Select Page

Adakah yang bisa berbagi pengalaman, bagaimana penerapan HSEMS dalam suatu project (bisa yang in-house maupun yang turnkey/ EPCI). Adakah juga yang bisa berbagi pengalaman, bagaimana CSMS (Contractor Safety Management System) diterapkan dalam suatu project yang relative besar.
Kesulitan-kesulitan apa yang timbul ditahap FEED maupun di tahap konstruksi……… Bagimana HSEMS bisa synergy dengan Project Management, Engineering Management, Construction Management.

Tanya – Iwan, Jatmika (Jakarta)

Rekan-rekan di-milist,

Adakah yang bisa berbagi pengalaman, bagaimana penerapan HSEMS dalam suatu project (bisa yang in-house maupun yang turnkey/ EPCI). Adakah juga yang bisa berbagi pengalaman, bagaimana CSMS (Contractor Safety Management System) diterapkan dalam suatu project yang relative besar.
Kesulitan-kesulitan apa yang timbul ditahap FEED maupun di tahap konstruksi……… Bagimana HSEMS bisa synergy dengan Project Management, Engineering Management, Construction Management.

Terimakasih sebelumnya….

Tanggapan 1 – Nanang Jamil

Pak Iwan J.

Mungkin saya bisa share pengalaman kami,

Yang pertama kita harus lihat posisi kita, sebagai ‘aset holder’ atau sebagai ‘kontraktor yang mendapat pekerjaan dari aset holder’.

Sebagai aset holder :

Pertama, kita harus membuat Risk Assessment dari seluruh kegiatan yang akan dikerjakan dalam lingkup proyek tersebut. Dari risk assessment ini kita bisa mengelompokkan kegiatan-kegiatan dalam beberapa kriteria resiko, yang biasanya dibagi menjadi tiga, high risk, medium risk dan low risk.

Kedua, kita akan memilih kontraktor (lewat tahap prakualifikasi, assessment dan audit) yang memiliki kinerja keselamatan sesuai dengan tingkat resikonya, di lapangan ada beberapa angka yang biasa kita pakai misalnya, nilai >60 untuk yang high risk, 50-60 untuk medium risk, dan >40 untuk yang low risk.

Setelah kita mendapatkan kontraktor pelaksananya, kita adakan pre job activity meeting, dimana disana kontraktor pelaksana akan mempresentasikan program keselamatan kerja yang akan diterapkan selama proyek berlangsung. Disini aset holder akan memberi masukan jika ada hal-hal yang perlu ditambahkan.

Selanjutnya, selama pekerjaan berlangsung, aset holder akan memantau apakah program keselamatan kerja sudah diterapkan dengan baik, sampai proyek berakhir. (jenis program bisa sangat beragam tergantung lingkup proyek).

Jika kita sebagai kontraktor :

Sebagai kontraktor kita tinggal menyiapkan program HSEMS yang in-line dengan program HSEMS aset holder.

Untuk pertanyaan anda agar HSEMS bisa built-in dengan sistem manajemen secara keseluruhan, masing-masing perusahaan memiliki cara sendiri-sendiri namun yang umum mungkin sbb :

_ Membuat orgasinasi HSE, dimana sistem pelaporannya langsung ke top manajemen.

– Menjadikan kinerja HSE sebagai Key Performance Indicator (KPI) dari seluruh jajaran level manajemen.

– Menggunakan tool yang sudah terbukti, seperti Process Safety Management.

– dll

Tanggapan 2 – Edyson Simorangkir

Dan sebagai tambahan dari pengalaman pak Nanang J,(sebagai kontraktor),

1. HSE sudah harus terlibat aktif sejak pra & masa engineering.

Pada masa2 ini Anda sebagai HSE harus dapat meyakinkan Management bahwa dengan terlibatnya Sistim Safety sejak awal akan dapat menguntungkan secara financial maupun image dan dpt bersaing dgn perusahaan2 yg besar/tlh ada.

2. Selalu berperan aktif dan berkomunikasi dgn Engineering. Agar disain sesuai standar, code dan ekonomis. Kalau tidak, Anda tidak akan punya DANA & DAYA saat masa Konstriksi dan Commisioning.

3. Selalu ber-baik2 lah dgn CLIENT, karena mereka adalah Raja sebagai pemberi kerja.
Terima kasih

Tanggapan 3 – Iwan, Jatmika (Jakarta)

Terimakasih saya ucapkan atas tanggapan dan input dari Bapak Nanang J & Pak Edyson Simorangkir. Memang benar, bahwa Project HSE Management itu, dari sisi pendekatan, harus dibedakan sebagai sisi asset holder atau di sisi kontraktor. Kemudian, secara konsep, kalau kita mengikuti prinsip-prinsip CSMS (Contractor Safety Management System), maka seharusnya, semuanya bisa under control……

Ada beberapa point yang saya ingin mendapatkan sharing pengalaman, dimana secara subjective (at least, pengalaman saya sendiri) saya menemui beberapa kendala sbb:

1) Project Management sangat concern dengan HSE, tapi apakah commitment tersebut dapat dibuktikan dipelaksanaan project, untuk tidak mengatakan bahwa COST, SCHEDULE, and DELIVERY akan selalu lebih diutamakan (walaupun memajang policy HSE is equal with Production, atau Safety First atau Zero Accident Policy, etc….), sehingga sampai suatu titik kesadaran bahwa HSE is a good business for the project?????? What can we do?

2) Kegiatan ‘HSE’ Risk Assessment & Risk Management selalu hampir akan menjadikan itu adalah kegiatan yang terpisah dari Project ‘business’ risk assesment, sehingga ‘HSE’ risk assessment menjadi ‘pelengkap’ persyaratan suatu process FEED. Ini mungkin kesalahan saya sendiri, tapi saya sering mendengar pengalaman serupa di tempat lain. Apalagi, diperusahaan non Oil & Gas maupun non chemical related (jangan terlalu di bahas, ini sekedar contoh rumors). How does it suppose to be?

3) Kesulitan untuk mengintegrasikan issues HSE di Engineering stage, karena masing-masing discipline itu punya porsi HSE issues embedded didalam enginering exercisenya masing-masing. Issues besarnya, mungkin bisa disetujui, tapi detail implementasinya, perlu pendekatan yang lebih kongkret. Contohnya, orang process punya ownership yang tinggi terhadap HAZOP, orang Instrument, punya ownership yang tinggi terhadap SIL, orang structure punya ownership yang tinggi terhadap safety design margin. Dll. Nah, bagaimana itu menjadi suatu kegiatan yang terintegrasi dari sisi HSE assurancenya?

4) Tendering process, akhir-akhir ini, issuess HSE menjadi factor penentu dalam evaluasi. Namun, sekali lagi, masih dalam tingkatan issues besar HSE (itu sudah lebih baik, dari pada tidak sama sekali). Namun issues detail menjadi tidak jelas, ketika dihadapkan dengan kepentingan cost, schedule,commercial, dll. HSE Plan hanya menjadi hiasan….(maaf terlalu mengeneralisir kali), semakin tebal dan semakin banyak lampiran, semakin baik……., isinya terlau generic….?

5) Kegiatan HSE dimasa konstruksi, menjadi kegiatan yang membebani……, sehingga kadang-kadang, issues HSE harus dikompromikan dengan ‘si Pemberi Kerja’. Stop un-safe work menjadi kegiatan yang ragu-ragu….., poster HSE ada dimana-mana, lambang keselamatan kerja terpampang besar di pintu masuk ….., tapi itu menjadi hiasan belaka?????

6) Konsep bahwa HSE is in the line management…..kayaknya masih perjuangan yang panjang, karena, masih membutuhkan edukasi bahwa HSE Team adalah sebagai facilitator…..bukan delivery accountability…..

Nah, dan kemudian……untuk project-project yang besar…..capasitas ini hanya dipercayakan kepada expatriate (tolong dikoreksi pernyataan saya ini, seandainya terlalu mengeneralisir….., atau ini hanya pengalaman pribadi saya saja). Tapi berdasar informal network, ya tidak jauh-jauh berbeda……… Kecuali, bila memang dengan sengaja, perusahaan itu menganggap bahwa HSE hanyalah sesuatu yang harus ada by law, atau sekedar ada supaya tidak ditegor MIGAS, BP Migas, Depnaker, dll. Dimana ‘Client’ menerima keadaan tersebut, dan ‘Contractor’ dengan senang hati memenuhinya, karean mereka berpikir itu adalah cost effective.

Terimakasih sebelumnya atas tanggapannya. Semoga impresi (saya tidak bermaksud pesimistic, tapi untuk mencoba mengetahui duduk permasalahannya) saya tersebut diatas sangat berlebihan. Namun saya ingin bertukar pengalaman sebagai Project HSE, yang kemungkinan sangat berguna bagi perkembangan HSE ke depan dibidang Project Management. Saya khawatir, akan menjadi katak dalam tempurung. Sharing para praktisi HSE di project sangat membantu.

Sekali lagi terimakasih.

Share This