Berbicara soal PC Based control tentu saja mutlak harus dibedakan dengan Offices based PC. PC Based control tentu saja musti memerlukan beberapa adjustment seperti misalkan soal hard drive rugged-ness, dan terutama operating systemnya. Dari sisi operating system, dibanding dengan standard windows, akan ada beberapa ‘modifikasi’ untuk minimizing available feature sehingga yang tidak berkaitan dengan control tapi bias occupying tasking operating system bisa dihilangkan. Dengan demikian reliability dan real time-ness operating system bisa dijaga.

Pembahasan – arief_rahman

Sebelumnya saya mohon maaf kalau ada beberapa item yang saya uraikan yang kurang jelas sehingga menimbulkan salah persepsi.

Yang pertama, soal PC Based control. Berbicara soal PC Based control dalam pengertian saya, dan juga refer ke beberapa artikel, tentu saja mutlak harus dibedakan dengan Offices based PC. PC Based control tentu saja musti memerlukan beberapa adjustment seperti misalkan soal hard drive rugged-ness, dan terutama operating systemnya. Dari sisi operating system, dibanding dengan standard windows, akan ada beberapa ‘modifikasi’ untuk minimizing available feature sehingga yang tidak berkaitan dengan control tapi bias occupying tasking operating system bisa dihilangkan. Dengan demikian reliability dan real time-ness operating system bisa dijaga. Saya membaca, misalnya, Ovation@ PC Based control dari Emerson (www.westinghousepc.com) adalah PC Based control yang bahkan sudah pernah diaplikasikan untuk I/O sampai 13.000 untuk industri power station. Dalam hal ini PC benar-benar berfungsi sebagai controller. Soal criticality, tentu saja ada degrees of criticality dan saya memaksudkan criticality dalam hal ini tidak dari kacamata Oil & Gas industry an sich. Buat saya power station adalah insudtri
yang critical.

Yang kedua soal lack the integrity of Open system, Saya ambil contoh misalnya membandingkan antara feature DCS dan PLC + Wonderware. Kalau saya membuat konfigurasi I/O di DCS dan menyelesaikan loopnya, maka alarm (misal Low, High alarm) otomatis tergenerate tanpa perlu lagi mendefinisikan tag number baru. Ada integrated (Global ???) database yang off the self disediakan oleh DCS sehingga mengurangi kemungkinan kesalahan karena mengambil alarm dari tag yang salah.

Ini beda misalnya dengan Wonderware yang kita harus create tag number baru untuk masing-masing alarm. Saya anggap Wonderware sebagai ‘open’, paling tidak relatif lebih open dibandingkan dengan proprietary DCS, karena manufacture PLC-nya bisa apa saja. Data base Integrity semacam yang ditawarkan vendor DCS itu yang ada baiknya juga diconsider ketika memilih control system yang diinginkan. Seperti yang saya katakan, there must be a good reason for DCS vendor to be in business for so long.

Balik lagi, open juga punya level of openness. Saya, sebagai user, ingin
supaya setiap system bukan hanya interoperable tapi bisa diganti-ganti semacam plug & play (bukan plug and Pray). Saya merindukan FULLY OPEN, persis kaya control valev yang kalau sudah dibilang fully open pengertiannya bisa disepakati semua orang.

Saya masih sulit membayangkan bahwa misalnya SMAR bisa diganti HMI-nya dengan punya Delta-V tanpa perlu ada data bases configuration. Selalu ada locking dari vendor yang un-explained dalam brochure maupun presentasi dan hanya bisa diketahui pas sudah dibeli. Ada permainan buzzword yang luar biasa dari para vendor.

Fakta yang paling jelas : Ada lebih dari satu fieldbuses yang diadopt oleh fieldbus standard. Perlakuan vendor terhadap user hampir mirip dengan perlakuan politisi terhadap rakyat kebanyakan. Selalu saja dijadikan alas an untuk stndarisai, tapi toh akhirnya paling dikorbankan.

Tanggapan 1 – Wkundono

Pak Budhi, bisa diforward ke Milis. Makasih.

Untuk menambah wawasan, berikut ini artikel dari majalah ‘control’ tentang penggunaan commercial off-the-shelf (COTS) sebagai komponen dari open system, plus minus serta komentar vendor and end user.

Tanggapan 2 – waskita

Saya mencoba memberikan komentar (meskipun jangan disebut pakar, masih banyak yang lebih pakar, dan mungkin saja saya salah):

1. Saya lebih cenderung untuk merancang system dengan hirarki horizontal, artinya semua control subsystem (FCS, DCS, PLC, dsb.) pada level hirarki yang sama yaitu sebagai integrated BPCS (Basic Process Control System). Meletakkan satu subsystem dibawah yang lainnya akan membuat suatu critical path, artinya kalau kita mempunyai PLC yang di-integrasikan ke DCS baru kemudian ke Operator Workstation, disini kita menciptakan beberapa critical path. Kalau terjadi kegagalan pada DCS, communication (PLC-DCS), atau Control Network, maka accessibility ke PLC kita juga ikut terganggu. Demikian pula sebaliknya. Menjawab pertanyaannya: Bisa saja hirarkinya dibalik (DCS dibawah PLC)! Pertanyaan baru timbul disini: Apakah PLC yang dipergunakan mempunyai performance yang memadai untuk melakukan supervosry control terhadap DCS?

2. Anda bisa baca buku ‘Fieldbusses for Process Control’
http://www.isa.org/Template.cfm?Section=Books1&template=/Ecommerce/ProductDi splay.cfm&ProductID=3036 (copy dan paste seluruh hyperlink text dari http …s/d… 3036 kalau Anda terima terpotong). Pada Chapter 2 dijelaskan mengenai Benefits, Savings and Doubts dari berbagai teknologi fieldbus. Bisa kita tarik kesimpulan bahwa diantara semua teknologi, FOUNDATION Fieldbus memberikan nilai tambah yang paling tinggi kepada User.

Seberapa signifikan sangat relative tergantung dari process, control dan instrumentasi plant kita. Untuk upgrade existing system, perlu kita justifikasi dulu apakah memang existing system memang sudah harus diupgrade (biaya operasional & maintenance tinggi, seringnya terjadi spurious trip, tidak berfungsinya control – banyak yang harus manual mode, susahnya mendapatkan spare parts, kurangnya vendor support, dsb.). Kalau existing system memang sudah justified untuk di-upgrade, maka pilihan untuk upgrade ke FF system adalah tepat karena bisa memberikan nilai tambah yang signifikan. Perhatikan bahwa initial cost FF belum tentu lebih murah daripada DCS mengingat kita juga harus mengupgrade field devices.

Sebaliknya, hanya meng-upgrade DCS-nya saja tanpa upgrade field instruments (istilahnya ‘ganti kepala saja’) merupakan usaha yang sia-sia karena kita tidak mendapatkan nilai tambah apa-apa selain mungkin beberapa host component yang umurnya sedikit bertambah. Dan kenyataannya ‘mengganti kepala’ saja belum tentu lebih murah dibandingkan mengganti keseluruhan system berikut field devices dengan FF.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut :