Select Page

Sebuah proses pendinginan/pemanasan fluida yang dikendalikan adalah energi-nya berupa panas (temperature). Dalam persamaan kalor, baik itu karena efek sensible heat dan/atau latent heat. Setiap ada perubahan suhu/energi selalu melibatkan massa (sesuai dengan prinsip – prinsip atau hukum – hukum Termodinamika). Massa inilah yang membawa energi tersebut untuk selanjutnya dipertukarkan dengan massa yang membawa energi juga (entah itu dengan energi yang lebih tinggi atau lebih rendah). Pertukaran tersebut dapat berlansung secara konduksi, konveksi, ataupun radiasi. Dalam HE majority Heat Transfer terjadi secara konduksi. Hitungan kompleks tentang HE dapat dilihat dibanyak literatur.

Tanya – mnugrohos

Dear all,

Pada beberapa pabrik yang pernah saya kunjungi tidak pernah saya temui adanya flow meter pada aliran air pendingin pada cooler. Hal ini tentunya akan menyulitkan jika kita ingin mengetahui berapa flow air pada suatu HE, atau suatu water jacket pada reaktor (misalnya secondary reformer pabrik ammonia). Hal ini sering membuat saya geleng-geleng dan kagum pada desain engineer yang telah merancang sistem penginginan yang bercabang-cabang, HE-nya ada banyak dan tak ada flowmeternya tapi bisa bekerja dengan baik.

Sebenarnya bagaimana sih cara perancangan sistem air pendingin sehingga bisa didapatkan laju alir yang diinginkan pada setiap HE? Bagaimana cara evaluasi (untuk HE secara individual) yang benar/shoheh jika flow air tidak diketahui?

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Yak…

Kali ini silahkan mahasiswa Teknik Kimia yang baru lulus kuliah rancangan Pabrik silahkan menjawab…..

Tanggapan 2 – mnugrohos

Mana nih?? Jawabannya gak ada yang konkret……. terserah deh siapa pun boleh jawab (walau anak baru lulus belum ada yang merancang sistem perpipaan air pendingin sungguhan)… . Tapi sebenarnya Mas Garong tahu jawabannya kan???

Tanggapan 3 – Achmad Hidayat

Mas Muchlis,

Menambahkan berbagai comment rekan-rekan yg lain.

1. Yg pertama, pantas rekan-rekan yg lain menjadi bingung, terutama yg belum faham fenomena Ammonia Plant, bagaimana existing conditionnya, seberapa mbulet HE networknya, dan bagaimana performance proses-nya..dll. Karena itu, mudah-mudahan comment dari rekan2 bisa memperkaya kita dalam urusan HE ini.

2. HE network dalam pabrik petrokimia (Say: Ammonia), bergantung pada 2 type, Fluida Proses VS Fluida Proses, atau Fluida Proses VS Cooling Water/brine. Dimana HE networknya, menurut saya ‘sangat mbulet’ tetapi justru secara engineering sgt Challenging dan ‘tricky’.

3. Para desainer pabrik ammonia, sangat faham, bahwa ketika HE tersebut adalah HE Fluida Proses VS Cooling Water, maka point of analysis cukup difokuskan pada Fluida Proses, dimana flow senantiasa terukur/atau dapat ditelusuri u/ diukur, dan juga TI (temp. indikator yang ada), atau dapat ditelusuri pada suatu titik tertentu. Dengan adanya TI dan Flow pada fluida proses, maka toritically, flow cooling water dapat diukur.

4. Karena sistem HE network ini sangat njelimet, bukan berarti seperti benang ruwet yg tidak ada ujungnya. Disistem ini, ada ujungnya, dan mesti dicari tahu dimana ujungnya, menurut saya Pinch Analysis saja tidaklah cukup, karena pada case Amoniak Plant, perlu disusun secara lengkap dalam material & energy balance. Karena itu, jarang sekali ada modifikasi secara signifikan berkaitan dg proses dalam pabrik amoniak, tanpa konsultasi terlebih dahulu dg Licensor pabrik. Cara paling baik, adalah mensimulasikan pabrik secara overall, baik dg simulasi proses, ataupun data acquisition yg sudah disambung dg data reconciliation.

5. Untuk suatu range, kapasitas tertentu, bisa jadi flow cooling water tidak memberikan pengaruh yg signifikan, saya lebih melihat bahwa faktor yg paling signifikan justru ada pada HE Fluida Vs Fluida, terutama yg masuk pada sistem refrigerasi.

6. Benarkah flow rate cooling water tidak pernah berubah? ada 2 jawaban: yang pertama adalah Tidak benar, terutama pada case dimana performance proses mulai menyimpang, karena itu perlu dilakukan manual adjustment. Yang kedua, adalah Benar, ketika, pabrik selama tahun2 tersebut running pada kapasitas/performance proses yg baik, karena itu, seolah-olah dianggap tidak pernah berubah. Saya menduga, hal ini akan sangat berkaitan dg rate operasi pabrik, hanya saja seberapa up and down, hanya desainer awal yg tahu, atau membuat simulasi pabrik secara keseluruhan, untuk mengetahui perubahan ketika dilakukan proses adjustment.

7. Perancangan HE secara individual, antara system Fluida proses VS cooling water dalam case Ammonia Plant, hanya dapat dilakukan dg asumsi, dimana desainer, mesti mengasumsikan flow rate, komposisi, serta T-in, T-out dari fluida proses, sehingga dg menspek T-in dan T-out dari Cooling Water, maka flow dari cooling water akan bisa didapat.
Asumsi tersebut bisa berarti desainer/analizer mesti membuat sebuah design basis. Selalu mulai dari fluida proses, dan jgn mulai dari sisi cooling water.

Begitu dulu yeee..mudah-mudahan ndak bikin tambah ruwet.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia dapat dilihat dalam file berikut :

Share This