berapa luas? Hal tersebut diperlukan untuk perkiraan jangkauan
komunikasi data lokal (informasi akuisisi data dari sumur) antara mud logging unit, rig pengeboran dan
client office.

3. Dalam pengoperasian pengeboran, berapakah rentang biaya pengoperasian atas jasa mud logging terhadap biaya total pengeboran? Jika keberatan disebutkan nominalnya, mohon disebutkan dalam prosentase dari seluruh biaya pengeboran. Tidak usah terlalu spesifik, berupa perkiraan saja juga boleh. Memang saya akuidata ini bisa berbeda-beda untuk setiap lapangan yang mengebor vertikal, berarah, horizontal maupun karakteristik pembeda lainnya, tetapi berupa rentang juga tidak apa.

4. Apakah dari sensor2 yang dipasang pada pompa lumpur, top drive dan lain2 saluran komunikasinya
selalu menggunakan standar 4-20 mA? Yang saya amati di rig eksplorasi ada satu sensor yang memakai, sensor yang lainnya saya tidak tahu.

5. Apakah indikator adanya mud losses atau well kick hanya berupa mud pit volume dan mud flow pada pipa mud return line? Apakah dengan cara perhitungan dengan variabel pressure drop pada stand pipe (maupun pada annulus pipa) tidak memungkinkan kita untuk menduga adanya losses/kick? (dalam bayangan saya sih, kalau mud losses atau cairan produktif mengintervensi mud, pressure-nya akan berbeda. Sehingga dalam software mud logging sudah bisa dikalkulasi dan dibuat alarm system untuk mengingatkan kru di rig atau operator di mud logging unit… hanya dugaan saja)

6. Apakah untuk Data Acquisition Unit (menyerupai PC) didalam mud logging unit itu merupakan produk jadi dari suatu perusahaan?

Tanggapan 1 – Henry Lumbantoruan

Pak Nugroho,

Saya coba memberikan sedikit jawaban yang mungkin bermanfaat.

1. Flowline tentunya akan tersambung ke Hydrill/BOP, maka OD flowline akan menyesuaikan. Ada yang pakai 12′, panjang tergantung jarak ke mud pit/shaker, kemiringan juga akan disesuaikan.

2. Kembali tergantung dari type rig, rig darat kecil sekitar 160 X 200ft. Selama kita kerja di rig, belum menjumpai persoalan dalam komunikasi data antara mudlogging unit, company man office/client dan rig floor.

3. Mengenai biaya pengoperasiannya, tentunya sangat bervariasi dengan teknologinya. Yang umumnya sih client maunya murah, dan hi-tech+safe. Kisaran yang umum US$ 500 -1500/hari (tahun 1980an US$ 2200/hari)
Sangat kecil dibandingkan dengan biaya investasi yang ditanamkan( mudlogger harus Geologist+Petroelum Engineer) maupun harga sewa rig ( kisaran US$ 7,500 – 50,000/day)..

4. Benar, umumnya menggunakan kisaran 4-20mA.

5. Mud pit sensor dan flow out adalah alat yang paling utama untuk deteksi awal adanya kick. Tentunya observasi kandungan gas selama drilling, temperatur, serta cutting/serbok bor juga amat dibutuhkan. Software yang canggih juga ada yang akan membantu kita untuk mendeteksinya. Tetapi kembali mud pit sensor yang langsung memberikan signal ke mudlogging unit. Yang perlu diingat adalah lubang bor itu berbentu U-tube = yang masuk sama dengan yang keluar.

6. Data Acquisition Unit biasanya terdiri dari komputer yang industrial type/tahan segala cuaca, ditambah dengan software untuk mengaplikasikan pekerjaan data analisa dan hasil interpretasi akhir untuk sumur. Yang penting tentunya harus ada Principle yang jelas/patent, baru client percaya akan kemampuan kerja alat yang dimaksud.

Tanggapan 2 – Nugrohowibisono

Dear Pak Henry,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas informasinya yang sangat bermanfaat ini. Untuk memudahkan meresponnya, akan saya sandwich saja.

1. Flowline tentunya akan tersambung ke Hydrill/BOP, maka OD flowline akan menyesuaikan. Ada yang pakai 12′, panjang tergantung jarak ke mud pit/shaker, kemiringan juga akan disesuaikan.

1. Apakah itu berarti akan bergantung pada kapasitas BOP? rig di tempat saya melakukan observasi itu
kapasitasnya 3000 psi.

2. Kembali tergantung dari type rig, rig darat kecil sekitar 160 X 200ft. Selama kita kerja di rig, belum menjumpai persoalan dalam komunikasi data antara mudlogging unit, company man office/clien dan rig floor.

2. Maaf, saya lupa menginformasikan bahwa rig yang sedang saya observasi itu adalah rig dgn size 142ft.
Apakah itu termasuk kecil? Saya lihat memang tidak ada persoalan dalam komunikasi data, hanya informasi untuk saya sebagai pegangan jikakalau sewaktu2 diinginkan mendesain topologi desain komunikasi datanya.

3. Mengenai biaya pengoperasiannya, tentunya sangatbervariasi denganteknologinya. Yang umumnya sih client maunya murah, dan hi-tech+safe.
Kisaran yang umum US$ 500 -1500/hari (tahun 1980an US$ 2200/hari)
Sangat kecil dibandingkan dengan biaya investasiyang ditanamkan( mudloggerharus Geologist+Petroelum Engineer) maupun hargasewa rig ( kisaran US$ 7,500 – 50,000/day)..

3. Apakah kisaran harga tersebut berbeda untuk Pertamina dengan KPS? Soalnya setahu saya mungkin ada pengecualian khusus untuk pelanggan yang mempunyai sumur eksplorasi yang banyak (mungkin mendapat discount atau special rate) seperti Pertamina misalnya. Jadi biaya ‘sangat kecil’ itu relatif dibandingkan dengan biaya investasi eksplorasi dan harga sewa rig.

4. Sangat jelas

5. Mud pit sensor dan flow out adalah alat yang paling utama untuk deteksi awal adanya kick. Tentunya observasi kandungan gas selama drilling, temperatur, serta cutting/serbok bor juga amatdibutuhkan. Software yang canggih juga ada yang akan membantu kita untuk mendeteksinya. Tetapi kembalimud pit sensor yang langsung memberikan signal ke mudlogging unit. Yang perlu diingat adalah lubang bor itu berbentu U-tube= yang masuk sama dengan yang keluar.

5. Memang untuk kesetimbangan massa lumpur (massa masuk = massa keluar) dijadikan sebagai acuan utama, tetapi yang menjadi bahan pemikiran saya, apakah pelibatan besaran2 lainnya tidak dapat dijadikan sebagai acuan lain? Saya bukannya mau maksa ‘harus ada’, just in case aja.. :), siapa tahu bisa bikin teori baru hehe… Apakah penggunaan sensor flow in dan flow outnya di kalibrasi sewaktu mud masuk casing (belum open hole) itu lumrah digunakan? atau menggunakan sensor sendiri yg lebih akurat (semacam ultrasonik)?

6. cukup jelas

Saya ucapkan banyak2 terima kasih atas pencerahannya
Pak Henry. Semoga sukses.

Tanggapan 3 – Henry Lumbantoruan

Pak Nugroho,

1. Tekanan BOP yang 3000 psi itu adalah hasil BOP test untuk menahan tekanan dari dalam sumur, jadi bukan untuk flowlinenya. Jadi besaran flow line tidak bergantung pada psi BOP. Setiap rig punya besaran OD flowline sendiri yang sudah disesuaikan dengan rignya.

2. Cukup jelas

3. Soal harga tentunya saya bicara berdasarkan pengalaman di Indonesia ini.Apakah harga itu sama dengan yang KPS laporkan ke Pertamina, jauh dari jangkauan saya. Hanya inilah harga yang kami hadapi setiap hari. Disinipun Pak Nugroho udah membicarakan special rate/diskon dll sbgnya, tetapi yang paling trenyuh ialah engineer yang bekerja di lapangan tidak mendapatkan imbalan yang sesuai dengan ilmu yang didapat di sekolahnya, artinya sarjana hanya bisa mencicil rumah type 36 BTN.

5. Tentunya pelibatan data ada dalam manual seperti keadaan geologynya/ pengendapan/tektonik => pre drill, lalu yang paling gress tentunya sewaktu drilling, rop/gas/cutting/torque/pump ressure/dxc/rpm/drag/ temp/resistivity dll. Ada manualnya, kalau berminat via japri bisa dikirimkan.

Mengenai flow line, benar ada yang ultra sonic, rumit/hi-tech/hi-safety: risk tetapi ujung2nya mau yang murahan aja. Jadi memang pada prinsipnya, sewaktu kita pompa lumpur mis Xgal/minute ke lubang maka yang keluar harusnya Xgal/min juga, lalu kita kalibrasi sebagi base line kita selanjutnya.

Semoga dapat menjawab pertanyaan Pak Nugroho.

Tanggapan 4 – Nugrohowibisono

Dear Pak Henry,

Jawaban-jawaban yang Pak Henry kemukakan sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya ucapkan terima kasih banyak.
Mengenai biaya jasa mud logging, terus terang saya tidak banyak mengetahuinya dan juga jauh diluar
jangkauan saya. Saya hanya mengumpulkan informasi awal mengenai biaya sebagai justifikasi atas pemilihan instrumen yang saya desain (apakah terlalu mahal dibandingkan dengan yang sudah ada atau tidak).
Mengenai kekuranglayakan imbalan yg didpt engineer, saya juga mengetahuinya langsung dilapangan, dan saya berdoa mudah2an hal seperti ini tidak terus terjadi.
Manual file-nya mohon via japri saja ya Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya.