Select Page

Piting corrosion terjadi umumnya karena adanya local discontinuity dari lapisan pasivasi. Penyebabnya bisa karena mechanical defect, inklusi permukaan, atau pun karena chemical attack (spt keberadaan chloride atau golongan halide lain, & konsentrasi asam spt HCl,H2SO4). Beberapa microorganism spt SRB juga diketahui sebagai penyebab pitting. Pitting corrosion ini dianggap berbahaya, karena susah dideteksi & diprediksi laju severity-nya. Pada daerah pit (sumuran), biasanya terjadi konsentrasi chemical aggressive (Cl tinggi atau pH rendah- konsentrasi asam), sehingga Kecepatan penetrasi-nya bisa mencapai 10 – 100 kali general/ uniform corrosion.

Tanya – Deden Setiawan

Dear Maillister,

Kami dari perusahaaan chemical untuk process produksi menggunakan larutan kimia H2SO4 : 122 gr/lt, ZN SO4 : 9 gr/lt, Na2SO4 : 350 gr/lt, Setelah beroperasi selama hampir 4 tahun, pada body dan structurenya timbul pit corrosion (berlubang), perlu diketahui kami menggunakan bahan dari Stainless Steel 1.4539, yang menjadi pertanyaan sbb :

1. Apa yang menyebabkan terjadinya pit corrosion tersebut

2. Bagaimana cara mencegahnya

3. Sebagai alternatip pengganti, dari Jenis material stainless apa yang cocok

Mohon pencerahannya dari rekan rekan sekalian

Tanggapan 1 – Ade Sudaya

Pak Deden,

Boleh nimbrung …

Kalo bisa diganti bahan non metal jelas tidak ada masalah korosi. Tapi biasanya bahan non metal ini dengan larutan kimia kuat dapat juga membuat bahan menjadi lapuk. Dengan racikan tertentu atau resin jenis tertentu yang tahan kimia (isoplafat) biasa digunakan untuk bahan korosif tersebut dapat mengatasi problem tersebut tapi kadang lebih mahal.

Semoga bermanfaat

Tanggapan 2 – Puji Mulyo Winarno

Ikutan nimbrung yaa..

Saya juga punya masalah pit corrosion untuk stainless steel 316 L Karena material sudah cukup bagus maka tidak kami proteksi,lagi pula saya kurang pengetahuan memproteksi 316 L untuk media air laut
Adakah dari rekan-rekan Kimia/materal/korosi yang bisa memberi saran Untuk mengatasi/menghambat prosess piting ini ? Saya lampirkan PHOTO Pit corrosion pada Codenser ball cathcer kami Trimakasih atas saran yang diberikan.

Tanggapan 3 – YudaTomo

Mas Deden,

Piting corrosion terjadi umumnya karena adanya local discontinuity dari lapisan pasivasi. Penyebabnya bisa karena mechanical defect, inklusi permukaan, atau pun karena chemical attack (spt keberadaan chloride atau golongan halide lain, & konsentrasi asam spt HCl,H2SO4). Beberapa microorganism spt SRB juga diketahui sebagai penyebab pitting. Pitting corrosion ini dianggap berbahaya, karena susah dideteksi & diprediksi laju severity-nya. Pada daerah pit (sumuran), biasanya terjadi konsentrasi chemical aggressive (Cl tinggi atau pH rendah- konsentrasi asam), sehingga Kecepatan penetrasi-nya bisa mencapai 10 – 100 kali general/ uniform corrosion.

Prinsip2 pencegahannya:

– pemilihan material yg tahan thd pitting,

– mengurangi agresivitas environment, atau

– mengubah design system.

Dalam pemilihan material tujuannya adalah terjaganya stabilitas lapisan pasivasi dari serangan pitting. Unsur Mo & N dalam logam paduan, misalnya akan memberikan stabilitas lapisan pasivasi ini. Sehingga material yg cenderung tahan thd pitting adalah yg ada unsur2 tsb dlm paduannya, spt Austenitic 316, 317. Tipe 304, martensite (410,431) & feritic (430,434) misalnya, kurang tahan thd korosi tipe ini. Untuk tipe austenitic, utk mudahnya bisa digunakan pendekatan PREN = Pitting Resistance Equivalence Number = Cr + 3.3 Mo + 16 N. Jadi semakin tinggi kandungan Mo & N, semakin tahan material thd pitting.

Untuk mengurangi agresivitas environment, bisa dilakukan dengan treatment menggunakan inhibitor (kalo diperbolehkan) atau katodic protection. Aplikasi protective coating juga bisa dilakukan utk memisahkan lingkungan yg aggressive tsb dengan material.

Untuk design system, perlu dihindari kondisi environment yg stagnan. Dead end, design2 fitting, dll yg menimbulkan kondisi aliran yg stagnan perlu diminimalkan. Pitting corrosion cenderung terjadi pada area2 ini.

Demikian, semoga membantu.

Tanggapan 4 – Kurniawan, Yeri

Pak Puji Mulyono,

Saya kurang begitu paham tentang Condeser Ball Catcher. Bisa diberikan pencerahan pak?
Kalau ada baiknya sich PID diagram-nya …sehingga kita tahu bagaimana koneksinya dengan air laut dan steam turbine-nya.

Tanggapan 5 – Puji Mulyo Winarno

Kurniawan,

Baik ini saya kirimkan PID untuk Cooling water di Condenser sekalian flow condenser Ball tube cleaning, Strainer/ball catchernya ada di sisi out-let sebelum water coolingnya dikembalikan ke laut, intinya adalan mengkondensasikan dan mendinginkan extraction steam dari steam Turbine sebelum disirkulasikan kembali kedalam system, Maaf gambarnya kurang terang tapi masih terbaca kok.
Trimakasih

Share This