Select Page

Saya sedang coba men start-up dan trial-run pilot project biodiesel palnt berkapasitas kecil.
tetapi yang menjadi masalahnya adalah pH produk akhir yang dihasilkan hanya mampu menyentuh nilai 3,8 (asam) saat di gunakan pada plant kami jadi merusak pompa bahan bakar karena terlalu korosif. Saya tanyakan berapakah pH normal untuk produk biodiesel? dan bagaimanan caranya mendongkrak pH agar tidak terlalu asam tanpa merubah komposisi biodiesel itu sendiri?

Berikut adalah tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan Bulan Juni 2007.

Tanya – Nugroho Agung

Selamat sore rekan-rekan di milist.

Langsung aja nih?

Saya sedang coba men start-up dan trial-run pilot project biodiesel palnt berkapasitas kecil.
tetapi yang menjadi masalahnya adalah pH produk akhir yang dihasilkan hanya mampu menyentuh nilai 3,8 (asam) saat di gunakan pada plant kami jadi merusak pompa bahan bakar karena terlalu korosif. Saya tanyakan berapakah pH normal untuk produk biodiesel? dan bagaimanan caranya mendongkrak pH agar tidak terlalu asam tanpa merubah komposisi biodiesel itu sendiri?

Terimakasih sebelumnya

Tanggapan 1 – roeddy setiawan

Dear Pak Nugraha,

Info proses nya minim sub zero jadi saya nebak2 saja. mungkin di biodiesel anda. pencucian produk ahir kurang sempurna atau based gliserida yang diolah terlalu banyak impuiities lain yang tidak tertarik berpartisipasi dl proses trans esterifikasi, atau mungkin ada banyak FFA i bagaimana kalau anda kocok lagi dengan soda api baru dicuci lagi bersih bersih lalu dikeringkan sebelum dipakai.

kalau invest ato tambah expense sedikit ke lab untuk memeriksakan base gliserida yang dipakai mungkin acidity itu bisa sekali tepuk dikerjakan pada saat reaksi, mungkin formulasi katalist dan op conditon perlu perubahan setelah data awal nya ada.

Tanggapan 2 – O n e i

Pak Nugroho,

1. Kalau produk bapak menggunakan katalis asam (H2SO4) biasanya max 2% dari umpan (CPO+Methanol), maka pasti asam tersebut belum benar-benar hilang di proses netralisasi, kalau proses penetralan menggunakan basa (NaOH), mungkin flow masuk basa masih kurang setimbang/stokiometris dengan asamnya. Karena proses netralisasi menghasilkan garam + air, Bapak bisa cek di bagian filter garamnya, berapa berat garam yang bisa terambil. Kalau asumsi garamnya adalah Na2SO4 maka bisa dihitung mol dari garam tsb, apakah sudah sesuai dengan nilai koefisien stokiometris dari reaksi penetralan tsb. Jika masih kurang, mungkin injeksi flow basa masih agak kurang (bisa dicoba ditambah). Tapi jika penambahan flow masuk larutan basa terlalu berlebih maka ada efek sampingnya yaitu mungkin ada pembentukan ada sabun. Tapi jika pun terbentuk sabun seharusnya filternya masih punya kemampuan untuk menyaring garam dan sabun-nya juga.

2. CPO mempunyai kandungan trigliserida, dimana kalau ada air/steam disekitarnya mungkin bisa saja terbentuk Fatty Acid di dalam reaktor biodieselnya. Nah Fatty Acid tersebut mempunyai sifat asam yang lumayan juga. Tapi itupun bisa diremove dengan proses setling (decanter), karena Fatty Acid akan terikut dengan campuran air & gliserin, sisa methanol dan juga asam katalis esterifikasinya. Sewaktu mencuci (washing) di vessel settling pasti bapak memakai air yang diumpan ke settling vessel, nah sebenarnya sih semakin banyak air yang dipakai, asam yang terikat ke air juga semakin banyak, sehingga asam yang akan terbawa ke produk biodiesel akan berkurang juga sehingga biodiesel bisa bersih dari asam. Tapi jika air terlalu banyak maka air & methanol yang ikut sebagian ke produk biodiesel juga akan bertambah, akibatnya kemurnian biodiesel berkurang. Untuk itu dibagian akhir untuk pemurnian biodiesel suka dipasang evaporator untuk menguapkan methanol & airnya.

Saran saya (mohon maaf jika saya salah menganalisa): Asam-asam yang menyebabkan pH biodiesel menjadi asam seharusnya bisa dikurangi dengan cara mengoptimalisasi nilai flow masuk dari larutan basa pada netralisasi atau menambah air pencuci di bagian settling. Kalau mau lebih yakin perlu juga ditambahkan lagi jumlah vessel settlingnya untuk menambah tingkat pencucian (washing). Tapi ingat juga tipe air yang dipakai untuk mencuci, apakah air sumur/PAM/sungai? bisa dicek dulu tingkat kesadahannya. Karena ion-ion air yang terkandung dalam air tersebut bisa saja bereaksi dengan asam-asam disekelilingnya dan membentuk kerak mirip kristal/garam di bagian vessel settling.

Mungkin itu saja hasil penerawangan saya, jika ada banyak kesalahan2 mohon untuk dimaklumi dan direvisi, karena saya masih pemula di bidang ini.